Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu contoh rumah subsidi. Foto: PUPR

Salah satu contoh rumah subsidi. Foto: PUPR

Pengembang Subsidi Mulai Menjerit

Imam Mudzakir, Rabu, 4 September 2019 | 21:47 WIB

JAKARTA, investor.id - Pengembang perumahan subsidi mulai menjerit, setelah dana subsidi pemerintah berupa Fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) kuota telah habis dan tidak bisa dilakukan KPR (kredit pemilikan rumah)

“Pengembang ini mayoritas 80% adalah pengembang rumah subsidi, sudah mulai menjerit dan kebingungan, karena kuota untuk rumah subsidi FLPP sudah tidak habis dan solusinya belum jelas,” ujar Ketua DPD Himperra (Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat ) DKI Jakarta, Aviv Mustaghfirin, di Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut Aviv, rumah subsidi aturan ketat dari pemerintah, dimana rumah yang harus di-KPR kepada konsumen adalah rumah yang sudah jadi dan siap digunakan. Tetapi ketika sudah jadi dan sudah ada konsumen. Tiba-tiba gagal untuk KPR, karena kuota tidak ada.

“Padahal pengembang sudah mengeluarkan cashflow dananya untuk bangun, gaji pegawai, gaji kontraktor, dan juga beli tanah. Tetapi tiba tiba tidak bisa di KPR karena tidak ada anggaranya. Tentu pengembang menjerit karena ini,” kata dia.

Ia berharap, pemerintah baik Kementerian PUPR sebagai pelaksana teknis dan juga Menteri Keuangan beserta perbankan untuk membantu pengembang dan mencari solusi, agar para pengembang jangan berhenti di tengah jalan dan bila kelamaan bisa menjerit karena kehabisan dananya.

“Selama satu setengah bulan ini, pengembang menjerit terutama di daerah daerah, karena rumah sudah jadi tetapi tidak bisa KPR. Tentu ini sangat berat buat kami,” ujarnya.

Ia juga meminta kepada perbankan yang menyalurkan dana FLPP untuk rumah subsidi untuk mempermudah proses KPR yang selama ini semakin sulit dilakukan. Karena persoalan dan persyaratannya sangat sulit dilaksanakan.

Sekjen Himperra Ary Priyono mengatakan, target Himperra sendiri untuk rumah subsidi ini akan membangun 70 sampai 80 ribu unit rumah sampai akhir tahun. “Seharusnya sampai saat ini, bila dana subsidi lancar sudah ada KPR sampai 60 ribu unit lebih. Tetapi kenyataan banyak kendala,” kata Ary.

Setiap daerah banyak pengembang yang gagal untuk KPR, terutama di daerah Sumtera yang mengeluhkan rumah yang sudah terbangun tidak bisa KPR. Karena kuota FLPP sudah tidak ada alias habis. “Temen temen kita di daerah banyak yang gagal untuk KPR, karena tidak ada kuotanya, padahal rumah sudah siap dan konsumen juga sudah siap tetapi tidak bisa dilakukan,” katanya.

Karena itu, pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini. Sehingga program presiden Jokowi mewujudkan program sejuta rumah bisa tercapai dengan anggaran yang cukup.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN