Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Penundaan Program B40 Tidak Berdampak pada Industri Biodiesel

Minggu, 7 Februari 2021 | 10:15 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Pemerintah menunda implementasi program B40 karena alasan kestabilan perekonomian dan masih perlu dikaji lebih dalam lagi.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Suwandi Winardi mengatakan penundaan program B40 tidak terlalu berdampak signifikan terhadap industri biodiesel dan pihaknya justru mendukung keputusan pemerintah tersebut.

Dengan ditundanya program B40 maka pemerintah lebih fokus dan bisa menyempurnakan program B30, berdasarkan laporan dari anggota Aprobi, penundaan program B40 tidak memberikan dampak dan semua perusahaan tidak ada yang keberatan.

Pada tahun 2021 ini, pemerintah menargetkan alokasi biodiesel sebesar 9,2 juta kiloliter dan diharapkan bisa tercapai.

“Pprogram B40 perlu kajian yang lebih mendalam lagi dan perlu pertimbangan tidak mungkin dijalankan tanpa adanya kajian,” ujar dia di Jakarta, belum lama ini.

Selama tahun 2020, total produksi biodiesel anggota Aprobi mencapai 8,59 juta kiloliter dengan rincian domestik mencapai 8,4 juta kiloliter dan ekspor mencapai mencapai 27 ribu kiloliter.

Sementara itu, Industri sawit nasional diperkirakan membaik secara perlahan pada tahun 2021 karena sudah ada vaksin, meskipun pengaruh Covid-19 belum berakhir tetapi ada harapan perbaikan dan titik terang.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Ketua Umum Gabungan Pengusaha kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengatakan Produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2021 diproyeksikan naik signifikan karena pemeliharaan kebun yan lebih baik, cuaca yang mendukung dan harga yang semakin menarik dimana produksi CPO diproyeksikan mencapai 49 juta ton dan untuk produksi PKO mencapai 4,65 juta ton.

Dengan komitmen pemerintah untuk melanjutkan program B30, maka konsumsi Biodiesel diperkirakan sebesar 9,2 juta kiloliter yang setara dengan 8 juta ton minyak sawit. Penggunaan sawit untuk oleokimia pada tahun 2021 diproyeksikan sekitar 2 juta ton untuk domestik dan sekitar 4,5 juta ton untuk ekspor.

Sedangkan untuk ekspor sawit sangat tergantung pada vaksin apakah bisa menyebar di sebagian besar wilayah tujuan ekspor atau tidak dan permintaan ekspor sawit pada tahun 2021 sangat tergantung pada keberhasilan program vaksinasi.

Jika vaksinasi cepat dilakukan maka pasar akan recovery, meskipun belum tinggi seperti dua tahun sebelumnya namun pada tahun 2021 ini, pasar ekspor sudah ada titik cerah.Banyak negara yang karena alasan ekonomi kembali membuka wilayahnya, jadi Gapki memperkirakan volume ekspor tahun 2021 mencapai 37 juta ton.

“Tahun 2021 merupakan langkah awal kebangkitan dan pemulihan ekonomi dan itu terjadi juga terhadap industri sawit dan berharap semua sektor akan kembali tumbuh positif,” ujar dia.

Beberapa isu penting dan menjadi fokus kegiatan Gapki tahun 2021 adalah penerapan dan pengawalan implementasi Undang Undang Cipta Kerja dan Peraturan Perundangan turunannya.Kemudian ada penguatan penerapan Sustainability melalui percepatan dan penyelesaian sertifikat ISPO bagi anggota Gapki dan penguatan kemitraan untuk peningkatan percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN