Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Defiyan Cori, Ekonom Konstitusii. Sumber: youtube

Defiyan Cori, Ekonom Konstitusii. Sumber: youtube

Pengamat: PLN Harus Didorong Beri Pelayanan Terbaik bagi Masyarakat

Senin, 24 Agustus 2020 | 23:52 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Ekonom Konstitusi Defiyan Cori mengapresiasi kinerja PT PLN yang baik meski dengan beban yang tidak ringan. Kinerja PLN ini perlu terus didorong agar BUMN energi itu mampu memberikan pelayanan terbaik ke masyarakat dan pemegang sahamnya (negara).

“Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, publik tentu menyampaikan simpati dan mengapresiasi kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT PLN yang baik meski dengan beban yang tidak ringan,” kata Defiyan dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8).

Menurut dia, dengan keterbukaan PLN soal keuangan dan beban utang yang cukup besar melalui penjualan yang secara bertahap, PLN dapat memenuhi kewajiban konstitusi ekonomi-nya. Kewajiban itu, antara lain melakukan pembayaran utang jatuh tempo tanpa melakukan IPO seperti yang direncanakan Menteri BUMN Erick Tohir pada sub holding Pertamina. Selain itu, memberikan dividen ke kas Negara dan melakukan kewajiban pelayanan pada masyarakat (Public Service Obligation/PSO) semakin baik.

Sebagaimana diketahui berdasarkan Laporan Keuangan PLN pada Semester I Tahun 2020, telah menunjukkan bukti perseroan dapat membukukan kenaikan penjualan listrik sebesar 0,95% atau 1,129 GWh dari 118,522 GWh pada semester 1 tahun 2019 menjadi 119,651 GWh pada Semester I Tahun berjalan.

Implikasinya Pendapatan dari Penjualan Listrik PLN masih bertumbuh 1,5% atau Rp1,96 triliun dari Rp133,45 triliun pada semester 1 tahun 2019 menjadi Rp135,41 triliun pada semester tahun berjalan. Pertumbuhan ini diperoleh dengan tarif tenaga listrik yang tidak mengalami perubahan sejak 2017.

Walaupun sempat terjadi kegaduhan di masyarakat karena lonjakan tagihan listrik di tingkat konsumen, terdapat trade off atau imbal balik (di PLN saat pandemi ini). :Walaupun saat ini konsumsi BBM menurun, tapi, mungkin laba dan harga bagi konsumen akan lebih wajar kalau sektor hulu PLN tak terbebani oleh penguasaan swasta atas batu bara sebagai bahan baku,” katanya.

Dalam siaran resmi PLN tersebut disampaikan, bahwa pendapatan dari penjualan listrik PLN bertumbuh 1,5% menjadi Rp1,96 triliun dari Rp133,45 triliun pada semester 1 tahun 2019 menjadi Rp135,41 triliun pada semester tahun berjalan. Semua ini diperoleh PLN dengan tarif tenaga listrik yang tidak mengalami perubahan sejak 2017.

Sepanjang semester I Tahun 2020, Perseroan mampu membukukan pendapatan usaha Rp139,78 triliun meningkat 1,6% dibandingkan Semester I Tahun 2019 lalu. Sementara pendapatan sebelum bunga, pajak, dividen dan lain-lain atau EBITDA perusahaan Semester I tahun 2020 senilai Rp35,29 triliun dengan EBITDA Margin sebesar 21,4%.

“Hasil ini cukup menunjukkan, bahwa jajaran direksi BUMN PLN memang bekerja secara bersungguh-sungguh ditengah musibah pandemi covid 19 yang sudah berjalan 6 bulan,”katanya.

Selain pertumbuhan pada Semester I Tahun 2020, yang berhasil dicapai sebesar 1,5 persen atau 119.651 GWh dibanding semester I Tahun 2019, atau sejumlah Rp 134,5 triliun. Maka, pertumbuhan jumlah pelanggan juga cukup baik dan menunjukkan kinerja positif. Peningkatan penjualan listrik PLN juga didukung pertumbuhan jumlah pelanggan, dan sampai akhir Juni 2020 telah mencapai 77,19 juta atau bertambah sebanyak 3,59 juta pelanggan dari posisi akhir Juni 2019 sebesar 73,6 juta pelanggan.

Untuk meringankan beban kelompok masyarakat yang paling terdampak covid-19, Pemerintah memberikan stimulus dalam bentuk keringanan biaya listrik kepada pelanggan PLN daya 450 VA dan 900VA bersubsidi. Program pembebasan tagihan dan keringan pembayaran tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat yang paling terdampak pandemi. Sesuai dengan surat Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui surat No.707/26/DJL.3/2020 tanggal 31 Maret 2020.

Sementara itu, pertumbuhan infrastruktur ketenagalistrikan sampai dengan Juni 2020, perusahaan telah menambah kapasitas terpasang pembangkit sebesar 1.285,2 Mega Watt (MW), jaringan transmisi khususnya untuk evakuasi daya pembangkit yang telah beroperasi mengalami peningkatan sepanjang 950,9 kilometer sirkuit (kms), dan penambahan kapasitas Gardu Induk sebesar 2.890 Mega Volt Ampere (MVA).

“Pembangunan infrastruktur ini disatu sisi baik, sebab memperluas cakupan atau jangkauan pelayanan PLN kepada masyarakat dapat dilakukan dengan kebijakan pemerintah. Disisi yang lain, tanpa memperhatikan konsumen yang loyal dan selama ini juga luput dari kebijakan Menteri ESDM, maka lambat laun konsumen bisa saja meninggalkan produk/jasa PLN, juga BUMN yang lainnya,” ungkapnya.

Disamping itu, upaya efisiensi biaya operasional terus dilakukan khususnya biaya pemakaian bahan bakar, untuk periode Semester I Tahun 2020 lebih rendah dibandingkan periode Semester I Tahun. 2019. Biaya Pokok Produksi/ BPP Semester I Tahun 2020 adalah Rp1.368 per kWh yang lebih rendah Rp21 dibanding BPP di periode yang sama pada Tahun 2019 sebesar Rp1.389 per kWh.

“Diharapkan kinerja PLN ini dapat menginspirasi jajaran Direksi BUMN-BUMN lain agar kemandirian ekonomi bangsa saat 75 Tahun Proklamasi Kemerdekaan terwujud,” ujar Defiyan.

Menurut dia, harus ada perencanaan strategis BUMN dengan berorientasi pada kepuasan konsumen atau pelanggan yang notabene adalah masyarakat sebagai bagian dari pemilik BUMN, selain pemerintah.

“Pelayanan kepada konsumen adalah bagian penting dalam mempertahankan keberlanjutan usaha atau bisnis inti BUMN dalam peta persaingan ekonomi dunia. BUMN-BUMN yang berorientasi pada konsumen lainnya, seperti Garuda Indonesia, Pelayaran Indonesia (Pelni), Kereta Api Indonesia, DAMRI bahkan Pertamina harus mampu mengelola dan merawat hubungan baik dengan konsumen yang sekaligus pemegang saham BUMN,” katanya.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN