Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pertamina. Foto: IST

Pertamina. Foto: IST

Pertamina Perbanyak Kontrak Impor Minyak Jangka Panjang

Sabtu, 25 Januari 2020 | 09:42 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) bakal memperbanyak kontrak impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM) jangka panjang langsung dengan produsen, pemegang saham blok migas, dan pemilik kilang. Perseroan terus meningkatkan efisiensi pengadaan minyak dan BBM.

“Hal ini untuk meningkatkan reliability supply dan membangun portofolio pengadaan serta shipping, guna meningkatkan benefit komersial dalam jangka panjang,” ujar Sekretaris Perusahaan Pertamina Tajudin Noor kepada Investor Daily, Kamis (23/1).

Disinggung mengenai adanya mafia migas dalam pengadaan minyak dan BBM Pertamina lantaran banyaknya kontrak jangka pendek, Tajudin Noor menuturkan, perseroan memiliki periode kontrak impor minyak dan BBM yang bervariasi. Hal ini dilakukan lantaran kebutuhan minyak dan BBM perseroan tidak selalu sama.

Dia menjelaskan, Pertamina memiliki kontrak pembelian spot yang hanya satu kali pengiriman untuk memebuhi kebutuhan migas bulanan yang fluktuatif. Berikutnya, perseroan juga mempunyai kontrak 3-6 bulan dan 1 tahun yang memungkinkan pengkajian harga secara periodik.

Terakhir, perseroan memiliki kontrak jangka panjang yang menggunakan harga publikasi internasional untuk Minyak Mentah Arab Saudi.

Pada intinya, lanjut dia, Pertamina akan terus meningkatkan efisiensi dalam pengadaan minyak mentah dan BBM. Penandatanganan kontrak jangka panjang pasokan pun akan dilakukan langsung dengan produsen, pemilik hak partisipasi di blok migas, serta pemilik kilang.

Hal ini telah dilakukan perseroan sejak 2015 lalu guna mendapatkan harga terbaik. Dikatakannya, pihaknya membuka kesempatan bagi perusahaan migas internasional yang terpercaya untuk mengikuti proses lelang pengadaan di Pertamina.

Pada saat itu, tercatat lebih dari 70 perusahaan migas internasional mengikuti lelang.

“Dari catatan kami, pada 2019, lebih dari 80% supplier minyak mentah dan BBM yang mensuplai kebutuhan impor Pertamina termasuk ke dalam kategori produsen, NOC (national oil company/perusahaan migas nasional), dan perusahaan migas besar (major oil company),” jelas Tajudin.

Menurut dia, dari pengamatan perseroan sejak 2015, memang ada tiga karakteristik perusahaan yang memberikan terbaik. Pertama, perusahaan yang memiliki produksi sendiri dari hulu atau kilang, yaitu perusahaan migas nasional atau pemain besar. Perusahaan yang mempunyai armada angkutan atau logistik yang efisien seperti perusahaan migas nasional, perusahaan migas besar, dan perusahaan dagang.

Terakhir, perusahaan yang memiliki suplai alternatif dari beberapa region, memiliki banyak konsumen, dan mengelola fasilitas penyimpanan atau pencampuran di berbagai Negara untuk optimasi rantai suplai guna menjembatani kebutuhan spesifikasi BBM Pertamina, seperti perusahaan migas besar dan perusahaan dagang.

Sebelumnya, Senior Vice President Integrated Supply Chain Pertamina Hasto Wibowo mengungkapkan, sama dengan 2019 lalu, impor minyak mentah perseroan diproyeksikan sekitar 6-7 juta barel per bulan pada 2020 ini.

Sebagian besar minyak mentah ini diimpor dari Timur Tengah lantaran perseroan membutuhkan minyak jenis Arabian Light Crude, yakni sekitar 3 juta barel per bulan. Sisanya, perseroan mencari minyak jenis light crude dan medium crude dari berbagai sumber.

Terakhir, di akhir tahun lalu, Pertamina meneken kontrak impor minyak mentah sebesar 950 ribu barel per bulan dari Amerika Serikat untuk periode Februari-Juni 2020. Di 2019, perseroan telah dua kali mengimpor minyak dari Negeri Paman Sam ini masing-masing sebesar 650 ribu barel per bulan pada Juni dan November.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN