Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Benih jagung. Foto ilustrasi: youtube

Benih jagung. Foto ilustrasi: youtube

Pertanian Jagung Perlu Diarahkan ke Mekanisasi

Kamis, 22 Agustus 2019 | 23:00 WIB
Damiana Simanjuntak

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perhepi Bustanul Arifin mengatakan pertanian jagung di Tanah Air perlu memacu pemanfaatan mekanisasi. Dengan begitu, jagung produksi dalam negeri bisa lebih kompetitif karena lebih efisien.

Meski ada upaya-upaya memacu produksi, kata dia, dikhawatirkan harga di dalam negeri akan tetap lebih mahal dibanding barang impor.

Menurut Bustanul, selama ini jagung produksi lokal masih lebih mahal untuk diolah industri lanjutan. Baik oleh industri pakan maupun pangan.

Di sisi lain, lanjut dia, impor produk jadi berbahan baku jagung melenggang masuk ke pasar dalam negeri. Untuk memacu hilirisasi agro industri, salah satunya berbasis jagung, ujar Bustanul, pemerintah harus menerapkan kebijakan yang sinkron.

"Jagung yang diproduksi di dalam negeri lebih mahal dari pada barang jadi (berbahan baku jagung) yang diimpor. Karena upah buruh tani yang tinggi, ditambah uang sewa lahan dan kepemilikan lahan yang rendah. Kalau dari biaya pupuk, tidak sampai 10%. Menurut saya, kondisi ini juga akan menahan minat para investor di sektor industri hilir bermitra dengan petani di hulu," kata Bustanul saat Diskusi Publik PT Tereos FKS Indonesia di Jakarta, Kamis (22/8).

Untuk itu, kata dia, mekanisasi pertanian menjadi solusi yang strategis untuk pertanian jagung di dalam negeri.

"Masalah di pertanian padi, sama dengan di jagung. Karena memang mereka (petani) kan bundle. Usaha tani padi dan usaha tani palawija itu tergabung, lahannya itu-itu saja. Kalau di padi struktur biayanya adalah 48% untuk upah buruh tani, 25% untuk sewa lahan, dan sekitar 9% untuk pupuk. Kondisinya hampir serupa untuk jagung. Karena itu, nggak usah takut mendorong mekanisasi. Toh, pertanian itu sekarang tidak lagi dianggap sebagai pekerjaan bergengsi," kata Bustanul.

Apalagi, imbuh dia, saat ini semakin sulit menemukan petani atau orang yang mau menjadi buruh tani.

"Saya tidak risau, toh jumlah petani sudah semakin berkurang. Dengan mekanisasi, justru petani semakin efisien dan menghasilkan produksi yang kompetitif," kata dia.

Yang harus menjadi fokus pemerintah, lanjut dia, mendorong penduduk desa atau masyarakat petani beralih profesi. Agar dapat diterima sektor jasa atau industri bernilai tambah tinggi.

"Untuk itu, orang desa harus berpendidikan dan memiliki keterampilan. Tanpa itu, orang desa akan tersisih. Itu yang tidak kita inginkan," kata Bustanul.

Termasuk, lanjut Bustanul, mendorong perusahaan agar mau bermitra dengan petani.

"Misalnya, agar perusahaan bisa mendampingi petani dalam menerapkan cara bertani yang baik. Atau, memberikan bantuan mekanisasi," kata Bustanul.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Tereos FKS Indonesia Laurent Lambert mengatakan, jagung menjadi isu penting. Dimana, kata dia, untuk menghasilkan corn starch (maizena, tepung pati jagung), sirup glukosa, sirup fruktosa, dan maltodextrin yang dibutuhkan industri makanan dan minuman, Tereos menggiling 1.300 ton jagung setiap harinya.

Saat ini, kata dia, 100% jagung kebutuhan Tereos berasal dari impor, diantaranya dari Brasil dan Argentina. Tereos, kata dia, membutuhkan pasokan jagung dengan spesikasi kualitas tertentu. Salah satunya, kadar aflatoksin harus di bawah 20 ppb. Yang harus didukung pasokan berkelanjutan dan terjamin.

"Jagung merupakan topik penting bagi kami. Kami terbuka mempertimbangkan semua opsi kolaborasi untuk membangun pertanian jagung di Indonesia. Kami adalah industri pengguna jagung, yang menghubungkan petani dengan industri di hilir. Dimana, kami membutuhkan jaminan kualitas, yang tentu akan mempengaruhi kualitas di produk akhir," kata Laurent.

Dengan investasi sebesar US$ 100 juta yang dimulai sejak tahun 2014, kata dia, pada tahun 2018 Tereos menghasilkan 15 ribu ton corn starch per bulan, 7 ribu ton sirup glukosa per bulan, 2 ribunton maltodextrin per bulan. Ditambah, pengembangan bisnis yang ditargetkan bisa menghasilkan 6 ribu ton sirup fruktosa per bulan mulai akhir tahun 2019.

"Produk kami dimanfaatkan oleh industri makanan seperti bihun dan permen, minuman berkarbonasi, hingga bioplastik," kata Laurent.

Sebagai industri padat modal, kata dia, Tereos juga menghadapi tantangan dari pasar. Diantaranya, kata dia, perang dagang menyebabkan harga corn starch produksi Tiongkok lebih murah. Padahal, kata Laurent, untuk bahan baku saja, jagung yang diimpor perusahaan dikenakan bea masuk (BM) sekitar 5%.

"Saat ini, kami memasok 20% terhadap kebutuhan corn starch di Indonesia. Dan, kami ingin tetap bertumbuh dan mempertahankan sebagai pemimpin pasar. Dimana, produksi lokal saat ini baru bisa memasok sekitar 40% kebutuhan corn starch Indonesia. Sisanya, impor," kata Laurent.

Direktur Penjualan dan Pemasaran Tereos Maya Devi menambahkan, semakin bertambahnya industri serupa akan semakin memacu pertumbuhan di dalam negeri.

"Karena kalau dihasilkan di dalam negeri kan lebih baik, berarti ada nilai tambahnya di sini. Karena itu, kami mendorong upaya-upaya yang mulai dilakukan pemerintah, salah satunya dengan perusahaan swasta di Lombok. Yang katanya akan menghasilkan 40 ton jagung per hari dengan kadar aflatoksin 5 ppb pe dan akan dipacu menjadi 200 ton per hari mulai tahun depan. Kami juga sedang meneliti jagung yang ada di pasaran lokal, untuk memastikan peluangnya kami manfaatkan," kata Maya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN