Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas SPBU saat melakukan pengisian BBM di Jakarta, Kamis (7/5/2020).  Foto: SP/Ruht Semiono

Petugas SPBU saat melakukan pengisian BBM di Jakarta, Kamis (7/5/2020). Foto: SP/Ruht Semiono

Performa Mesin Kendaraan Makin Baik dengan BBM Oktan Tinggi

Rabu, 30 September 2020 | 21:55 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id - Ahli motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman K Reksowardojo mengingatkan, pentingnya menggunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Apalagi, spesifikasi mesin kendaraan keluaran terbaru memang dirancang untuk BBM dengan Research Octane Number (RON) yang tinggi pula.

"Jadi memang harus sesuai. Kalau mesinnya dirancang untuk oktan tinggi maka harus mempergunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Jika tidak, maka akan terjadi off-design operation atau operasi mesin di luar perancangan," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (29/9).

Dan kalau di luar rancangannya maka output-nya juga di luar rancangan, misal daya, efisiesi menurun, usia mesin menjadi pendek, emisi gas buang memburuk dan seterusnya.

BBM dengan angka oktan tinggi, lanjut Iman, bila digunakan pada motor bensin dengan perbandingan kompresi yang tinggi menghasilkan daya yang tinggi. Hal ini membuat pemakaian bahan bakar yang irit dan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

"Ibarat tubuh yang membutuhkan makanan bergizi, BBM ber angka oktan tinggi ini adalah ‘makanan’ sehat untuk kendaraan bermotor. Tidak hanya untuk kendaraan keluaran baru, BBM oktan tinggi juga baik untuk kendaraan-kendaraan lama,” kata Iman.

Menurut dia, untuk soal BBM, Indonesia paling ketinggalan di antara negara ASEAN bahkan, Myanmar yang sebelumnya berada di bawah Indonesia, sekarang sudah mendahului memakai BBM minimal RON 91, sedangkan di sini masih ada yang memakai RON 88.

Menurut dia, BBM RON rendah akan menurunkan performa/unjuk kerja (daya, efisensi), memburuknya emisi gas buang kendaraan bermotor, membuat mesin mengelitik (knocking), sampai risiko terburuk yaitu ruang bakar berlubang.

Knocking inilah yang harus dihindari. Karena bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, dan menurunkan efisiensi dan menaikan emisi gas buang,” kata Iman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

BBM dengan RON rendah, tambahnya, memang menjadi penyebab knocking. Secara termodinamika, knocking terjadi karena BBM RON rendah tidak tahan terhadap tekanan atau temperatur tinggi, akibatnya BBM bisa terbakar sebelum waktunya untuk dinyalakan oleh api dari busi.

"Dan pembakaran yang terjadi bukan dari busi itulah yang disebut knocking. Kondisi itu yang terjadi pada BBM RON rendah, dan sangat merusak mesin karena temperatur dan tekanan yang sangat tinggi," katanya.

Hal itulah yang membedakan dengan BBM RON tinggi dengan kadar 92 ke atas. BBM RON tinggi tersebut tahan terhadap temperatur dan tekanan tinggi, untuk tidak menyala dengan sendirinya.

"Pembakaran yang terjadi hanya dari berasal api busi, bukan karena temperatur dan tekanan yang tinggi yang berasal bukan dari busi," ujar Iman.

Jadi, menurut dia, pada dasarnya angka oktan memang merupakan parameter ketahanan BBM dari tekanan/temperatur untuk nyala sendiri (detonasi). Dan semakin tinggi angka oktan, yang dicerminkan dari RON BBM, akan semakin baik pula kualitas BBM.

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN