Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fadhil Hasan

Fadhil Hasan

Penanganan Covid-19 Tentukan PDB 2021

Senin, 13 Juli 2020 | 14:58 WIB
Triyan Pangastuti ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perekonomian nasional tahun ini masih bisa tumbuh 0,5-0,9% dan berpeluang pulih dengan pola ‘V’ (V-shape) atau menukik tajam dalam tempo singkat, namun kemudian melejit kembali secara cepat.

Kunci pemulihan ekonomi domestic terletak pada kemampuan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dan mencegah gelombang kedua (second wave) pandemi.

Selain itu, pemerintah harus all out mengoptimalkan penyaluran stimulus fiskal dan menggenjot belanja di kementerian dan lembaga (K/L).

Penanganan Covid yang efektif akan menjadi titik balik pemulihan ekonomi seiring meningkatnya keyakinan para pengusaha dan investor untuk memulai bisnis dan investasi.

Sebaliknya, jika pandemic meluas dan jumlah korban terus bertambah, pemulihan ekonomi bisa buyar. Karena itu, demi mencegah gelombang kedua corona, pemerintah harus berani melakukan penegakan hukum (law enforcement) terhadap masyarakat yang melanggar protokol kesehatan. Pelonggaran Pembatasan Sosisal Berskala Besar (PSBB) juga mesti dilakukan secara cermat dan hati-hati.

Hal itu diungkapkan ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hasan, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, peneliti Indef Enny Sri Hartati, dan peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ekonom senior Indef, Fadhil Hasan mengemukakan, penanganan Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian pada kuartal III dan IV-2020 akan menentukan pencapaian ekonomi 2021.

Menurut Fadhil, agar pertumbuhan ekonomi tahun ini positif, pemerintah mesti membenahi langkah-langkah penanggulangan Covid-19 secara tepat dan cepat dengan implementasi yang baik.

Dia menegaskan, jika pemerintah gagal menanggulangi Covid-19 hingga akhir 2020, percuma saja berharap terjadi perbaikan ekonomi pada 2021.

“Kalau tahun ini Covid belum bisa ditanggulangi, upaya untuk membuat ekonomi tumbuh pada 2021 akan siasia,” tandas dia.

Peneliti senior Indef, Enny Sri Hartati menjelaskan, selama ini terkesan ada dikotomi penanganan kesehatan dan ekonomi. Padahal, keduanya harus ditangani secara bersamaan. Pandemi Covid-19, kata Enny, merupakan kejadian luar biasa (extraordinary), sehingga dibutuhkan kebijakan yang tepat, cepat, serta terobosan yang konkret.

“Ini extraordinary, yang dibutuhkan do it, do best, dan harus tepat dan cepat. Kita tetap menyelesaikan problem utamanya, yaitu pandemi, sekaligus beradaptasi juga. Bukan berdamai. Beradaptasi itu kita tetap menjalankan protokol, sambil mencari terobosan untuk survive,” tegas dia.

Cegah Kontraksi

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapan, akibat PSBB dan pembatasan jarak fisik (physical distancing) dalam tiga bulan terakhir, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 hampir dipastikan terkontraksi. “Itu sebabnya, pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV tahun ini harus habis-habisan didorong,” ujar dia.

Airlangga berharap komponen belanja pemerintah berupa belanja modal dan belanja barang di semua K/L meningkat guna mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dibiayai stimulus fiskal.

Optimalisasi belanja, menurut Airlangga, juga ditujukan untuk mencegah resesi dan kontraksi ekonomi pada kuartal III dan IV-2020.

“K/L didorong meningkatkan belanja pada kuartal III dan IV. Kemudian ada program PEN yang penyerapannya akan dipercepat,” papar dia. Sejak kuartal II tahun ini, kata Menko Perekonomian, pemerintah sudah mulai menggelontorkan dana stimulus melalui program PEN. Pemerintah akan menyalurkan dana PEN Rp 300 triliun per kuartal.

“Pemerintah juga mendorong pengucuran kredit oleh perbankan. Itu semua diharapkan menjadi faktor pengungkit,” tutur dia.

Dia menjelaskan, pada dua kuartal terakhir tahun ini diharapkan terjadi peningkatan pertumbuhan PDB kuartalan di atas 5% untuk setiap kuartal. Alhasil, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2020 bisa mencapai setidaknya 1%. “Agar kembali ke jalur positif maka quarter to quarter ini kita memerlukan pertumbuhan sebesar 5,4%,” ucap dia.

Menurut Airlangga Hartarto, salah satu yag dijadikan motor pendorong per tumbuhan ekonomi nasional adalah proyek-proyek pembangunan yang masuk Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk infrastruktur, khususnya jalan tol.

“Pemerintah akan melanjutkan proyek-proyek infrastruktur strategis,” kata dia.

Dia menambahkan, pemerintah juga terus mendorong sektor bisnis yang bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi, yaitu sektor-sektor yang tetap tumbuh di tengah pandemic Covid-19, misalnya industri makanan minuman (mamin), farmasi, alat pelindung diri (APD), logistik, batu bara, serta minyak nabati dan hewani. (ns/az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN