Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wilayah Kerja (WK) Rokan. Foto: dok. SKK Migas

Wilayah Kerja (WK) Rokan. Foto: dok. SKK Migas

Pertamina Optimistis Blok Rokan Bakal Dongkrak Ekonomi Riau

Kamis, 4 Maret 2021 | 10:47 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berkomitmen memaksimalkan potensi Blok Rokan bukan saja untuk menyuplai kebutuhan nasional, tapi juga mendongkrak pembangunan ekonomi di Riau. Pasca mengambil alih pengelolaan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), PHR memproyeksikan produksi minyak blok tersebut mencapai 1,5 miliar barel.

Upstream Project Leader PHR Feri Sri Wibowo mengatakan, pihaknya memiliki empat komitmen dalam menggarap Blok Rokan. Pertama, memberikan kontribusi dari hasil Blok Rokan terhadap Pendapatan Bagi Hasil Daerah. Kedua, badan usaha milik daerah berhak atas 10% hak partisipasi (participating interest/PI) Blok Rokan berdasarkan Kepmen ESDM 1923 K/10/MEM/2018.

Ketiga, kegiatan operasional Blok Rokan akan melibatkan partisipasi perusahaan lokal, baik dalam bentuk barang, jasa, maupun tenaga kerja, sehingga akan menggerakkan keekonomian masyarakat Riau. “Terakhir, kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan akan bersinergi dengan pemerintah daerah agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan,” kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (2/3).

Blok Rokan memiliki peran strategis dalam industri migas tanah air dengan menyumbangkan produksi minyak 24% terhadap produksi nasional. Untuk itu, lanjut dia, PHR telah merencanakan sejumlah program-program produksi baru, seperti pengeboran infill, work over dan well intervention, eksplorasi, optimasi injeksi air (waterflood) dan uap (steamfloaad), serta lainnya.

“Targetnya Blok Rokan bisa memproduksikan total 1,5 miliar barel selama dua dasawarsa,” ujar Feri.

PHR menandatangani kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) Blok Rokan dan disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 9 Mei 2019. Jangka waktu kontrak bagi hasil ini selama 20 tahun pada 2021-2041. Kontrak berlaku efektif mulai 9 Agustus 2021 menggunakan skema bagi hasil kotor (gross split).

Saat ini, proses alih kelola Blok Rokan dari CPI ke PHR masing berlangsung sesuai tahapannya. Peralihan ini akan memakan waktu hingga 23 pekan ke depan. General Manager General Affairs and Operations Support PT CPI Sukamto Tamrin mengungkapkan, proses peralihan sudah dilakukan sejak 2019. “Kami sangat berkeinginan agar proses peralihan berlangsung lancar, tertib dan aman,” tutur Sukamto.

PHR memiliki program transisi sembilan bidang utama untuk menjamin keberlangsungan seluruh kegiatan operasi dan rutin Blok Rokan pada saat menjadi operator. Selain itu pada masa transisi, CPI dan PHR telah merencanakan dan menyusun program pengeboran sumur di tahun ini. Langkah ini merupakan salah satu upaya menahan turunnya produksi minyak Blok Rokan.

Mengacu data Pertamina yang diperoleh Investor Daily, Pertamina berpotensi harus mengebor 84 sumur selama periode Agustus-Desember tahun ini. Untuk itu, saat ini sedang dilakukan pembahasan antara PHR dan CPI terkait eksekusi pengeboran oleh CPI hingga 8 Agustus dan program pengeboran PHR yang dimulai dari 9 Agustus.

Selain pengeboran, PHR dan Chevron juga membahas soal pasokan listrik dan uap, kontrak dan SCM, teknologi informasi dan petroteknikal, transfer data, human capital, standard operating procedure (SOP) dan perizinan, pengurasan minyak tahap lanjut dengan injeksi kimia (chemical enhanced oil recovery/chemical EOR), serta lingkungan dan dana pascatambang (abandonment and site restoration/ASR).

Untuk mendukung proses alih kelola, PHR dan CPI juga berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Daerah Riau Inspektur Jenderal Agung Setya Imam Effendi. Setya meminta semua pihak agar tidak terjebak dalam isu-isu yang dapat merugikan negara. “Hal-hal yang muncul dari proses alih kelola ini sebaiknya ditelaah terlebih dahulu. Semoga produksi minyak tetap terjaga, pencurian fasilitas produksi menurun, dan illegal tapping menjadi 0%,” kata dia.

Blok Rokan memiliki lima lapangan besar yaitu Duri, Minas, Bangko, Balam South, dan Petapahan yang tersebar di lima kabupaten di Provinsi Riau. Untuk diketahui, pada masa kejayaannya di 1973, produksi minyak Blok Rokan hampir menyentuh 1 juta barel per hari (bph).

Namun, produksi blok migas ini terus turun seiring berjalannya waktu. Di 2011, Blok Rokan masih menghasilkan minyak sekitar 356,98 ribu bph atau berkontribusi 39,56% dari total produksi minyak nasional saat itu 902,35 bph. Akan tetapi mengacu data SKK Migas, di tahun lalu, lifting minyak blok ini tinggal 174.424 bph atau 24,62% dari total lifting minyak nasional 708.488 bph. Pada 2021, Blok Rokan ditargetkan bisa menghasilkan minyak sebesar 165.002 bph.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN