Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salamudin Daeng, Pakar ekonomi politik

Salamudin Daeng, Pakar ekonomi politik

Pengamat Dukung Percepatan Transisi Energi di PLN

Rabu, 13 April 2022 | 08:22 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pakar ekonomi politik Salamudin Daeng menyarakan dua hal yang harus dilakukan PLN untuk mempercepat transisi energi. Langkah pertama yaitu menggeser konsep take or pay menjadi take and pay untuk energi fosil dari pembangkit swasta. Sementara konsep take or pay diterapkan untuk produksi enerfi terbarukan, termasuk PLTS Atap.

“Batu bara memiliki dampak terhadap masa depan lingkungan. Pemulihan hutan harus dilakukan terutama akibat tambang-tambang sehingga harus dilakukan reforestasi. Yang kedua, ada peraruran serius untuk bauran energi di PLN,” kata Salamudin dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (13/4).

Baca juga AESI Minta Pemanfaatan PLTS Atap di Sektor Industri Tak Dibatasi

Pemerintah, kata dia, harus komit saat COP 26 di Glasgow pada tahun 2021 yang merupakan kelanjutan dari Paris Agreement 2015 lalu mengenai penurunan emisi. Kementerian ESDM, Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan, lanjut dia, tidak boleh setengah hati menjalankan niatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menargetkan energi terbarukan mencapai 23 persen pada tahun 2025 serta Net Zero Emission di tahun 2060.

Dia mengatakan, Indonesia menjadi sorotan dunia karena menjadi presidensi G20 yang kali ini memiliki tiga pembahasan utama yaitu recovery ekonomi, digitalisasi, dan agenda transisi energi.

Baca juga Insentif PLTS Atap Bantu Percepatan Target Bauran EBT Nasional

Salamudin berpendapat penyelenggaraan di Bali akan membuat dorongan utama dari negara internasional ke Indoensia adalah transisi energi. Terlebih Indonesia secara khusus telah diberikan predikat Climate Superpower oleh Inggris sehingga menjadi tumpuan dunia untuk persoalan kerusakan lingkungan dan transisi energi.

“Karena Indonesia sangat beragam sumbernya energi terbarukan, termasuk surya,” kata Salamudin.

DIrinya mengingatkan, di masa mendatang negara manapun tak dapat menolak transisi energi di tengah rencana penghapusan energi fosil dan dorongan menuju net zero emisi melalui elektrisasi. Pada tahun 2023, ucapnya, bank-bank dunia tidak akan memberikan peminjaman untuk aktivitas energo fosil.

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN