Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Permintaan Domestik Jadi Penyeimbang di Tengah Lesunya Pasar Global

Jumat, 10 Juli 2020 | 19:44 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa permintaan crude palm oil (CPO) di dalam negeri menjadi penyeimbang ketika pasar global lesu sebagai dampak pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/7/2020) menyebutkan, dibanding bulan April 2020, produksi CPO pada bulan Mei sebesar 3.616 ribu ton atau turun 1,9%, konsumsi dalam negeri turun 1,6% menjadi 1.380 ribu ton, ekspor turun 8,3% menjadi 2.428 ribu ton, dan harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata US$ 564 pada bulan April menjadi US$ 526 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Mei.

Mukti Sardjono. Foot: IST
Mukti Sardjono. Foot: IST

Demikian juga dengan nilai ekspornya turun US$ 165 juta dari US$ 1,64 miliar menjadi US$ 1,47 miliar. Apabila dibandingkan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan PKO Januari-Mei 2020 adalah 19.001 ribu ton atau 14% lebih rendah, konsumsi dalam negeri adalah 7.334 ribu ton atau naik 3,6%, volume ekspor adalah 12.736 ribu ton atau turun 13,7% tetapi nilai ekspornya naik dari US$ 7.995 juta menjadi US$ 8.437 juta.

“Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman,” jelasnya.

Mukti mengatakan, konsumsi dalam negeri secara total masih positif di tengah berlakunya PSBB. Salah satu peningkat konsumsi adalah oleokimia yang naik 31,4%. Konsumsi biodiesel juga meningkat sebesar 23,2%.

“Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang konsisten dalam implementasi program B30,” ujarnya.

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Adapun penurunan ekspor, sambung dia, terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil. Penurunan ekspor bulan Mei terbesar terjadi dengan tujuan Tiongkok sebesar 87,7 ribu ton (-21%), ke EU sebesar 81,5 ribu ton (-16,62%), ke Pakistan sebesar 47 ribu ton (-23,4%) dan ke India sebesar 38,6 ribu ton (-9,2%).

Penurunan ekspor ke Tiongkok mungkin juga disebabkan meningkatnya crushing oilseed (khususnya kedelai) yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati Tiongkok tinggi. Meskipun terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir dengan 42 ribu ton atau naik 81% dari ekspor April 2020, Ukraina dengan 31 ribu ton (+99%), Filipina dengan 29 ribu ton (+73%), Jepang dengan 19 ribu ton (+35%) dan ke Oman engan 15 ribu ton (+85%).

Kegiatan ekonomi Tiongkok, India dan banyak negara lain mulai pulih sehingga permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya mulai naik.

“Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga ke depan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel,” pungkasnya. (gr)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN