Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
LNG

LNG

Holding Migas

PGN Bakal Ikut Tangani Bisnis LNG Pertamina

Retno Ayuningtyas, Jumat, 23 Agustus 2019 | 18:29 WIB

JAKARTA, investor.id – Pemerintah berencana melibatkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk dalam bisnis gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang kini ditangani oleh PT Pertamina (Persero), sebagai induk Holding Migas. Kebijakan ini merupakan bagian dari integrasi bisnis gas Pertamina dan PGN.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menuturkan, kebijakan ini bukan berarti pemerintah mengurangi bisnis Pertamina. Pasalnya, dia mengingatkan, PGN merupakan bagian dari Holding Migas di mana 65% sahamnya dikuasai Pertamina dan Negara.

Pasca Holding Migas terbentuk, lanjutnya, bisnis gas memang tidak lagi di Pertamina. “Pertamina [kelola] hulu, yang memproduksi gas itu ada di Pertamina. Hanya untuk yang midstream sampai hilir [bisnis gas] itu PGN,” kata dia di Jakarta, Jumat (23/8).

Dia menjelaskan, Pertamina nantinya akan menangani bisnis gas mulai dari produksinya dari blok migas hingga diolah menjadi LNG. Berikutnya, PGN akan mulai terlibat dari penjualan LNG dari regasifikasi hingga penyaluran gasnya ke industri dan rumah tangga. Penjualan LNG yang dimaksud yakni yang langsung ditawarkan ke masyarakat. “Jadi Pertamina tidak mengurus penjualan retail [gas], itu [urusan] Pertagas dan PGN,” tutur Fajar.

Terkait rencana ini, disebutnya bahwa Pertamina tidak keberatan. Pasalnya, pengalihan bisnis LNG ini merupakan aksi korporasi perseroan. Sementara terkait penolakan serikat pekerja atas rencana ini, dikatakannya hanya perlu dijelaskan tentang hal tersebut. “Kalau di Pertamina, ya memang Pertamina melakukan itu [pengalihan bisnis LNG], itu kan corporate action-nya Pertamina,” tambahnya.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso membenarkan soal alih kelola bisnis LNG ini. Senada dengan Fajar, dijelaskannya bahwa dalam bisnis LNG ini, Pertamina akan berperan di pengadaannya. Sementara PGN akan bertugas menangani proses penggunaan LNG untuk konsumsi gas di dalam negeri.

Pihaknya siap menjalankan tugas ini. “Kami sudah siapkan direktorat baru untuk menangani bisnis LNG ini,” ujarnya.

PGN sendiri mulai gencar mengembangkan bisnis LNG-nya. Subholding gas itu bersama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III akan bekerja sama membangun terminal LNG di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dengan target operasi apda 2023. Kapasitas fasilitas ini dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan hingga mencapai 180 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd).

Saat ini, PGN juga mengoperasikan unit penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) di Lampung dan di Jawa Barat. Kemudian, setelah integrasi. PGN melalui PT Perta Arun Gas juga mengelola Terminal LNG di Arun, Aceh.

Kemudian, PGN juga menjajaki potensi ekspansi bisnis LNG di Asia Tenggara, salah satunya Filipina. PGN telah mengirimkan Letter of Intent (LoI) untuk kerja sama bisnis gas di Filipina ini. Rencananya, PGN akan menggandeng mitra, baik lokal Filipina maupun pemain LNG global guna membagi beban investasi dan risiko bisnis.

 

Trading LNG

 

Selama ini, bisnis LNG Pertamina tidak hanya sekadar regasifikasi LNG dan penyalurannya ke konsumen. Sebagai informasi, bisnis LNG Pertamina selama ini meliputi penjualan LNG yang dihasilkan dari Kilang LNG PT Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Pasokan LNG ini dikirimkan ke fasilitas regasifikasi LNG di dalam negeri dan ekspor ke beberapa negara tetangga.

Terkait bisnis jual beli LNG dari kilang ini, Gigih mengaku belum mengetahui apakah akan tetap dikelola Pertamina atau PGN. Sejauh ini, pengalihan bisnis LNG yang dikerjakan pihaknya yakni seperti yang telah disebutkan, penggunaan LNG untuk konsumen domestik. “Itu [dialihkan atau tidak] tergantung pemerintah,” kata Gigih.

Tak hanya itu, Pertamina juga membeli LNG dari produsen di luar negeri. Pembelian LNG ini bukan hanya untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan gas di dalam negeri. Pertamina juga memasarkan LNG ini ke pembeli di luar negeri.

Berdasarkan catatan Investor Daily, Pertamina sebelumnya telah meneken tiga kontrak impor LNG. Pertamina telah menandatangani perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan anak usaha Cheniere Energy Inc yakni Corpus Christi Liquefaction Liability Company untuk memasok 0,76 juta ton per tahun LNG mulai 2019 selama 20 tahun. Pertamina juga sudah berkontrak dengan Cheniere Energy dengan volume yang sama namun dimulai pada 2018 dengan durasi 20 tahun.

Kemudian, Pertamina telah berkontrak dengan Woodside dengan volume sekitar 0,6 juta ton per tahun yang bisa ditingkatkan menjadi 1,1 juta ton per tahun. Pasokan 0,6 juta ton per tahun mulai dikirim 2022-2034 dan bisa ditingkatkan menjadi 1,1 juta ton per tahun pada 2024-2038. Terakhir, perseroan memiliki kesepakatan (head of agreement/HoA) dengan ExxonMobil untuk pasokan sebanyak 1 juta ton per tahun selama 20 tahun mulai 2025.

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA