Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Sebuah kawasan industri. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

TERKEREK FDI DAN PERANG DAGANG

Penjualan Lahan Industri Diprediksi Melonjak 75%

Harso Kurniawan, Jumat, 13 September 2019 | 16:47 WIB

JAKARTA, investor.id – Setelah terpuruk sejak 2012, penjualan lahan industri di Jabodetabek dan Karawang diprediksi bangkit tahun ini, dengan kenaikan 50-75% menjadi berkisar 300-350 ha, dibandingkan tahun lalu seluas 200 ha. Periode 2012-2016, penjualan lahan industri menyusut dari 1.220 ha menjadi 176 ha, lalu stagnan di level 200 ha pada 2017 dan 2018.

Kenaikan penjualan lahan industri ditopang stabilnya kondisi ekonomi nasional setelah pemilu presiden dan legislatif serta imbas perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Perang dagang dua raksasa ekonomi itu telah mendorong sebagian perusahaan Tiongkok merelokasi pabrik ke Indonesia.

Sejumlah kalangan menilai, kenaikan arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia juga mengerek penjualan lahan industri. Per Juni 2019, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi penanaman modal asing (PMA) tumbuh 4% menjadi Rp 212,8 triliun. Sedangkan realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) naik 16,3% menjadi Rp 182 triliun.

Total investasi pada periode ini tumbuh 9,4% menjadi Rp 395,6 triliun. Pada periode tersebut, penjualan lahan industri mencapai 150 ha, naik 123% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Realisasi PMA dan PMDN per sektor
Realisasi PMA dan PMDN per sektor

Karawang-Bekasi Favorit

Sementara itu, kalangan analis menilai, kawasan industri (KI) di Karawang dan Bekasi akan menjadi pilihan investor. Alasannya, dua wilayah ini paling pas menjadi hub manufaktur Indonesia, karena memiliki infrastruktur bagus dan lokasi strategis. Apalagi, Jawa masih menjadi pasar terbesar produk manufaktur KI di Subang, Jawa Barat, juga cukup menarik, seiring rencana pemerintah membangun Pelabuhan Patimban dan adanya tol Cikampek-Palimanan (Cipali). Upah buruh di kawasan itu pun masih kompetitif, dibandingkan Bekasi dan Karawang.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar menuturkan, sebenarnya, para investor asing sejak tahun lalu hingga pertengahan tahun ini sudah menyurvei lahan industri di Indonesia. Mereka juga sudah berdiskusi dengan para pengembang KI. Namun, para investor belum merealisasikan pembelian, karena ingin melihat stabilitas politik setelah pemilu.

Ternyata, dia menegaskan, pilpres berlangsung aman. Itu artinya, program-program pemerintah dapat dilanjutkan dalam lima tahun ke depan. Hal ini menambah keyakinan para investor. Imbasnya, dalam tiga bulan ke depan, para investor diprediksi gencar memborong lahan di KI.

"Jadi, tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Saya yakin penjualan bisa berkisar 300-350 ha hingga akhir tahun," kata Sanny kepada Investor Daily Jakarta, Kamis (12/9). 

Sanny Iskandar, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Foto: Investor Daily/Emral
Sanny Iskandar, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Foto: Investor Daily/Emral

Dia menilai, KI di Jabodetabek dan Karawang masih menjadi primadona investor. Namun, beberapa perusahaan padat karya asing mulai melirik Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adapun KI di luar Jawa diisi oleh industri berbasis sumber daya alam (SDA) dan mineral.

Sanny menambahkan, investor asing masih didominasi oleh empat negara Asia, yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. "Kebanyakan memang dari Asia. Khusus investor Tiongkok, perang dagang membuat beberapa perusahaan merelokasi industri ke Indonesia," ujar dia.

Meski tahun ini naik, menurut Sanny, penjualan lahan industri masih belum kencang. Soalnya, pada 2011-2012, penjualan lahan industri bisa mencapai 1.200 ha. Selepas itu, penjualan lahan industri terus menurun dari 800 ha hingga 200 ha tahun lalu.

Dia menjelaskan, luas lahan industri yang dibeli bervariasi, tergantung sektor industrinya. Ada industri yang membutuhkan lahan banyak, seperti otomotif, tetapi ada juga yang sedikit.  

Perfoma penjualan lahan industri, kata Sanny, tak lepas dari sejauh mana ketertarikan investor untuk membangun manufaktur di Indonesia. Pada titik ini, masalah daya saing manufaktur mencuat. Daya saing suatu industri ditentukan banyak faktor, salah satunya birokrasi perizinan.

"Makanya, dengan sistem OSS (Online Single Submission), birokrasi bisa lebih baik, transparan, mudah, dan cepat. Ini baru dari segi perizinan," ujar dia. 

Sanny Iskandar menambahkan, daya saing juga ditentukan sistem logistik. Itu artinya, pemerintah harus memperbaiki logistik, seperti pengangkutan dan utilitas, misalnya harga gas dan listrik industri.

Kualitas sumber daya manusia (SDM), kata Sanny, juga harus diperbaiki untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur. Itu sebabnya, Undang-Undang (UU) No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan harus direvisi. UU ini mencakup semua aspek, mulai pengupahan, tenaga kerja asing, hingga alih daya (outsourcing).

Hal lainnya, demikian Sanny, adalah kesiapan SDM dalam bekerja dan produktivitas. "Jadi, upah bukan satu-satunya masalah. Yang tak kalah penting adalah produktivitas karyawan," tandas dia.

Sanny menyambut positif langkah pemerintah mendorong kualitas SDM melalui sekolah vokasi. Dia berharap, melalui vokasi, terjadi keterhubungan (link and match) antara pendidikan dan kebutuhan industri.

Selain itu, pemerintah perlu merilis insentif perpajakan dan memastikan keamanan serta ketertiban di KI memberikan kenyamanan bagi industri. "Makanya, kawasan industri masuk dalam objek vital nasional, sehingga harus dilindungi dari segi keamanan," ucap dia.

Alasan strategis Kaltim jadi lokasi ibu kota baru
Alasan strategis Kaltim jadi lokasi ibu kota baru

Ibu Kota Baru

Soal pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur (Kaltim), Sanny Iskandar menerangkan, pemerintah harus memperhatikan orientasi jangka panjang, yang berlandaskan pemerataan pembangunan dalam konteks keseluruhan wilayah Indonesia. Pemindahan ibu kota ke Kaltim cukup tepat. Sebab, dari sisi geografis, Kaltim berada di tengah Nusantara.

“Pemindahan ibu kota juga dapat menggeser pola pikir kita selama ini yang kebanyakan hanya berorientasi pada Jawasentris menjadi Indonesiasentris dan berorientasi pada upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar dia.

Dari sisi kemaritiman, menurut Sanny, pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan akan menumbuhkan pusat-pusat pelabuhan dan logistik baru. Ini sejalan dengan konsep pengangkutan barang melalui tol laut yang telah dirintis Presiden Jokowi pada periode pertamanya.

Skema pembiayaan pembangunan ibu kota baru.
Skema pembiayaan pembangunan ibu kota baru.

Penyebaran Industri

Secara terpisah, Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito mengungkapkan, secara tata ruang, semua pihak melihat pemindahan ibu kota bertujuan menggerakkan pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa.

Dengan pusat pemerintahan di Kalimantan, KI di luar Jawa dan Kalimantan akan tumbuh. Selain itu, distribusi industri tidak lagi berkonsentrasi di Jawa. “Pemindahan ibu kota akan memicu penyebaran industri, karena pembangunan tidak di Jawa saja. Lalu infrastruktur nantinya akan berimbang. Kalimantan pasti akan didorong ke sana juga,” ujar dia.

Terkait kekhawatiran akan sulitnya melakukan perizinan karena jarak antara pusat bisnis dan pemerintahan yang jauh, Warsito menjelaskan, seiring berjalannya waktu, sistem perizinan akan lebih baik. Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission (OSS) yang saat ini belum sempurna, akan membaik dalam beberapa tahun ke depan. “Dalam 1-2 tahun ke depan, pasti sistem itu akan berjalan baik dan bisa menyerap aspirasi pelaku usaha,” tutur dia.

Ditopang FDI

Di pihak lain, analis Maybank Kim Eng Securities Aurellia Setiabudi memprediksi FDI meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, saat ini sejumlah pemain mobil listrik serta logistik dan pergudangan mengincar lahan industri di Indonesia untuk mendirikan pabrik. Ini diikuti paket insentif dari pemerintah untuk menarik FDI demi memompa pertumbuhan ekonomi.

FDI, kata dia, menjadi pilihan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor berbasis komoditas. Pemerintah juga telah merilis kebijakan signifikan untuk mereindustrialisasi Indonesia. Pemerintah berencana membuat Indonesia basis produksi beberapa industri, seperti otomotif, barang konsumsi, dan tekstil.

Sektor lahan industri, menurut Aurellia Setiabudi, akan terimbas langsung lonjakan FDI, sebelum hal itu menjalar ke ekonomi secara keseluruhan. Pemain KI akan langsung meraup berkah FDI, karena pemerintah meminta pembangunan pabrik berada di KI.

Seiring dengan itu, dia memprediksi penjualan lahan industri tahun ini naik 50% menjadi 300 ha. Kenaikan ini bakal digerakkan oleh pembelian lahan sektor otomotif serta logistik dan pergudangan, seiring booming industri perdagangan secara elektronik (e-commerce).

“Kedatangan suatu perusahaan besar ke Indonesia akan diikuti oleh rantai pasokannya. Ini tentunya akan menopang pertumbuhan penjualan dalam beberapa tahun,” kata dia.

Greenland International Industrial Center. Foto: PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)
Greenland International Industrial Center. Foto: PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)

Saham pilihan Maybank di sektor KI adalah PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Kedua emiten itu berada di lokasi strategis masing-masing di Cibitung dan Cikarang, Bekasi Jawa Barat, serta memiliki cadangan lahan melimpah.

Dia merekomendasikan buy saham DMAS dan BEST dengan target harga masing-masing Rp 360 dan Rp 400. Pada perdagangan kemarin, saham DMAS dan BEST ditutup masing-masing Rp 300 dan Rp 294.

Analis Trimegah Sekuritas Adi Prabowo mengungkapkan, prospek KI di Subang juga menjanjikan, seiring pembangunan Pelabuhan Patimban. Tahap awal, Patimban akan dikembangkan menjadi terminal ekspor mobil. Kini, pemerintah mencari operator pelabuhan itu. Namun, operator pelabuhan baru mau investasi jika sudah ada pemain otomotif mendirikan pabrik di kawasan itu.

“Jadi, mengapa pemerintah tidak mengeluarkan insentif pajak untuk menarik pemain otomotif masuk Subang?” kata dia dalam laporan riset, belum lama ini.

Selain itu, dia menuturkan, upah minimum di Subang hanya Rp 2,7 juta per bulan, lebih rendah dari Karawang Rp 4,2 juta. Ini akan menjadi daya tarik investor, selain dukungan infrastruktur berupa Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, dan Tol Cipali.

Salah satu proyek Surya Semesta. Foto: DEFRIZAL
Salah satu proyek Surya Semesta. Foto: DEFRIZAL

Menurut Adi Prabowo , PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) akan diuntungkan oleh peningkatan permintaan lahan industri di Subang. Sebab, lahan perseroan seluas 400 ha di KI Subang City of Industry siap dimonetisasi pada 2020. Harga jual lahan di kawasan itu mencapai US$ 100 per m2, lebih murah dari Suryacipta City of Industry Karawang sebesar US$ 130 per m2.

“Sumber kami menyebutkan, sudah ada pemain Jepang dan Korsel yang berniat membeli lahan Suryacipta di Subang. Perseroan akan menjadi pengembang pertama yang memiliki KI terpadu di Subang,” ujar Adi.

Dia merekomendasikan buy saham SSIA dengan target harga Rp 950. Kemarin, saham SSIA turun 0,6% ke level Rp 755. (leo)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA