Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Grand Mercure Yogyakarta Adisucipto. Investor Daily/IST

Grand Mercure Yogyakarta Adisucipto. Investor Daily/IST

Pilihan Tempat Menginap di Yogyakarta

Minggu, 20 Juni 2021 | 10:46 WIB
Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

LAZIMNYA destinasi wisata, Yogyakarta punya segudang pilihan tempat untuk menginap. Wisatawan tinggal pilih. Ada hotel melati, bintang dua hingga hotel bintang lima. Semua tersedia.

Berikut ini tiga hotel yang dapat menjadi pilihan Anda Ketika berwisata ke Yogyakarta.

Grand Mercure Yogyakarta Adisucipto

Hotel ini terletak di pusat kota dan menghadirkan budaya Jawa dengan balutan moderen. Pada gerbang bagian depan hotel, kita akan melihat gapura susunan batu candi dan stupa Candi Borobudur, juga air mancur di depan lobi dengan ukiran relief apsara, salah satu dewi yang juga ada di Candi Borobudur. Etalase kaca yang di dalamnya terdapat patung dengan pakaian Rama Sinta gaya Surakarta yang ada di depan lobi, tambah mengentalkan nuansa balutan Jawa di hotel ini.

Masuk ke dalam lobi hotel, Anda akan terpukau dengan mozaik Candi Borobudur yang begitu besar dan detail dalam pembuatannya, menjadi latar belakang dari meja counter reception.

Masih di area lobi, kita bisa menjumpai produk UMKM lokal berupa wayang kulit, pembatas buku wayang, maupun batik tulis dari Giriloyo Imogiri.

Hotel ini menawarkan 305 kamar dari superior hingga deluxe suite room, 12 ruang pertemuan, lengkap dengan fasilitas hotel seperti bar, restoran, kolam renang, gym, dan spa. Ruang pertemuan tidak kalah akan sentuhan candi, dari handle pintu dengan stupa candi, atap berupa peta candi Borobudur, dinding berbalut ukiran stupa, hingga karpet dengan motif padma – bunga teratai.

Piazza Open Theater, panggung terbuka yang luas yang bisa kita jumpai di lantai delapan, memperkuat suasana heritage di hotel ini. Dua gunungan besar diantara gerbang- gerbang candi. Tempat ini biasa digunakan untuk acara pernikahan, gathering, makan malam, pertunjukan, maupun Latihan tari Jawa.

Untuk kulinernya, jelajahi sesuatu yang baru, temukan Moonpia, kulit bakpia dengan isian kue bulan, makanan khas yang hanya bisa ditemukan di Grand Mercure Yogyakarta. Hotel ini juga menawarkan Rediscover Indonesia - local iconic experience, yakni menginap di Grand Mercure dan lengkapi perjalanan budaya Anda di Yogyakarta dengan pertunjukan Sendratari Ramayana di Situs Warisan Dunia Candi Prambanan.

Di sini Anda akan melihat kisah Rama Sinta dari relief candi, diterjemahkan menjadi tarian yang mempesona. Paket sudah komplit dari menginap, drop off dan pick up di Candi Prambanan dan melihat pertunjukan sendratari Ramayana.

Ibis Yogyakarta Adisucipto

Ibis Yogyakarta Adisucipto. Foto: Investor Daily/IST
Ibis Yogyakarta Adisucipto. Foto: Investor Daily/IST

Belokasi tepat di belakang Grand Mercure Yogyakarta bahkan di bagian dalam juga terkoneksi, ibis Yogyakarta Adisucipto juga bertemakan Candi Borobudur. Hotel ini cocok untuk para tamu hotel yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Kesan yang dapat dilihat dari ibis satu ini adalah modern dan hangat.

Hotel ini memiliki 144 kamar superior dengan modern desain, 4 ruang pertemuan, lengkap dengan hotel. Di setiap ruang yang ada di hotel ini, selalu bisa kita jumpai ornamen, lukisan, ukiran, maupun lampu-lampu yang terinspirasi dari Candi Borobudur. Hotel ini juga memiliki fasilitas lengkap seperti halnya bar, restoran, kolam renang, web corner, dan gym.

Menariknya lagi, kamar ibis menawarkan desain modular yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan tamu, dalam warna-warna hangat dengan bentuk dan bahan ramah lingkungan yang terinspirasi oleh hotel kelas atas.

Ibis juga memiliki tempat tidur yang inovatif dan revolusioner, BedTM, dilengkapi bantal besar dan empuk, selimut nyaman, dan kasur yang membentuk dirinya sendiri dengan sempurna, untuk kesegaran yang dalam tidur. Ibis Yogyakarta Adisucipto dibawah payung program Accor Rediscover Indonesia menawarkan pengalaman lokal unik yakni Heritage & Village Tour. Menginap di hotel ini, bangun pagi, dan temukan lebih dari sekadar bersepeda.

The Phoenix Hotel Yogyakarta MGallery

The Phoenix Hotel Yogyakarta MGallery. Foto: Investor Daily/IST
The Phoenix Hotel Yogyakarta MGallery. Foto: Investor Daily/IST

The Phoenix Hotel Yogyakarta MGallery menampilkan hotel butik dengan desain aslinya dan memiliki kisah unik untuk diceritakan. Memilih MGallery berarti memilih untuk hidup dan mengalami Momen Berkesan. Hotel ini didirikan pada 1918 oleh Kwik Djoen Eng dan digunakan sebagai rumah tinggal.

Dia adalah pendiri NV Kwik Hoo Tong Handel My, yang didirikan di Semarang pada tahun 1877. Perusahaan dagang tersebut terutama bergerak di bidang perdagangan gula. Tahun 1923, dia pernah mengekspor sampai 125.000 ton gula ke Eropa, Cina, India, dan Amerika.

Agen-agen perwakilannya di luar negeri meliputi Singapura, Hongkok, Amoy, Shanghai, Taipei, London, New York, Hamburg, Paris dan San Fransisco. Tak heran, bila Kwik  Djoen Eng menjadi salah satu orang terkaya di Hindia Belanda pada waktu itu.

Ketika terjadi resesi ekonomi dunia pada tahun 1930, MV Kwik Hoo Tong mengalami kesulitan yang tidak dapat diatasi oleh generasi ketiganya, dan akhirnya dijual kepada Liem Djoen Hwat, seorang pedagang dari Desa Tempel, Sleman, Yogyakarta.

Tidak lama setelahnya, rumah ini disewa oleh D.N.E. Francle, seorang businessmen dari, Belanda dan digunakan sebagai hotel untuk para pensiunan yang dinamakan Spendid Hotel hingga tahun 1942. Ketika pendudukan Jepang di Indonesia, mereka mengambil alih hotel dan merubahnya menjadi Yamato Hotel.

Dan tahun 1945 setelah kepergian Jepang, hotel tersebut dikembalikan pada Liem Djoen Hwatt lalu pada 1946-1949 ketika Yogyakarta menjadi ibu kota negara, hotel ini digunakan sebagai rumah residensi Konsulat Cina yang Bernama New Shu Chun.

Pada Januari 1951, bangunan ini kemudian disewa oleh Tjipto Ruslan, direktur dari HONET – Hotel National & Tourism, sebuah badan percepatan dunia perhotelan dan pariwisata yang dibuat oleh Ir. Soekarno paska kemerdekaan dan berkantor pusat di Yogyakarta.

Pada saat itulah, Bung Karno sempat berkantor di hotel ini, dan beliau juga memiliki kamar tidur favorit di sisi timur lantai 1 hotel. Kemudian, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka.

Pada 2003, Imelda Sundoro Hosea kemudian membeli hotel ini dan berkomitmen untuk tetap membuat hotel ini sebagai heritage hotel. Terdiri atas 144 kamar dengan standar hotel butik berstandar hotel bintang lima kemudian membuatnya menjadi the Phoenix Hotel Yogyakarta MGallery dibawah operator hotel Accor.

The Phoenix Hotel Yogyakarta beradapa persis di jantung kota, Tugu Yogyakarta. Bangunan cagar budaya bergaya colonial berpadu dengan arsitektur jawa dan hiasan dekorasi Cina, menambah kecantikannya. Setiap kamarnya dilengkapi dengan balkon dengan pemandangan perkotaan dan kolam renang. Fasilitas yang ada di hotel ini antara lain museum, restoran, bar, kolam renang, gym, dan spa.

Di bawah Rediscover Indonesia – Iconic Local Experience, the Phoenix Hotel Yogyakarta menawarkan pengalaman ikonik yang hanya bisa ditemukan di hotel ini. Yakni wisata sejarah ruang kerja Bung Karno, sekaligus menginap di kamarnyadan mencicipi hidangan favorit Bung Karno di 1918’s Terrace Lounge.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN