Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Blok Rokan

Blok Rokan

Pertamina Bisa Lanjutkan EOR Chevron di Blok Rokan

Ayu Retno Ayuningtyas, Selasa, 3 September 2019 | 13:21 WIB

JAKARTA, Investor.id– Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan PT Pertamina (Persero) seharusnya dapat melanjutkan kegiatan pengurasan minyak tahap lanjut (enhanced oil recovery) dengan injeksi zat kimia yang telah dimulai PT Chevron Pacific Indonesia di Blok Rokan. Pasalnya, hasil uji coba zat kimia Chevron seharusnya menjadi milik negara.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, biaya yang telah dikeluarkan oleh Chevron ketika menguji zat kimia yang cocok untuk digunakan dalam kegiatan EOR di Blok Rokan telah diganti pemerintah atau telah di-cost recovery. Sehingga, seluruh data hasil uji coba zat kimia tersebut adalah milik negara. 

“Ini [data Chevron] tentunya bisa dipakai oleh kontraktor yang baru,” kata dia di Jakarta, Selasa (3/9).

Sebagai informasi, EOR dengan injeksi zat kimia merupakan pengurasan minyak tahap tersier. Secara statistic, pengerjaan EOR jenis ini membutuhkan waktu 10 tahun dimulai sejak uji coba kesesuaian zat kimia dengan lapangan migas yang akan digenjot produksinya. Pasalnya, uji coba zat kimia ini dimulai dari tes laboratorium, percobaan di lapangan, dan jika sesuai baru diinjeksi secara penu untuk seluruh lapangan (full scale). Karenanya, jika Pertamina sebagai operator baru dapat menggunakan data yang diperoleh Chevron dari uji coba yang dilakukan, maka proses EOR bisa lebih cepat.

Sayangnya, belum ada kesepakatan antara dengan Chevron bahwa data tersebut dapat digunakan oleh pihak lain. Padahal, pemerintah telah mengucurkan cost recovery sebesar US$ 187 juta untuk membiayai kegiatan EOR di Blok Rokan. Menurut Dwi, hal ini harus dibahas terlebih dahulu dengan Chevron dan Pertamina.

“Transmisi kan masih dalam pembicaraan, masih negosisasi. Nanti akan termasuk itu [data EOR]. Dan harusnya [data EOR] harus jadi milik negara dong, kan sudah dibayar,” tutur Dwi.

Pembahasan, lanjutnya, termasuk kemungkinan dimulainya kegiatan EOR di Blok Rokan oleh Pertamina di masa transmisi operatorship. Dua tahun ke depan jelang Pertamina mengambil alih Blok Rokan pada 2021, disebutnya sebagai masa krusial apakah Pertamina dapat memulai EOR full scale atau masih harus mengulang proses uji coba zat kimia.

Hingga kini, tambah Dwi, uji coba zat kimia EOR masih terus dilakukan oleh Chevron. Pihaknya berharap Pertamina bisa langsung mulai membangun infrastuktur yang dibutuhkan untuk pelaksanaan EOR dalam dua tahun ke depan. Pasalnya, proses EOR yang memakan waktu lama adalah uji coba zat kimia yang cocok dengan lapangannya.

“Setelah infrastruktur jalan, langsung go [pelaksanaan EOR],” kata dia.

Mengacu komitmen kerja pasti yang dijanjikan kepada pemerintah, Pertamina sudah merencanakan sejumlah kegiatan, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM 1923K/10/MEM/2018. Beberapa kegiatan itu yakni studi EOR senilai US$ 4 juta, pengeboran 11 sumur eksplorasi US$ 69,8 juta, pengeboran lima sumur Telisa US$ 18,1 juta, stage-1 CEOR 7 pattern US$ 247 juta, dan stage-1 steam flood Kulin atau Rantau Bais US$ 88,6 juta.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA