Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Perbanyak Insentif Manufaktur untuk Tekan Defisit Anggaran

Senin, 14 Januari 2019 | 22:45 WIB
Oleh Tri Murti dan Hari Gunarto

JAKARTA – Pemerintah perlu mencari terobosan serta memperbanyak insentif untuk mendorong industri manufaktur, sebagai strategi untuk menekan defisit neraca perdagangan yang sudah kronis. Insentif diarahkan untuk industri yang inovatif dalam mengembangkan produk, berorientasi ekspor, konsisten mengembangkan R&D, serta industri manufaktur yang menggunakan bahan baku lokal sebesar mungkin.

Strategi tersebut akan menciptakan produk ekspor bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Hal itu perlu diperkuat dengan dukungan penuh pemerintah, termasuk atase perdagangan dan kedutaan besar, untuk mencari pasar-pasar ekspor baru dan memperbanyak perjanjian perdagangan bebas yang saling menguntungkan.

Paralel dengan upaya tersebut, kebijakan pembatasan impor secara selektif perlu dilakukan, terutama barang konsumtif dan beberapa keperluan proyek infrastruktur lewat kebijakan pajak dan bea masuk. Guna menekan impor minyak dan BBM, pemerintah perlu memacu investasi di sektor migas. Upaya lain adalah mendorong semaksimal mungkin penggunaan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Demikian kesimpulan wawancara Investor Daily dengan ekonom senior Bank Mandiri Dendi Ramdani, ekonom Indef Bhima Yudhitira Adhinegara, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman, dan Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri. Mereka dihubungi di Jakarta, pekan lalu.

Neraca perdagangan selama Januari- November tahun lalu tercatat defisit sebesar US$ 7,52 miliar, rekor terburuk sepanjang sejarah. Dalam kurun waktu itu, hanya Maret dan September yang terjadi suprlus, selebihnya defisit. Minusnya neraca perdagangan dipicu oleh defisit neraca migas yang terus membengkak.

Selama Januari-November 2018, deficit migas tercatat sebesar US$ 12,15 miliar, naik dibanding periode sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Dari sisi perdagangan bilateral, defisit terbesar terjadi dalam perdagangan dengan Tiongkok. Bahkan untuk komoditas nonmigas, defisit neraca perdagangan yang diderita Indonesia dengan negeri Tirai Bambu dalam periode tersebut menembus US$ 18,15 miliar atau setara Rp 254 triliun.

Membengkaknya defisit neraca perdagangan menjadi pemicu pemburukan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), yang tahun lalu diprediksi mencapai 3% dari produk domestik bruto (PDB). (dho)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/tradeandservices/tiga-strategi-pembenahan-sektor-industri/184471

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN