Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (24/4/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (24/4/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Pencairan Stimulus Picu Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 7 Agustus 2020 | 16:10 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id  -  Pencairan stimulus yang cepat menjadi kunci bagi Indonesia keluar dari kondisi ekonomi yang berat. Percepatan penyerapan stimulus ini sekaligus akan memicu pertumbuhan ekonomi.

Pengamat ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Gigih Prihantono menilai, ekonomi nasional yang turun 5,32% yang wajar dan bukan sesuatu yang buruk. Hal ini sudah bisa diprediksi sebelumnya, karena pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian menurun.

Gigih menjelaskan, meski pertumbuhan Indonesia minus, tidak ada inflasi, karena pemerintah langsung bergerak cepat memberikan berbagai bantuan sosial yang membuat daya beli masyarakat tetap terjaga. Gigih optimistis pada kuartal selanjutnya, ekonomi akan tumbuh.

"Saya optimistis kuartal berikutnya ekonomi tumbuh berkisar 1-2%, tetapi hal itu tergantung pada pergerakan pemerintah dalam penyerapan stimulus ekonomi kepada pengusaha, terutama stimulus kepada pengusaha mikro (UMKM) yang akan menghidupkan perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, pemberian kredit harus dilakukan dengan cepat dan tidak boleh dipersulit," ujar dia di Jakarta, Jumat (7/8/2020). 

Total stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp 695,2 triliun. Untuk mengatasi lambatnya realisasi anggaran, pemerintah mengalihkan Rp 238,9 triliun dari total anggaran PEN menjadi bantuan sosial (bansos) untuk mendorong perekonomian. 

Peneliti Indef Berli Martawardaya menilai, perekonomian menurun bukan berarti kehancuran atau kebangkrutan, seperti yang terjadi di Yunani beberapa tahun lalu. Masyarakat tidak perlu panik dengan segala kemungkinan yang terjadi, termasuk resesi. 

Berli optimistis perekonomian Indonesia bisa bangkit, jika pemerintah melakukan langkah yang cepat dan tepat.

"Yang perlu dilakukan saat ini adalah pemberian bantuan yang tepat sasaran. Kalau bisa tambah nominal bantuan untuk masyarakat agar daya beli terjaga," ucap dia.

Berli juga meminta pemerintah tidak berpikir untuk sesegera mungkin mengembalikan pertumbuhan ekonomi. Sebab, yang perlu dilakukan saat ini adalah memberikan  perlindungan sosial bagi masyarakat dan menjamin kesehatan mereka.

"Perlindungan sosial artinya memberikan bantuan yang tepat sasaran dan menjamin kesehatan masyarakat yang paling penting, karena jangan sampai perekonomian naik, tetapi jumlah orang yang terpapar Covid-19 makin tinggi. Kalau begitu nantinya turun lagi perekonomian kita," kata dia. 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN