Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Perkuat Bisnis, Berdikari Investasi Rp 100 Miliar

Damiana Simanjuntak, Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:12 WIB

JAKARTA, investor.id -PT Berdikari (Persero) mengalokasikan investasi hingga akhir tahun 2019 sekitar Rp 100 miliar untuk memperkuat bisnis peternakan sapi dan ayam. Rencananya, BUMN pangan dan peternakan itu akan menambah kapasitas peternakan sapi dan ayam, serta ekspansi ke bisnis pakan ayam.

"Untuk pengembangan bisnis tahun ini, kami sediakan investasi sekitar Rp 100 miliar. Sebenarnya bukan kami langsung mengeluarkan uang untuk investasi sekian ya. Tapi, berputar. Itu model bisnisnya," kata Direktur Utama Berdikari Eko Taufik Wibowo saat cara Ngobrol Pagi Seputar BUMN bersama Berdikari di Jakarta, Rabu (14/8).

Dengan penambahan kapasitas peternakan ayam tersebut, Berdikari mengincar penambahan impor grand parent stock (GPS) sekitar 20% pada tahun 2020. Dimana, tahun 2018, Berdikari mendapat alokasi impor GPS 100 ribu ekor, namun hanya terealisasi sekitar 50 ribu ekor. Tahun 2019, Berdikari kembali mengantongi alokasi impor GPS sebanyak 100 ribu ekor. Dengan realisasi pemasukan hingga saat ini sebanyak 36 ribu ekor, disebar ke 2 peternakan GPS Berdikari.

Eko menuturkan, saat ini memiliki 2 farm GPS yang berlokasi di Tasikmalaya dengan populasi sekitar 54 ribu ekor dan Pasuruan dengan populasi sekitar 36 ribu. Menurut Eko, rata-rata produksi farm GPS per bulan adalah sekitar 120 ribu ekor ayam umur sehari (day old chicken/ DOC) Parent Stock (PS).

Berdikari juga memiliki 2 farm PS yang berlokasi di Sukabumi dan Medan dengan populasi masing-masing sekitar 25 ribu ekor. Rencananya, kata dia, Berdikari akan menambah farm PS yang berlokasi di Ciamis dengan recana kapasitas populasi sekitar 70 ribu ekor.

Dari ketiga farm PS tersebut, kata Eko, produksi final stock (FS) ditargetkan mencapai 320 ribu ekor per bulan.

"Kami berencana menambah farm GPS baru, sudah melakukan survei di wilayah Jawa Barat. Penambahan ini untuk memenuhi kuota impor sebanyak 100 ribu ekor GPS. Kami juga akan menambah farm PS baru karena pemegang saham memberi kami target produksi 125-150 ribu ekor. Yang selanjutnya, target produksi FS kami bidik sekitar 50 ribu ekor per bulan. Dimana, produksi FS sudah mulai bulan Juni, dimana target kami juga signifikan," kata Eko.

Saat ini, lanjut Eko, Berdikari telah memasok DOC FS-nya ke peternak di sekitar farm, bahkan mulai menjangkau wilayah lebih jauh di pulau Jawa. Sedangkan, untuk PS, Berdikari telah memasok untuk kebutuhan peternak ayam di Indonesia Timur.

Eko mengklaim, kinerja bisnis peternakan ayam Berdikari menunjukkan pertumbuhan yang bagus. Meski terkadang masih ada kendala terkait regulasi dan data populasi, imbuh dia, bisnis ayam Berdikari mulai mendapat kepercayaan pasar. Saat ini, kata dia, peran bisnis peternakan ayam Berdikari semakin signifikan menopang pertumbuhan perusahaan.

"Kami mulai fokus dengan bisnis ayam terintegrasi, mulai dari hulu. Karena BUMN ini kan perpanjangan tangan pemerintah, harus masuk ke rantai pasok yang bisa mempengaruhi tata kelola yang selama ini lebih banyak dipengaruhi swasta. Kalau langsung masuk ke hilir, memang masih bisa melakukan intervensi, tapi tidak signifikan. Dengan strategi masuk ke hulu, kami bisa menembus bisnis unggas yang selama ini dikuasai kartel tertentu. Dan, ini berimbas ke segmen menengah hingga produk akhir," kata Eko.

Menurut Eko, sejak mulai masuk dan memperkuat bisnis ayam, saat ini Berdikari telah berada di posisi ketiga pemain GPS di dalam negeri. Dengan porsi pasar sekitar 10%. Dalam 1,5 tahun terakhir, lanjut dia, meski ada gonjang-ganjing harga, pasokan PS mampu menetralkan pasar. Dan, berdampak hingga rantai DOC FS.

"Secara otomatis, PS semakin banyak. Yang selama ini bergantung pada prpdusen GPS besar, mulai beralih dan bermitra dengan Berdikari. Dimana, bentuk kemitraan kami juga tidak mengikat. Dan, pasar juga bereaksi bahwa mereka semakin secure dengan bisnis BUMN. Ini yang kami canangkan. Bahwa, Berdikari adalah BUMN dengan tata kelola yang transparan dan tidak mau merusak mata rantai industri unggas nasional. Dan, dengan masuknya Berdikari, ada kepastian harga dan pasokan, tanpa monipoli atau pemaksaan," kata Eko.

Sedangkan, untuk bisnis peternakan sapi, ujar Eko, Berdikari akan memperkuat skema kemitraan dengan peternak rakyat. Sebab, kata dia, budaya peternakan dan pertanian di Indonesia adalah bisnis skala rakyat. Meski, keberadaan industri besar diakui tetap diperlukan.

"Kami mengembangkan pola kemitraam dengan peternak rakyat. Berdikari bermitra dengan komunitas di wilayah tertentu, memberikan modal kerja berupa sapi, hingga memberikan pendampingan. Kami memulai sejak tahun 2017 di Kabupaten Lebak. Dan kami lanjutkan model serupa di Bojonegoro. Dengan populasi sekitar 620 ekor. Kami sedang jajaki untuk lokasi baru di wilayah Jawa Tengah (Temanggung), Sumenep (Jawa Timur), dan beberapa lokasi lain di pulau Jawa," tutur Eko.

Dengan konsep itu, kata Eko, bisnis peternakan penggemukan sapi tidak lagi dikuasai oleh feedlotter besar.

"Kami juga telah mendapatkan izin dari Kementerian Pertanian untuk melakukan impor sapi bakalan sejumlah 30 ribu ekor yang rencananya akan selesai pada akhir 2019. Sampai dengan saat ini, realisasi impor sudah sekitar 9 ribu ekor sapi bakalan dari Australia," kata Eko.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN