Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jagung Hibrida

Jagung Hibrida

Pinsar Minta Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Jagung

Tri Listiyarini, Rabu, 15 Januari 2020 | 11:18 WIB

Jakarta, investor.id-Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) mengharapkan pemerintah lebih memperhatikan kenaikan harga jagung untuk pakan ternak. Hal itu diperlukan dalam rangka menghindari gejolak harga telur dan daging pada awal 2020. Saat ini, harga jagung sudah di kisaran Rp 5.000-5.100 per kilogram (kg) atau lebih tinggi dari ketentuan harga dalam Permendag No 96 Tahun 2018 yang menetapkan harga jagung sebesar Rp 4.000 per kg.

Ketua Bidang Layer Pinsar Leopold Halim menjelaskan, mengacu Permendag No 96 Tahun 2018 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, acuan harga pembelian jagung di tingkat petani dengan kadar air 15% sebesar Rp 3.150 per kg dan harga acuan penjualan di industri pengguna (sebagai pakan ternak) Rp 4.000 per kg. Kenaikan harga jagung dikarenakan persediaan yang terus menipis mengingat dalam tiga bulan terakhir tidak ada hujan atau musim kemarau. "Jagung tergantung hujan, ditanam sekarang lalu tiga bulan kemudian baru panen, tiga bulan lalu kan tidak ada hujan. Saat ini mulai hujan tapi panen nanti sekitar bulan April," papar dia seperti dilansir Antara, kemarin.

Leopold memprediksikan persediaan jagung akan semakin menipis dan langka pada periode bulan Februari hingga Maret tahun ini. Pemerintah menyatakan bahwa produksi jagung di dalam negeri mencukupi, tapi barang sedikit sehingga harganya juga tinggi, semakin langka semakin mahal. Leopold mengatakan kontribusi jagung terhadap pakan ternak lebih dari 50%. "Jika dikalkulasikan, jagung paling tinggi untuk pakan ternak lebih dari 50%. Saat ini, belum ada subtitusi atau pengganti jagung. Kalaupun ada semacam gandum, itupun harus impor," katanya.

Menurut dia, jika pasokan jagung dalam negeri mengalami kekurangan maka opsi impor bisa menjadi pilihan dalam rangka menjaga stabilitas harga pangan. Pinsar sendiri sudah mengusulkan ke pemerintah, mengirim surat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk impor jagung tapi tidak ada jawaban. Harusnya jagung murah jadi harga pangan jadi murah. “Kami harap pemerintah memberikan solusi terhadap harga jagung untuk pakan ternak yang tinggi. Harga jagung naik tinggi, tapi pemerintah tidak mau impor jagung. Namun pemerintah juga belum kasih solusi," ujar Leopold.

Padahal, ungkap Leopold Halim, dengan harga jagung yang tinggi, dapat membuat peternak ayam broiler merugi hingga inflasi. "Kalau dari sisi pemerintah, hitungannya akan berdampak inflasi, kalau hitungan peternak, kita menjadi rugi," jelas dia.

 

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA