Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hariyadi Sukamdani. Foto: IST

Hariyadi Sukamdani. Foto: IST

PHRI: Insentif Fiskal Pariwisata Harus Segera Dieksekusi

Arnoldus Kristianus, Rabu, 26 Februari 2020 | 23:51 WIB

JAKARTA, investor.id - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan insentif fiskal yang diberikan untuk sektor pariwisata perlu segera dieksekusi di lapangan. Eksekusi bisa dilakukan apabila ada kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah.

Pemerintah baru meluncurkan insentif untuk pariwisata. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari wabah virus corona (Covid 19) terhadap perekonomian Indonesia.

Insentif diberikan dalam beberapa hal, pertama, memberikan diskon tiket sebesar 30% untuk setiap penerbangan di 10 destinasi wisata yang berlaku selama 3 bulan yaitu bulan Maret, April, dan Mei 2020.

Kedua, memberikan insentif berupa diskon avtur di bandara pada 9 destinasi wisata dengan total diskon ini senilai Rp265,5 miliar dan ini juga berlaku selama 3 bulan.

Ketiga, pemerintah juga mendorong adanya insentif sesuai dengan usulan dari asosiasi bahwa untuk pajak hotel dan restoran di 10 destinasi wisata tarifnya dinolkan.

“Menurut saya bagus, mudah mudahan eksekusi bisa lancar pajak hotel dan restoran di-nol-kan untuk daerah yang terkena dampak korona hanya eksekusinya ini yang harus kita tunggu,” ucap Hariyadi ketika ditemui di Kompleks Parlemen DPR pada Rabu (26/2).

Bila dilihat ada keterkaitan antar insentif ini sehingga memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Misalnya saat pemerintah pusat memberikan subsidi maka pemerintah daerah tidak menarik pajak tetapi memberikan subsidi. Saat ada langkah yang seirama antara pemerintah pusat  dan daerah maka bisa langsung dieksekusi. Diharapkan hal ini bisa berdampak langsung ke masyarakat.

“Kalau bisa cepat lebih bagus paling tidak orang dari yang tadinya menunda atau membatalkan kepergiannya bisa tetap melakukan perjalanan,” ucap pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini.

Dito Ganinduto
Dito Ganinduto

Ditemui di tempat yang sama, Ketua Komisi XI DPR RI Dito Ganinduto mengatakan dengan adanya insentif ini diharapkan akan mendorong pariwisata domestik. Sebelumnya pemerintah sudah melakukan investasi besar untuk mendongkrak pariwisata. Tetapi dengan adanya korona jumlah pariwisata sangat menurun.

“Jika dibiarkan maka industri pariwisata kita bisa colapse  Dengan adanya stimulus untuk pariwisata ini seharusnya membantu. Sehingga saat permasalahan virus korona selesai wisatawan akan datang ke Indonesia,” ucap Dito.

Suahasil Nasara.
Suahasil Nasara.

Di sisi lain  Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemberian beberapa insentif oleh pemerintah untuk sektor pariwisata merupakan upaya mengurangi dampak virus korona terhadap sektor tersebut. pemerintah telah mengkaji sektor-sektor terdampak pelemahan ekonomi global akibat virus korona sehingga dapat diberikan stimulus dan tetap ada kegiatan perekonomian di dalamnya.

“(Insentif) ini adalah satu paket yang dipikirkan pemerintah, ke mana dia kenanya. Jadi,  pertumbuhan ekonomi dunia itu berdampak di beberapa titik, nah itu lah yang kemudian diberikan stimulus,” ucap Suahasil Nazara.

Ia mengatakan pemberian insentif dilihat berdasarkan hal-hal yang menunjang wisatawan untuk datang seperti  tiket pesawat murah, biaya penginapan murah, hingga ketersediaan berbagai jenis makanan yang murah. “Apa yang dicari wisatawan domestik? tiket murah hotel murah sampai makanan murah. Itu yang kita pikirkan,” ucap Suahasil.

Selama ini sektor pariwisata sangat terdampak oleh wabah korona.  Dengan adanya penghentian wisatawan Tiongkok serta sedikitnya wisatawan asing yang masuk ke Indonesia.  Melalui pemberian insentif ini diharapkan dapat meningkatkan wisatawan domestik untuk menggantikan posisi wisatawan asing tersebut sehingga tetap terjadi pergerakan ekonomi.

“Diharapkan ada gerak ekonomi di situ dan  enggak ikut turun. Kalau wisatawan asing turun, maka diganti wisatawan domestik. Itu yang disebut global value chain sehingga kami desain menjadi satu paket komplit,” tutur Suahasil.

Menurutnya pertumbuan ekonomi Indonesia juga akan melambat bila perekonomian Tiongkok melambat. Bila pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun 1% diperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik akan melambat 0,3%. Penurunan terjadi karena Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia, sehingga dampaknya akan berpengaruh pada negara.

“Kita mengekspor barang, kalau di sana gerakan ekonominya turun maka ekspor Indonesia turun,” kata Suahasil.   

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN