Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lahan gambut. Foto ilustrasi: istimewa

Lahan gambut. Foto ilustrasi: istimewa

Pengelolaan Lahan Gambut Harus Didukung Kegiatan Penelitian

Senin, 26 April 2021 | 10:41 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Kegiatan penelitian dan pengembangan serta inovasi yang dilakukan Indonesia telah banyak  menjadi rujukan internasional. Hal tersebut mendukung berbagai upaya untuk mendorong  pengelolaan gambut berkelanjutan.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto mengatakan tantangan dalam pengelolaan gambut sangat kompleks dan dinamis, pengelolaan gambut harus menyeimbangkan antara konsevasi keanekaragaman hayati ekosistem gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu yang perlu didorong Litbang terkait pengelolaan gambut oleh masyarakat setempat terutama soal penyiapan dan penataan lahan, pengelolaan kesuburan tanah dan pengelolaan air. semuanya harus berimbang.

“Ini penting mendapatkan perhatian dalam green inovasi dan green technology dengan arah kebijakan pengelolaan lahan dan budidaya tanaman di lahan gambut,” ujar dia dalam Webminar HGI di Jakarta, Senin (26/4).

Praktik pengelolaan gambut dalam perspektif kearifan lokal perlu dipadukan dengan paket teknologi inovatif berbasis riset untuk mmeperkuat pengelolaan gambut secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI), Supiandi Sabiham mengatakan banyak peneliti Indonesia yang menghasilkan penelitian gambut dengan kualitas tinggi, penelitian yang dihasilkan harus mampu menyaingi hasil penelitian dari negara lain. Sebagian dari hasil penelitiannya sudah dipublikasikan di jurnal internasional dan cukup mendapatkan perhatian.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI), Suwardi mengatakan, Indonesia sering dituduh hanya bisa merusak dan kurang  mampu untuk memelihara gambut.Tetapi tuduhan tersebut sering tidak benar setelah dilakukan penelitian dengan baik.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan  Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanthi mengatakan jika pengelolaan gambut sudah benar maka akan menurunkan emisi dan tentunya mencegah pemanasan global.

Isu pemanasan global dan perubahan iklim yang  sudah menjadi perhatian global sejak Rio Summit pada 1992 telah mencapai progress pada Paris Agreement pada 2015 yang bertujuan untuk mencegah kenaikan suhu global kurang dari dua derajat celcius dan  menuju 1,5 derajat celcius pada tahun 2100.

Hal ini merujuk pada laporan  Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) yang kemudian diperkuat juga dengan IPCC special report global warming pada tahun 2018 yang merekomendasikan adanya upaya global untuk menuju 1,5 derajat celcius mengingat dampak dan biaya yang ditimbulkan akan lebih rendah jika dibandingkan upaya 2 derajat celcius.

IPCC juga merekomendasikan pentingnya global net zero pada tahun 2050 dan kerjasama internasional khususnya untuk mendukung negara negara berkembang mampu mencapai kondisi net zero emission.

Berbagai negara termasuk Indonesia sudah melakukan upaya menuju arah tersebut dengan menerapkan prinsip mempunyai komitmen yang sama tapi dapat menyelenggarakan komitmennya dengan cara yang  berbeda tergantung dengan kondisi dan kapasitas nasional masing masing.

Kenapa prinsip ini menjadi penting karena sudah berdasarkan azas keadilan dan khususnya bagi negara berkembang yang diberikan ruang atau kesempatan untuk maju lebi baik lagi.

“Di tingkat nasional, belakangan ini Indonesia menghadapi bencana hidrometalogis yang sangat terkait dengan perubahan iklim seperti banjir, longsor, kenaikan muka air laut,” ujar dia.

Bencana tersebut sangat merugikan dari aspek ekonomi, aspek lingkungan hidup dan kesehatan, maka dari itu,  bagi Inodnesia, adaptasi perubahan iklim sama pentingnya dengan mitigasi perubahan iklim dan merupakan elemen yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks pengendalian perubahan iklim.

Adaptasi perubahan iklim menjadi lebih mudah dan ringan apabila sumber dari pemanasan global yaitu emisi gas rumah kaca dapat diturunkan oleh seluruh negara di dunia, di dalam NDC, Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan dan mitigasi perubahan iklim dengan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional.

Sektor kehutanan merupakan penyumbang penurunan emisi gas rumah kaca yang tertinggi sebesar 17,2% yang kemudian diikuti oleh sektor energi, limbah, pertanian dan industrial product used.

Sebagai gambaran, penurunan gas emisi rumah kaca nasional yang sudah dipublikasikan pada tahun 2019 adalah sebesar 241,72 juta  ton CO2 dengan kontribusi sektor kehutanan sebesar 68% dari total penurunan emisi gas rumah kaca tersebut.

Indonesia telah melakukan analisa tentang net zero emission yang diarahkan dengan mendapatkan peluang optimistis dan diharapkan terjadi pada 2060 atau lebih cepat melalui upaya dan kerja keras misalkan adanya picking emisi gas rumah kaca pada 2030, dan adanya peningkatan energi terbarukan, dan menerapkan secara luas upaya pengelolaan sampah seperti pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik.

Dalam kesempatan perayaan hari bumi internasional, KLHK mengajak semua masyarakat untuk secara bersama melakukan upaya bersama dalam penurunan emisi gas rumah kaca baik secara individu seperti menghemat penggunaan air, memilah sampah, menggunakan transportasi umum.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN