Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kilang Balongan

Kilang Balongan

Pertamina Mulai Pengerjaan Desain Kilang Balongan

Retno Ayuningtyas, Rabu, 4 Desember 2019 | 19:26 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) telah memulai pengerjaan desain rinci (front end engineering design/FEED) proyek perbaikan dan peningkatan kapasitas (upgrading) Kilang Balongan, Jawa Barat. Guna mempercepat pembangunan kilang, kontrak desain ini digabung dengan paket rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC).

Untuk itu, Pertamina telah menandatangani kontrak pengadaan kompetisi FEED (Dual FEED Competition/DFC) pada Rabu (3/12) lalu. Penandatanganan kontrak dilakukan perseroan dengan dua konsorsium terpilih untuk mengikuti DFC ini, yakni Konsorsium RRE dan JSW. Konsorsium REE yaitu PT Rekayasa Industri, PT Rekayasa Engineering, dan PT Enviromate Technology International. Sementara konsorsium JSW diantaranya JGC Indonesia, PT Synergy Engineering, dan PT Wijaya Karya.

Dual FEED Competition merupakan strategi kontrak yang menandingkan dua atau lebih praktik FEED, di mana nantinya kontrak EPC akan diberikan kepada pemenang FEED tersebut. Adapun Konsorsium akan berkompetisi untuk membuat FEED dan desain terbaik akan diimplementasikan pada proyek RDMP RU VI Balongan Phase 1.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan, penerapan skema DFC ini pertama kali dilakukan bagi Pertamina dan Indonesia. Dengan menjalankan skema DFC ini, pembangunan kilang ditargetkan bisa selesai lebih cepat. “Dengan skema ini, Proyek Kilang Balongan Phase 1 bisa selesai lebih cepat, yaitu menjadi 2,5 tahun,” kata dia dalam keterangan resminya, Rabu (4/12).

Pihaknya optimis dapat memberikan kinerja terbaik dalam merampungkan proyek kilang ini. Walupun, diakyinya, proses penerapan skema DFC ini cukup ketat dan menantang. Saat ini, skema tersebut baru diterapkan di Proyek Kilang Balongan. Namun, pihaknya akan memperluas penerapan skema ini ke proyek kilang lainnya.

“Tahap kedua yaitu Balikpapan, kemudian Plaju, Dumai, dan Cilacap. Kami juga akan lakulan ke kilang lainnya,” tutur Nicke.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang menambahkan, konsep DFC ini berawal dari gagasan mantan Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng dan Archandra Tahar pada 2017. Implementasi DFC adalah salah satu upaya akselerasi pelaksanaan penugasan proyek pengembangan kilang Pertamina.

“Untuk memastikan DFC ini merupakan best practice yang telah banyak dilakukan oleh beberapa perusahaan ternama, telah dilakulan roadshow ke beberapa reputable EPC Company di Eropa dan Amerika pada Juni 2019, yang ditindaklanjuti dengan penyusunan sistem tata kerja di internal Pertamina terkait DFC,” ujar Tallulembang.

Tallulembang sempat mengungkapkan, biasanya FEED dan EPC dilakukan terpisah dan memakan waktu satu tahun lebih lama mengingat lelang pengadaan harus dilakukan dua kali. Jeda waktu ini lah yang ingin dihilangkan pihaknya dengan skema DFC. Proyek Kilang Balongan Tahap I ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2022 dengan kenaikan kapasitas dari 125 ribu barel per hari (bph) menjadi 150 ribu bph.

Pertamina, Tallulembang sempat menyatakan, berkomitmen mempercepat penyelesaian enam proyek kilang yang tengah dikerjakan. Pasalnya, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) domestik diperkirakan tumbuh 3-4% dalam lima tahun ke depan menjadi 1,7 juta bph dari saat ini 1,5 juta bph. Dengan adanya pembangunan kilang, seluruh kebutuhan ini dapat dipenuhi, mengingat kapasitas pengolahan perseroan akan naik menjadi 2 juta bph dengan tingkat produksi BBM 1,7 juta bph.

“Semua proyek sudah bergerak, sudah jalan semua. Jadi kami lakukan percepatan dan semua berjalan sesuai target, tidak ada yang tertinggal,” tegas dia.

Selain Balongan, Pertamina menggarap proyek upgrading kilang untuk Kilang Balikpapan, Dumai, dan Plaju. Selain itu, perseroan juga menggarap dua proyek kilang baru di Bontang, Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur dengan kapasitas masing-masing 300 ribu bph. Seluruh proyek kilang perseroan ditargetkan rampung paling lambat pada 2027.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA