Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Pertamina Geothermal Energy (PGE)  Area Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara.

PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong di Tomohon, Sulawesi Utara.

PGE Targetkan Jadi Perusahaan Energi Hijau Kelas Dunia

Kamis, 29 Juli 2021 | 11:16 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Memasuki 2021, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mulai melangkah untuk menjadi Perusahaan Energi Hijau Kelas Dunia (World Class Green Energy Company) dengan menjalankan berbagai strategi dan inovasi. Salah satunya PGE akan meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi menjadi 1.540 megawatt (MW) pada 2030 dan menjadi produsen panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Sebagai bagian dari subholding kelistrikan dan energi baru terbarukan PT Pertamina (Persero), PGE akan mengembangkan kegiatan-kegiatan dalam manajemen industri pengembangan energi bersih, sehingga menjadi pionir dalam pengembangan energi masa depan di Indonesia. Dengan peningkatan kapasitas menjadi 1.540 MW pada 2030, PGE berpotensi untuk bisa memberikan kontribusi potensi pengurangan emisi sebesar 9 juta ton CO2 per tahun.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Tafif Azimudin menuturkan, kemitraan strategis (strategic partnership) merupakan salah satu strategi perusahaan untuk menambah kapasitas terpasang panas bumi.

“Kami melakukan studi bersama dengan beberapa potential partner, diantaranya dengan PLN Gas & Geothermal (PLN GG) dan Medco Power Indonesia untuk menjajagi potensi penambahan kapasitas yang bisa dilakukan baik di wilayah kerja PGE maupun di wilayah kerja PLN GG dan Medco,” kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (29/7).

Pada saat yang sama, PGE juga tengah menyiapkan pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen) yang saat ini tengah menjadi tren transisi energi dunia. Pihaknya sangat tertarik bisa berada di garda terdepan dalam mencari hal-hal baru dalam meningkatkan nilai dari sumber daya panas bumi yang ada di Indonesia, terutama yang ada di wilayah kerja PGE.

Green hydrogen adalah salah satu bentuk energi baru dan energi masa depan yang sangat bersih. Ini merupakan salah satu kunci di dalam mencapai target zero emision di masa depan,” ujar Tafif.

PGE, imbuhnya, secara sistematik menggunakan pendekatan multitrack development dalam mengembangkan panas bumi. Tidak hanya mencari sumber daya panas bumi untuk uap yang bisa dikembangkan menjadi listrik, pihaknya pada saat yang sama juga mencari fluida-fluida lain yang bisa didayagunakan untuk pengembangan green hydrogen.

Pengembangan green hydrogen akan dilakukan melalui strategic partnership, baik dari sisi teknologi, akses ke pasar, maupun sisi pendanaan. “PGE mengemban misi-misi strategis dari Pertamina Group untuk berkolaborasi dengan semua pihak di Indonesia memimpin proses transisi energi melalui inovasi-inovasi dibidang energi bersih,” tegas Tafif.

Hingga saat ini, PGE memimpin dalam pengelolaan panas bumi nasional dengan kapasitas terpasang 1.887 MW, di mana sebesar 1.205 MW dikelola besama mitra dan 672 MW dioperasikan sendiri oleh PGE. Pada tahun lalu, PGE memproduksi listrik panas bumi sebesar 4.618 Giga Watt Hour (GWh) dari 15 blok panas bumi yang dikelolanya.

“Kapasitas terpasang di seluruh wilayah kerja panas bumi PGE ini mencakup 88% dari total kapasitas terpasang listrik panas bumi yang ada di Indonesia. Ini menunjukan betapa besar kontribusi PGE dalam pengembangan sumber daya panas bumi di Indonesia,” kata Direktur Operasi PGE Eko Agung Bramantyo.

Dengan wilayah kerja sebagian besar berada di pegunungan terpencil, lanjutnya, membuat pengembangan panas bumu cukup menantang. Pada awal pengembangan, tak sekedar menggarap proyek panas bumi, pihaknya harus membangun jalan dan jembatan untuk mengangkut peralatan proyek. Topografi yang terjal juga menjadi tantangan lain dalam pengembangan panas bumi.

“Kami bekerja sama dengan konsultan dan universitas untuk mengembangkan Early Warning System (EWR) untuk antisipasi terhadap adanya bencana longsor di sekitar Area dan Proyek PGE,” jelasnya.

Saat ini, masyarakat sekitar area panas bumi PGE disebutnya telah menikmati multiplier effect dari pengembangan panas bumi, salah satunya adalah dengan berkembangnya infrastruktur, “Di salah satu Area PGE, awalnya masyarakat membutuhkan waktu 6 jam untuk menuju kota terdekat, itupun harus menggunakan motor yang dipasangi rantai di rodanya. Sekarang jalan sudah mulus, hanya butuh waktu 30 menit menuju kota terdekat,” ujar Agung.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN