Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas PLN sedang memriksa rutin di Gardu Induk Cengkareng , Jakarta Barat. Foto: IST

Petugas PLN sedang memriksa rutin di Gardu Induk Cengkareng , Jakarta Barat. Foto: IST

SEMESTER I-2019

PLN Cetak Laba Bersih Rp 7,35 Triliun

Rangga Prakoso, Senin, 23 September 2019 | 11:06 WIB

JAKARTA, investror.id – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN berhasil membukukan laba bersih Rp 7,35 triliun pada semester I-2019. Pencapaian ini meningkat pesat dibandingkan periode sama tahun lalu yang masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 5,35 triliun.

"Capaian ini didukung oleh peningkatan nilai penjualan tenaga listrik PLN sebesar 4,95% atau Rp 6,29 triliun menjadi Rp 133,45 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 127,16 triliun," kata Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/9).

Sarwono mengatakan, sampai saat ini pemerintah masih mempertahankan tarif listrik tidak naik guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, sesuai UU Nomor 19 tahun 2003, pemerintah terus berkomitmen mendukung kesehatan keuangan PLN untuk menjalankan penugasan public service obligation (PSO).

Tak hanya itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mendukung ekspansi PLN dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan (PIK), melalui mekanisme kompensasi recovery biaya penyediaan tenaga listrik dengan marjin yang wajar sehingga terdapat dana internal (internal fund) sebagai pendamping pinjaman investasi.

Pertumbuhan penjualan ini, kata Sarwono, berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi sebesar 118,52 terra watt hour (TWh) atau naik 4,41% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 113,52 TWh. Peningkatan konsumsi kWh juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan dimana sampai dengan akhir Juni 2019 telah mencapai 73,62 juta atau bertambah 3,92 juta pelanggan dari akhir Juni 2018 yang sebesar 69,7 juta pelanggan.

"Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 98,3% pada akhir 2018, menjadi 98,81% pada 30 Juni 2019," ujar dia.

Seiring dengan meningkatnya penjualan, maka volume produksi listrik juga naik yang menuntut kenaikan biaya usaha PLN dimana sampai dengan Juni 2019 naik sebesar Rp 10,08 triliun atau 7,08% menjadi Rp 152,51 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 142,43 triliun.

Komponen biaya usaha dengan kenaikan terbesar adalah beban pembelian dari listrik swasta yang mengalami kenaikan sebesar Rp 3,62 triliun dari Rp 37,8 triliun sampai dengan Juni 2018 menjadi Rp 41,4 triliun sampai dengan Juni 2019, seiring dengan masuknya beberapa IPP baru untuk menyuplai daya ke PLN.

Biaya bahan bakar masih mendominasi kontribusi biaya usaha yaitu 43% dari total biaya usaha, dimana biaya gas merupakan biaya bahan bakar terbesar meskipun output listriknya hanya berkontribusi 22%.

 

Optimalkan Pembangkit

Sarwono menambahkan, PLN tetap mengoptimalkan pembangkit berbahan bakar batu bara untuk mendongkrak efisiensi sejalan dengan dukungan pemerintah terkait harga maksimal batu bara untuk sektor kelistrikan. Kontribusi produksi listrik dari pembangkit batu bara sebesar 61% dari total produksi listrik nasional.

Efisiensi operasi secara signifikan, kata dia, juga dilakukan secara berkelanjutan dengan mengurangi konsumsi BBM untuk pembangkit PLN, dan menggantinya dengan biofuel serta menambah pasokan listrik dari pembangkit lain yang berbiaya operasi lebih murah. Listrik dari pembangkit BBM (fuel mix) selama semester I-2019 menurun signifikan menjadi 4,3%, lebih rendah dibanding akhir 2018 sebesar 6% dan jauh lebih rendah dibanding akhir tahun 2014 yang sebesar 12%.

Selama enam bulan pertama 2019 ini, PLN berhasil menambah kapasitas pembangkit sebesar 872,44 MW sehingga total kapasitas terpasang pembangkit di Indonesia menjadi 58.519 MW. PLN juga berhasil menambah jaringan transmisi 2.847 kilometer sirkuit (kms) menjadi 56.453 kms, dan menambah gardu induk sebesar 6.557 MVA menjadi 137.721 MVA. Hal ini untuk mendukung peningkatan penjualan PLN.

Penambahan kapasitas juga dilakukan di sisi energi baru terbarukan (EBT), dimana pada semester I-2019, PLN berhasil menambah 135 MW yang berasal dari EBT. Dengan penambahan ini maka total kapasitas pembangkit dari EBT menjadi sebesar 7.266 MW

 

Faktor Kurs

Selain itu, membaiknya laba PLN juga disebabkan menguatnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar Amerika Serikat dan EUR, terlebih sebagian besar pinjaman jangka panjang yang diperoleh PLN untuk pendanaan investasi terutama Program 35 GW dalam bentuk dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah tersebut tentunya berdampak positif bagi hasil usaha PLN, yang mana PLN membukukan keuntungan selisih kurs pada Juni 2019 sebesar Rp 5,04 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA