Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (7/4/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (7/4/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Perry: Intervensi Valas Selamatkan RI dari Kemungkinan Krisis Moneter

Rabu, 27 Januari 2021 | 13:13 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, seluruh instrumen kebijakan Bank Indonesia sepanjang 2020 diarahkan untuk menjaga stabilitas dan sebagai upaya bersama mendorong pemulihan ekonomi nasional. Salah satu dari instrumen itu adalah intervensi valuta asing dalam jumlah yang besar.

“Intervensi valuta asing dalam jumlah besar ditempuh BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari dampak kepanikan pasar keuangan global pada awal pandemi Covid-19, sehingga Indonesia terhindar dari kemungkinan krisis moneter dan ekonomi,” ujar Perry dalam pengantar Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2020 yang diluncurkan pada Rabu (27/1) secara virtual.

Bank Indonesia, kata Perry, juga menempuh bauran kebijakan akomodatif sebagai bagian dari sinergi pemulihan ekonomi nasional. “Kami berkomitmen kuat dan mendukung penuh penguatan sinergi kebijakan ekonomi nasional dengan pemerintah dan KSSK dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19,” kata dia.

Stimulus moneter yang besar, lanjut Perry, dilakukan melalui penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas (quantitative easing). “Suku bunga acuan BI7DRR diturunkan sebanyak 125 bps menjadi 3,75%, terendah sepanjang sejarah. Sementara itu, injeksi likuiditas dalam jumlah besar mencapai Rp 726,57 triliun atau 4,7% dari PDB, terbesar di antara emerging markets,” ucap dia.

Menurut Perry, kebijakan makroprudensial juga dilonggarkan untuk mendukung terjaganya stabilitas sistem keuangan dan mendorong penyaluran kredit serta pembiayaan dari perbankan. Digitalisasi sistem pembayaran pun dipercepat melalui implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 untuk mendorong ekonomi dan keuangan digital yang makin marak setelah pandemi Covid-19 dan sekaligus sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.

“Upaya memperkuat stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi nasional tersebut juga didukung oleh percepatan reformasi pasar uang melalui Blueprint Pengembangan Pasar Uang (BPPU) 2025, pengembangan ekonomi keuangan syariah dan UMKM sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi, serta penguatan kebijakan internasional,” pungkas Perry.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN