Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Pertamina (Persero)

PT Pertamina (Persero)

Peran Pertamina dalam Ketahanan Energi

Senin, 27 Juli 2020 | 18:46 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id) ,Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id –  Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, selain menjawab tantangan global, Pertamina sebagai BUMN dan perusahaan energi merupakan bagian dari pengelola energi dan sumber daya mineral yang memiliki peran lebih di Indonesia.

“Pertamina memiliki empat peran dalam meningkatkan ketahanan energi nasional dan menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia,” tandas Nicke Widyawati dalam diskusi bersama Forum Pemimpin Redaksi Media secara virtual di Jakarta, Jumat (24/7/2020) lalu.

Nicke Widyawati. Foto: IST
Nicke Widyawati. Foto: IST

Pertama, dalam appreciating the domestic market, Pertamina memberi layanan terbaik untuk masyarakat, lewat BBM Satu Harga dan menjadikan pasar domestik sebagai modal penting untuk pertumbuhan, dengan pengembangan infrastruktur di setiap MOR.

Kedua, increase national asset value. Ini dengan meningkatkan cadangan serta produksi minyak dan gas nasional dengan optimalisasi hulu, kemitraan, dan lainnya, meningkatkan daya saing kilang dengan RDMP, mengoptimalkan sumber daya energi nasional dengan pengembangan green refinery, gasifikasi batubara, dan yang lainnya.

Ketiga, creating synergy. Ini dengan mengembangkan industri nasional, menciptakan pasar dan sinergi seperti lewat sekuritisasi aset, kerja sama dengan PTPN untuk bahan bakar hijau, kerja sama denga Pelindo untuk optimalisasi aset, serta menciptakan potensi investasi di sektor riil untuk menarik sumber dana asing lewat BOT.

Selain itu, optimalisasi konten lokal proyek-proyek energi untuk batubara peringkat rendah untuk DME, serta CPO untuk bahan bakar hijau, dan yang lainnya.

Keempat, appreciating domestic ability to international markets. Ini antara lain dengan memanfaatkan potensi nasional ke pasar internasional seperti memberikan layanan pengeboran, pengilangan dan produk petrokimia, serta ekspor biofuel dan, pelumas. Selain itu, dengan memanfaatkan kompetensi SDM dalam mengelola kilang dan kilang LNG, serta kompetensi untuk bisnis baru seperti EPC, batubara menjadi bahan bakar, DME, dan petrokimia berbasis batubara.

Pembangunan Kilang

Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: IST
Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: IST

Nicke menjelaskan lebih lanjut, dalam memposisikan sebagai perusahaan yang menjaga ketahanan energi sekaligus menciptakan kemandirian serta kedaulatan energi itu, Pertamina juga melakukan pembangunan sejumlah kilang dan pengembangan green energy .

Menurut dia, RI harus melalui tiga tahapan, yang pertama adalah ketahanan energi, yang berarti harus ada ketersediaan energi untuk mencukupi kebutuhan domestik, baik melalui impor ataupun dalam negeri.

Selanjutnya, mencapai kemandirian energi menuju swasembada, salah satunya dengan mengoptimalkan sumber energi yang ada, dan terakhir kedaulatan energi.

“Kita lihat bagaimana perusahaan energi global ini merespons global trend. Kita lakukan benchmark. Perusahaan Amerika seperti Chevron, ExxonMobil, dan Conoco Phillips fokus di shale gas dan shale oil, karena mereka miliki cadangan yang besar sekali. Perusahaan Eropa seperti ENI lebih fokus ke energi terbarukan.

Perusahaan lain seperti BP dan Shell fokus di energi bersih. Benang merahnya adalah mereka fokus ke sumber energi lokal yang mereka miliki berdasarkan basis teknologi yang mereka miliki,” papar Nicke.

Adapun Pertamina, kata Nicke, menetapkan strategi jangka panjang dengan pengembangan bioenergy berbasis CPO yang uji cobanya sudah dilakukan akhir 2016.

Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwan Kartasasmita dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) saat meninjau Kilang  Dumai. Kilang tersebut berhasil menghasilkan memproduksi Green Diesel (D-100) mencapai 1.000 barel per hari
Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwan Kartasasmita dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) saat meninjau Kilang Dumai. Kilang tersebut berhasil menghasilkan memproduksi Green Diesel (D-100) mencapai 1.000 barel per hari

“Di Dumai kami mulai dengan green diesel, tapi dengan co-processing, Kemudian di Plaju, kami coba green gasoline. Hingga akhirnya kami bisa stand alone dengan katalis kami dan menghasilkan produk D100 dengan kapasitas 3.000 barel per hari dan akan ditingkatkan kapasitasnya,” katanya.

Pertamina, kata Nicke, tidak berhenti sampai di sini, karena pada di akhir tahun akan coba green avtur di Kilang Cilacap. “Produk D100 yang dihasilkan Kilang Dumai ini sudah banyak diminati negara lain. Kalau harganya bagus, kita ekspor dulu saja,” ujarnya.

Untuk produk D100 ini komponen terbesarnya adalah minyak sawit. Namun, menurut Nicke, sepanjang minyak sawit masih disamakan antara untuk kebutuhan komersial dengan bahan bakar, maka menjadi kurang ekonomis untuk dijadikan D100.

“Oleh karena itu, jika pemerintah kita menetapkan bahwa CPO akan menjadi salah satu basis kemandirian energi nasional, maka harus ada program jangka panjang yang membuat ini sustain dan ekonomis, serta feasible secara bisnis. Kita harus duduk bersama regulator, kalau memang pemerintah menetapkan bahwa ini menjadi salah satu sumber energi masa depan kita yang bisa mendorong ke arah kemandirian energi atau swasembada energi; maka tetapkan kebijakan yang bisa membuat menjadi af fordable harganya dan secara jangka panjang suplainya sustain,” papar Nicke.

Sementara itu, Nicke sebelumnya mengatakan, saat ini Pertamina sedang membangun kilang, baik untuk bahan bakar minyak (BBM) maupun untuk bahan bakar nabati (BBN). Dari kapasitas produksi sekitar 900 ribu barel per hari (bph) saat ini, produksi kilang Pertamina akan terus dinaikkan hingga 2 juta bph pada 2026.

Pada akhir 2026, semua kilang Pertamina ditargetkan sudah terbangun. Tahun itu, Pertamina tidak lagi mengimpor BBM. Sementara itu, saat ini, Pertamina mengimpor sekitar 800 ribu bph minyak mentah karena produksi dalam negeri hanya sekitar 775 ribu bph. (tl/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN