Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
FGD Sawit Berkelanjutan Vol 8, bertajuk Peranan BPDPKS Mendorong Petani Kelapa Sawit Suplai Bahan Baku Biodiesel, Kamis (10/6/2021)

FGD Sawit Berkelanjutan Vol 8, bertajuk Peranan BPDPKS Mendorong Petani Kelapa Sawit Suplai Bahan Baku Biodiesel, Kamis (10/6/2021)

Pengembangan Rantai Pasok Biodiesel Harus Libatkan Petani

Minggu, 13 Juni 2021 | 12:31 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Sektor perkebunan kelapa sawit terus tumbuh positif di masa pandemi dan operasional perkebunan tetap berjalan lancar. Perkebunan kelapa sawit juga mampu menjawab isu Sustainable Development Goals (SDGs). Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) akan terus berupaya mendorong perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Plt Kadiv Lembaga Kemasyarakatan Civil Society BPDPKS, Sulthan Muhammad mengatakan untuk menjaga program Energi Baru dan Terbarukan (EBT) melalui mandatori Biodiesel, pemerintah telah menyesuaikan tarif Pungutan Ekspor melalui PMK 191/2020, karena itu untuk kebutuhan program mandatori biodiesel yang terus meningkat setiap tahun, perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas kebun sawit agar kebutuhan bahan baku biodiesel sawit dapat terpenuhi di masa mendatang.

BPDPKS memproyeksikan produksi CPO dan stok tahun 2021-2025 mencapai 52,30 juta metrik ton-57,61 juta Metrik ton, rata-rata naik sebesar 4% per tahun, sementara kebutuhan Biodiesel untuk program B30 tahun 2021-2025 diperkirakan sebesar 8,34 juta Metrik ton-9,66 juta metrik ton dengan rata rata naik sebesar 5% per tahun.

Dengan konsumsi domestik yang stagnan, Indonesia memerlukan produk hilir yang mampu menyerap stok CPO yang tinggi, ke depan pihaknya akan mendorong Palm Oil for Renewable Energy, Next Program yaitu melibatkan petani dalam rantai pasok biodiesel sawit.

Selain pengembangan biodiesel dengan teknologi Fatty Acid Methly Ester (FAME) juga sedang dikembangkan biodiesel berbasis hydrogenisasi atau biohidrokarbon yang bisa menghasilkan green diesel, green gasoline dan green fuel jet/avtur.

“Pengembangan ini akan melibatkan petani dan akan menggunakan teknologi yang bisa diimplementasikan dengan skala tertentu dan menguntungkan petani kelapa sawit,” ujar dia dalam acara Forum Diskusi Sawit bagi Negeri, di Jakarta, belum lama ini.

Saat ini pengembangan biohidrokarbon masuk dalam program Industrial Vegetable Oil dimana pilot project yang dilakukan berada di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan dan merupakan hasil kerjasama dengan Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia (MBI), PT Kemurgi Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Koordinator Investasi dan Kerjasama Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Elis Heviati mengatakan penerapan program mandatori biodiesel Indonesia dilatarbelakangi karena produksi minyak sawit mentah Indonesia cukup besar, dimana pada tahun 2020 produksinya telah mencapai 52 juta ton.

Tutupan lahan sawit seluas 16,38 juta hektar, sebanyak 40% dimiliki pekebun sawit (petani sawit) maka dari itu, program biodiesel juga harus melibatkan petani.Dalam grand strategy energi nasional pada 2030, pemerintah akan tetap mempertahankan kebijakan B30 dan memaksimalkan produksi Bahan Bakar Nabati dari biodiesel.

Ke depan, pemanfaatan biodiesel tidak hanya sebatas untuk biodiesel pada perusahaan besar saja tetapi didorong berbasis kerakyatan dan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen termasuk mendorong pemanfaatan by product biodiesel serta pemanfaatan hasil sawit non CPO.

Pengembangan pabrik minyak nabati industrial dan bensin sawit dengan bahan baku dari TBS sawit rakyat juga harus didorong, dimana biaya produksi lebih murah 15% dan harga buah tandan lebih stabil.

Perwakilan dari Traction Energy Asia, Ricky Amukti mengatakan pekebun mandiri kelapa sawit dilibatkan dalam rantai pasok biodiesel sangat dimungkinkan terlebih pekebun sawit mandiri menguasai 40% dari total luas perkebunan sawit Indonesia, selama ini mereka tidak pernah mendapatkan manfaat dari program biodiesel secara langsung.

Keterlibatan pekebun sawit mandiri dalam rantai pasok produksi biodiesel akan membantu meningkatkan kesejahteraan dan memberantas kemiskinan termasuk mengurangi resiko deforestasi dan menjaga hutan alam.
Penggunaaan TBS kelapa sawit yang dihasilkan dari lahan pekebun sawit mandiri dapat mengurangi emisi dari keseluruhan daur produksi biodiesel, sampai saat ini kondisi rantai pasok TBS dari petani ke pabrik kelapa sawit bervariasi.

“Panjangnya rantai pasok TBS mengurangi keuntungan petani swadaya, dengan mandatori biodiesel ini bisa menjadi momentum dalam upaya perbaikan rantai pasok dari petani,” ujar dia.

Biasanya Pabrik Kelapa Sawit jarang menempatkan pekebun mandiri sebagai pemasok bahan baku terkait karakteristik usahanya dimana rata rata, skala usaha pekebun mandiri masih terbatas dimana rata rata luas lahan dibawah 3 hektar dan modal kerja usaha terbatas, pengelolaan manajemen usaha masih tradisional dan tingkat produktivitas rendah.

Hambatan eksternal yang dihadapi petani pekebun mandiri adalah akses pasar terbatas dan harga jual TBS tidak sebanding biaya pokok produksi, satu satunya unutk menjamin keberlangsungan usaha pekebun mandiri dengan memberikan jaminan pasar.
Ke depannya, pengadaan TBS dari pekebun mandiri yang dilakukan PKS sebaiknya menempatkan pekebun mandiri sebaga pelaku rantai pasok CPO melalui kerja sama kemitraan berbasis karakteristik usaha.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN