Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan bank menghitung uang di sebuah bank di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan bank menghitung uang di sebuah bank di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Penguatan Rupiah Didorong Sentimen Domestik Terkait Transisi PSBB DKI

Triyan Pangastuti, (elgor)  Sabtu, 6 Juni 2020 | 11:55 WIB

JAKARTA, investor.id –  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (5/6) siang menguat dibandingkan kemarin. Mengacu data Bloomberg, rupiah pada pukul 12.25 WIB di pasar spot di posisi Rp 13.885 per dolar AS atau menguat 210 poin (1,4%) dari penutupan sebelumnya.

Sedangkan di kurs tengah Bank Indonesia atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Jumat (5/6), kurs rupiah terhadap dolar AS dipatok di Rp 14.100.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berlanjutnya penguatan rupiah disebabkan sentimen domestik menyusul penerapan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang diharapkan mampu mendorong produktivitas kegiatan ekonomi.

Josua Pardede. Foto: IST
Josua Pardede. Foto: IST

“Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi normal baru dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, maka aktivitas perekonomian pada kuartal III tahun 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020 yang diperkirakan akan mengalami kontraksi,” ujar dia seperti dikutip dari Antara, Jumat (5/6).

PSBB Jakarta diperpanjang untuk Masa Transisi ke new normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao
PSBB Jakarta diperpanjang untuk Masa Transisi ke new normal. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Selain itu, dari sisi eksternal, mata uang “greenback” dolar AS juga telah melemah 1,56% dalam sepekan terakhir.

Pelemahan mata uang paling berpengaruh di dunia itu disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di berbagai negara Asia.

“Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen.  Penguatan lebih lanjut dari Rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India, akibat adanya penurunan peringkat (downgrade rating) dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunnya prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif,” ujar Josua. (ant/jn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN