Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
SPBU, BBM. Foto ilustrasi: IST

SPBU, BBM. Foto ilustrasi: IST

Pertamina Mulai Membukukan Laba di Juli

Kamis, 27 Agustus 2020 | 17:07 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA – Memasuki semester kedua 2020, kinerja operasional PT Pertamina (Persero) mulai membaik seiring meningkatnya penjualan produk. Pada Juli kemarin, perusahaan migas pelat merah itu sudah membukukan laba bersih US$ 408 juta setelah merugi di semester pertama 2020.

 

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, manajemen Pertamina telah berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek, baik operasional maupun finansial, sehingga mulai membukukan laba bersih rata-rata US$ 350 juta per bulan pada Mei-Juli. Pencapaian positif ini akan terus mengurangi kerugian yang dibukukan di semester pertama. 

 

“Mulai Mei berlanjut Juli, dan ke depannya, kinerja makin membaik. Dengan laba bersih (unaudited) di Juli sebesar US$ 408 juta, maka kerugian dapat ditekan dan berkurang menjadi US$360 juta atau setara Rp 5,3 triliun. Dengan memperhatikan tren yang ada, kami optimistis kinerja akan terus membaik sampai akhir 2020,” kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (27/8).

 

Kondisi keuangan Pertamina membaik seiring meningkatnya konsumsi BBM. Di Juli kemarin, pihaknya mencatat kenaikan volume penjualan produk sebesar 5% dari 6,6 juta kiloliter (KL) di Juni menjadi 6,9 juta KL. Dari sisi nilai, penjualan produk pada Juli berada di kisaran US$ 3,2 miliar atau naik 9% dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 2,9 miliar.

 

“Salah satu shock yang dialami pada masa pandemi Covid-19 adalah penurunan demand BBM. Namun seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional, tren penjualan Pertamina pun mulai merangkak naik. Kinerja kumulatif Juli juga sudah mengalami kemajuan dan lebih baik dari kinerja kumulatif bulan sebelumnya,” ujar Fajriyah.

 

Farjiyah menjelaskan, pada Januari lalu, perseroan sebenarnya masih membukukan laba bersih US$ 87 juta. Namun, memasuki Februari-Mei, permintaan produk bahan bakar minyak (BBM) turun tajam akibat pandemi Covid-19. Bahkan, saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan, penurunan permintaan di kota-kota besar mencapai lebih dari 50%. Kondisi ini diperparah dengan terpukulnya pendapatan dari bisnis hulu migas.

 

Akibatnya, lanjut dia, total pendapatan Pertamina semester pertama lalu turun hingga 20%. Laba perseroan pun juga terpukul. Pada Februari-April, perseroan mulai mencatatkan rugi bersih rata-rata US$ 500 juta per bulan. Sehingga, perseroan membukukan kerugian hingga US$ 767,91 juta di sepanjang enam bulan pertama 2020.

 

Fajriyah menambahkan, kinerja laba operasi dan EBITDA juga tetap positif. Pada Januari-Juli, laba operasi perseroan mencapai US$ 1,26 milyar dan EBITDA sebesar US$ 3,48 milyar. Hal ini menunjukkan bahwa secara operasional Pertamina tetap berjalan baik, termasuk komitmen untuk menjalankan penugasan distribusi BBM dan LPG ke seluruh pelosok negeri serta menuntaskan Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti pembangunan kilang.

 

“Tentu saja, perbaikan kinerja tidak semudah membalikkan tangan, perlu proses dan perlu waktu. Sekarang ini, sudah terlihat dengan kerja keras seluruh manajemen dan karyawan, kinerja Pertamina mulai pulih kembali,” kata dia.

 

Di sisi lain, Fajriyah menjelaskan, Pertamina melakukan berbagai upaya guna meningkatkan kinerja. Perseroan melakukan efisiensi belanja operasional dengan memotong anggaran hingga 30% dan prioritasi belanja modal dengan sangat selektif hingga bisa dipangkas 23%.

 

“Kami juga melakukan renegosiasi kontrak, memitigasi rugi selisih kurs, tetap menjalankan operasional dan investasi untuk mempertahankan produksi hulu, meningkatkan strategi pemasaran dengan program diskon dan loyalty customer untuk meningkatkan pendapatan, mengkaji ulang dan memperbaiki model operasi kilang, dan lain-lainnya,” ujarnya.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN