Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pipa gas PGN. Foto: IST

Pipa gas PGN. Foto: IST

PGN Tingkatkan Penetrasi Pasar LNG di Tiongkok

Ayu Retnaningtyas, Senin, 2 Desember 2019 | 20:13 WIB

JAKARTA, investor.id  – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk berencana meningkatkan pangsa pasar gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) di Tiongkok. Hal ini lantaran kebutuhan gas Tiongkok tercatat cukup besar.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Muktar menuturkan, kebutuhan LNG Tiongkok cukup besar karena kebijakan pemerintah negara tersebut yang mendorong pemakaian gas menggantikan batu bara. Sehingga, kebutuhan gas Tiongkok diproyeksikan akan terus meningkat. Kebutuhan gas ini akan ditutup dengan impor.

“Kalau Tiongkok butuh banyak sekali. Mereka impor sampai 50 metrik ton, itu bisa sampai 1.000 kargo setahun totalnya,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

PGN mulai menjual LNG miliknya ke Tiongkok pada tahun depan. Hal ini menyusul PGN dan Sinopec Corp telah menandatangani perjanjian jual beli gas (PJBG). Berdasarkan perjanjian ini, PGN akan memasok enam kargo LNG ke Sinopec mulai awal Januari 2020.

Menurut Syahrial, penjualan LNG ke Tiongkok ini berpotensi diperpanjang. Namun, pihaknya masih akan negosiasi dengan Sinopec terlebih dahulu. Akan tetapi, Tiongkok memang membutuhkan gas dalam jumlah besar, apalagi ketika musim dingin.

“Masih berpotensi tambah [penjualan], karena sampai midterm lima tahun, mereka sangat berminat. Mereka menyatakan berkeinginan untuk itu [memperpanjang kontrak],” ujarnya.

Untuk sementara ini, lanjutnya, PGN akan mengekspor LNG sebanyak enam kargo ke Tiongkok. Pengapalan LNG ini akan dilakukan pada Januari, Februari, dan Maret. Ke depannya, pihaknya menargetkan juga akan menjual LNG ke perusahaan lain di Tiongkok selain Sinopec. Sehingga, penjualan LNG ke Tiongkok bisa signifikan.

“Ada [selain Sinopec], nanti saya sampaikan. Bisa sekali [sampai puluhan kargo],” tutur Syahrial.

Di sisi lain, dengan mulai mengelola bisnis LNG dari Holding Migas, PGN juga ditugaskan untuk bersama-sama mencari pembeli LNG dari produksi dalam negeri yang tidak terserap di pasar domestik. Salah satunya produksi gas dari Kilang LNG Bontang menyusul akan berakhirnya kontrak penjualan LNG ke pembeli di Jepang (Western Buyer).

Menurut Syahrial, negosiasi penjualan LNG ini masih berjalan. Sayangnya, dia enggan menyebut siapa calon pembelinya. “Nanti yang Western Buyer, kami bersama dengan Pertamina, sedang approach suplai kalau memang butuh diperpanjang lagi,” ujarnya. Pihaknya juga harus membahas penjualan LNG ini dengan pemerintah dan SKK Migas.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Pemasaran Korporat Per tamina Basuki Trikora Putra. Pemasaran LNG Bontang pasca berakhirnya kontrak Western Buyer akan dilakukan bersama PGN. Hal ini lantaran Pertamina masih dalam masa transisi mengalihkan bisnis LNG ke PGN.

Pasar Tiongkok dinilainya cukup menarik untuk memasarkan portofolio LNG yang dimiliki. “Terbuka lah untuk kami jajaki itu [pasar LNG Tiongkok],” tuturnya.

Namun, penjualan LNG Bontang ini ditegaskannya masih dalam penjajakan, termasuk ke Negara lain di Asia Timur. Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan adanya perpanjangan kontrak jika disepakati bersama.

Masa Transisi

Basuki mengungkapkan, nantinya bisnis LNG milik Pertamina akan dialihkan ke PGN. Hal ini termasuk seluruh portofolio pasokan LNG yang dimiliki perseroan akan diserahkan ke PGN, baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Sayangnya, dia tidak merinci kapan pengalihan bisnis LNG rampung seluruhnya.

“Dalam masa transisi ini, kami masih berkoordinasi internal dengan PGN, untuk nanti diserah [bisnisLNG]. Jadi bahasanya masa transisi, belum cut off,” kata dia.

Sebelumnya, terkait pasokan LNG yang dijual ke Tiongkok, Syahrial mengungkapkan bahwa tidak selalu dari sumber dalam negeri. PGN juga dapat mengirimkan pasokan LNG ini dari sumber di luar negeri. Sehingga, ekspansi bisnis ke luar negeri ini tidak akan mengganggu pasokan gas di dalam negeri.

“PGN dapat membantu penjualan protofolio LNG yang dimiliki Pertamina dan menjalankan peran PGN sebagai sub holding gas,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Investor Daily, Pertamina sebelumnya telah meneken tiga kontrak impor LNG. Pertamina telah menandatangani PJBG dengan anak usaha Cheniere Energy Inc yakni Corpus Christi Liquefaction Liability Company untuk memasok 0,76 juta ton per tahun LNG mulai 2019 selama 20 tahun. Pertamina juga sudah berkontrak dengan Cheniere Energy dengan volume yang sama namun dimulai pada 2018 dengan durasi 20 tahun. Kemudian, Pertamina telah berkontrak dengan Woodside dengan volume sekitar 0,6 juta ton per tahun yang bisa ditingkatkan menjadi 1,1 juta ton per tahun. Pasokan 0,6 juta ton per tahun mulai dikirim 2022-2034 dan bisa ditingkatkan menjadi 1,1 juta ton per tahun pada 2024-2038.

Perseroan juga memiliki kesepakatan (head of agreement/HoA) dengan ExxonMobil untuk pasokan sebanyak 1 juta ton per tahun selama 20 tahun mulai 2025. Pertamina juga telah meneken PJBG dengan Mozambique LNG 1 Company Pte Ltd sebesar 1 juta ton per tahun.

Selain Tiongkok, PGN sebelumnya telah menyampaikan Letter of Intent kepada entitas Filipina guna menjajaki kerja sama komersialisasi LNG di Filipina. PGN telah mengirimkan Letter of Intent (LoI) dan kini pada tahap diskusi untuk dapat difinalisasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN