Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dody Budi Waluyo.

Dody Budi Waluyo.

Penurunan Suku Bunga Acuan akan Pacu Ekspor

Triyan Pangastuti/Arnoldus Kristianus, Senin, 22 Juli 2019 | 16:04 WIB

MEDAN, investor.id – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 0,25% menjadi 5,75% pada Juli 2019 ini akan memacu kinerja ekspor Indonesia yang sejak awal tahun berkontribusi terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi. Langkah ini sekaligus juga untuk memperbaiki neraca perdagangan guna menjaga stabilitas eksternal.

"Kami melihat, dampaknya terhadap neraca pembayaran, ke ekspor dan impor biaya peminjaman (borrowing cost) dana dari perbankan akan lebih murah," kata Dody di Medan, Sumatera Utara, Jumat (19/7) malam. Pemangkasan suku bunga acuan ini didahului dengan kebijakan pelonggaran oleh bank sentral, untuk memperbaiki sisi suplai dan juga menjaga permintaan kredit.

Daya intermediasi ekonomi perbankan, kata Dody, harus ditingkatkan agar penyaluran modal produktif ke perekonomian tidak terkendala, termasuk untuk kegiatan ekspor. Pasalnya jika ekspor terus dibiarkan melemah, maka dampak dari perlambatan perekonomian global akan semakin berat terhadap Indonesia.

Pertumbuhan ekspor penting untuk menjaga neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia, agar stabilitas eksternal terjaga. Ekspor juga akan menyalurkan valas ke dalam negeri yang dapat menjadi bantalan untuk untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang. "Kita perlu melihat bahwa ketegangan hubungan dagang yang berlanjut terus dan menekan volume perdagangan dunia serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global," ucap Dody.

Di sisi lain, selain menggenjot ekspor, penurunan suku bunga acuan juga diharapkan tidak memberikan dampak positif bagi neraca transaksi finansial dan modal. BI perlu menjaga transaksi modal dan finansial untuk tetap surplus karena aliran modal asing yang masuk digunakan untuk mengkompensasi defisit transaksi berjalan.

Maka dari itu, Dody meyakini, penurunan suku bunga juga tidak akan memicu arus modal ke luar. Untuk pasar obligasi, Dody melihat selisih suku bunga (differential interest rate) antara Indonesia dengan negara maju dan sepadan (peers) masih cukup lebar, sehingga bunga instrumen keuangan berdenominasi rupiah masih sangat menarik.

Secara terpisah, Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, penurunan suku bunga acuan disambut positif oleh investor, kalangan perbankan, dan dunia usaha serta mendorong penguatan rupiah. Pasalnya, hal tersebut semakin menambah perspektif positif dari pasar maupun investor, bahwa prospek dan stabilitas ekonomi terjaga. Oleh karena itu, melihat akan ada perbaikan ekonomi ke depan.

“Persepsi positif alhamdulillah cukup baik dari sisi penurunan suku bunga, aktvitas pasar valas, aktivitas perminataan dan penawaran yang berjalan lancar. Investor asing juga masuk ke portofolio sehingga menambah suplai dan confident. Ini menjadi perspekstif positif dan memberikan faktor penguatan terhadap nilai tukar ke depan” tutur dia pekan lalu.

 

Rupiah Menguat

Sejalan dengan reaksi positif pasar tersebut, kata Perry, aliran modal asing terus masuk ke instrumen portofolio. Hingga 18 Juli 2019, aliran modal asing masuk sebesar Rp 192,5 triliun yang tersebar ke berbagai instrumen aset keuangan yakni Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 118,1 triliun dan saham sebesar Rp 74 triliun.

"Ini menunjukkan aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia, khususnya portofolio, dan tentu saja akan menambah surplus neraca modal dalam neraca pembayaran," ujar Perry.

Oleh karena itu, ia optimistis, perkembangan nilai tukar rupiah ke depan memiliki kecenderungan terus menguat, didorong oleh pasaokan (supply) dan permintaan (demand) yang bergerak aktif, sehingga mekanisme pasar beralan baik. Ia sempat menyebut pergerakkan kurs rupiah yang pernah di bawah Rp 13.900 per dolar AS.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah Redjalam berpendapat, penurunan suku bunga acuan akan berdampak baik terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebab hal ini bisa meningkatkan penyaluran kredit dan investasi. Di sisi lain, kredit akan meningkatkan investasi dan konsumsi.

“Permintaan domestik baik dalam bentuk investasi dan konsumsi bisa meningkat yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, “ucap Piter.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA