Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Permintaan Anjlok, Peternak Ayam Berharap Bantuan Pemerintah

Thresa Sandra Desfika, Jumat, 3 April 2020 | 16:03 WIB

JAKARTA, investor.id - Para peternak ayam mengeluhkan permintaan ayam yang semakin menurun imbas dari aktivitas warga yang berkurang akibat pandemi Virus Korona (Covid-19).

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengungkapkan, peternak ayam setingkat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mencapai 10.000-20.000 pengusaha di seluruh Indonesia atau 80% dari seluruh peternak ayam. Hanya 20% peternak milik perusahaan besar.

Karena itu, dengan kondisi saat ini, peternak rakyat yang paling terpukul menghadapi pandemi Covid 19.

“Peternak ayam skala UMKM ini terancam gulung tikar bila pemerintah tidak melakukan apa-apa dalam kondisi pandemi korona seperti ini. Peternak skala UMKM ini menyerap sekitar 12 juta tenaga kerja," kata Singgih, Jumat (3/4).

Karena itu, dia mengusulkan, bantuan pemerintah selama darurat pandemi Covid 19 dialokasikan juga untuk peternak rakyat. Caranya dengan membeli ayam yang ada di peternak kecil. “Pemerintah buat pasar murah bentuknya tidak hanya beras atau uang tunai tapi juga dalam bentuk daging ayam,” kata Singgih.

Secara umum, Singgih berharap, pemerintah segera menyelamatkan para peternak ayam dengan membereskan dari hulu hingga hilir. Bila hilir dibantu dengan membeli ayam untuk dijadikan pasar murah atau pemberian daging ayam kepada masyarakat dan rumah sakit, maka untuk hulu, pemerintah harus menekan produksi ayam berusia sehari (day old chicken/DOC) hingga 50% guna menurunkan populasi ayam dan menstabilkan harga. Bila DOC masih banyak, peternak juga enggan membesarkan karena biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual di saat permintaan juga menurun akibat pandemi Covid 19.

“Hulu dengan cara menurunkan DOC sampai 50%, lalu hilirnya pemerintah membuat pasar murah darurat dengan membeli ayam rakyat, jangan dari perusahaan. Perusahaan itu modalnya kuat bisa bertahan lebih lama dalam menghadapi kondisi saat ini,” ujar Singgih.

Dia optimistis, bila pemerintah bisa melakukan dari hulu ke hilir, peternak rakyat bisa bertahan selama pandemi ini. Sebaliknya, jika pemerintah membiarkan peternak ayam berusaha sendiri menghadapi pandemi Covid 19 ini, maka para peternak akan berguguran dalam satu bulan ini.

"Tenaga kerja di sektor ini mencapai 12 juta tenaga kerja yang terancam putus hubungan kerja bila peternakan gulung tikar," papar Singgih.

Kadma Wijaya, salah satu peternak ayam, mengatakan, harga ayam hidup di tingkat peternak saat ini Rp 11.000 per kilogram, jauh di bawah biaya pokok produksi yang berkisar Rp 18.000. Sejak diberlakukan berkegiatan dari rumah pada pertengahan  Maret 2020 lalu, lanjut dia, permintaan ayam pun telah menurun hingga 50%.

“Kita susah mengeluarkan ayam karena permintaan turun. Pasar sudah banyak yang tutup dan warung-warung makan banyak yang tidak buka karena masyarakat ke mana-mana sudah tidak boleh. Perusahaan besar juga mengandalkan pasar becek untuk menjual ayamnya. Akibatnya kami peternak kecil semakin turun. Penurunan sudah di atas 50% sejak mulai pembatasan sosial, ” kata Kadma.

"Kami tidak aneh-aneh permintaannya. Beli ayam-ayam kami saja sudah membuat kami senang dengan harga acuan sesuai biaya produksi. Kalau diberi pinjaman lunak, kalau ayamnya tidak ada yang membeli juga percuma,” pungkas Kadma.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN