Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT PLN (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) akan menyerap gas yang dihasilkan dari Proyek Abadi, Blok Masela yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2027 nanti. (doc PLN)

PT PLN (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) akan menyerap gas yang dihasilkan dari Proyek Abadi, Blok Masela yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2027 nanti. (doc PLN)

PLN dan Pupuk Indonesia Calon Pembeli Gas Proyek Abadi

Retno Ayuningtyas, Kamis, 20 Februari 2020 | 10:35 WIB

 

JAKARTA – PT PLN (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) akan menyerap gas yang dihasilkan dari Proyek Abadi, Blok Masela yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2027 nanti. Komitmen pembelian ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara kedua perusahaan dengan Inpex Masela Ltd selaku operator Blok Masela.

 

Penandatangan Nota Kesepahaman ini dilakukan oleh Presiden Direktur INPEX Masela Ltd Kenji Kawano, Direktur Utama PLN Zulkilfi Zaini, dan Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat. Penandatanganan juga disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii dan Presiden & CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda.

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menuturkan, pembelian gas Proyek Abadi oleh PLN dan Pupuk Indonesia dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri. Pasalnya, konsumsi gas domestik terus meningkat setiap tahunnya.

 

“Rencananya 2-3 juta ton per tahun itu [diambil] PLN. Pupuk Indonesia hanya 150 mmscfd (million standard cubic feet per day/juta kaki kubik per hari), itu gas pipa,” kata dia usai menyaksikan penandatanganan MoU pembelian gas tersebut, Rabu (19/2) malam.

 

Dia menjelaskan, oleh PLN, pasokan gas akan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listriknya. Saat ini, pemerintah sedang melakukan konversi bahan bakar pembangkit listrik dari bahan bakar minyak (BBM) menjadi gas. Setidaknya, terdapat 52 pembangkit listrik yang akan dikonversi ke gas.

 

Apalagi, tambahnya, menjaga keamanan energi adalah salah satu kunci dalam meningkatkan pembangunan ekonomi Indonesia. Implementasi pemanfaatan energi untuk pengembangan ekonomi akan meningkatkan pendapatan negara dari sektor energi dan menciptakan efek berganda bagi masyarakat dengan membuka peluang kerja baru.

 

Terkait harga gas, Arifin menegaskan, akan mengikuti aturan berlaku. Untuk Pupuk Indonesia, harga gas akan mengikuti formula yang mempertimbangkan harga produk pupuk dan tidak boleh melebihi US$ 6 per juta british thermal unit (million british thermal unit/mmbtu). Sementara PLN selama ini sanggup membeli gas dengan harga US$ 6 per mmbtu, bahkan US% 8,5 per mmbtu.

 

“Sementara POD-nya (rencana pengembangan/plan of development) US$ 6 per mmbtu, tetapi mengikuti pasar,” tuturnya.

 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menambahkan, harga gas akan mengikuti perhitungan dalam POD dan harga pasar. Meski demikian khusus untuk pupuk, sesuai kebijakan negara, akan memperhatikan tingkat keekonomian pabrik pupuk.

 

Selanjutnya terkait target penandatanganan perjanjian jual beli gas (PJBG) antara Inpex dengan PLN dan Pupuk Indonesia, dikatakannya, masih ada cukup waktu hingga proyek beroperasi di 2027. Pasalnya, harusnya ada diskusi soal harga gas sampai PJBG dapat diteken. Sehingga, Inpex perlu memperoleh komitmen pembelian dan FID terlebih dahulu.

 

“Kalau PJBG ada take or pay, ada volume, kemudian ada price, kita masih punya waktu panjang. Sekarang yang dikejar adalah komitmen untuk membeli,” ujar Dwi.

 

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menuturkan, salah satu fokus PLN ke depan adalah menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) di mana faktor yang berkontribusi paling besar adalah bahan bakar. Saat ini, harga LNG lebih murah jika dibandingkan dengan BBM. Sehingga, PLN dapat meningkatkan efisiensi dengan konversi ke gas.

 

“Jadi, dalam kerja sama ini pada intinya, PLN secara umum berminat untuk menyerap gas dari Masela, sesuai dengan kebutuhan sistem kelistrikan PLN,” ujarnya.

 

Arifin berharap MoU ini dapat mendorong kepastian pengembangan Proyek Abadi Masela dan pengerjaan paket rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (Engineering Procurement Construction/EPC) dapat dimulai pada 2022.

 

Lapangan Abadi Masela ditargetkan beroperasi pada Kuartal II-2027 dengan kumulatif produksi selama kontrak sebesar 16,38 triliun kaki kubik. Adapun penjualan gasnya sebesar 12,95 triliun kaki kubik dengan kapasitas produksi Kilang LNG 9,5 juta ton per tahun dan 150 mmscfd untuk gas pipa. Selain itu, proyek ini juga menghasilkan kondensat sebesar 255,28 juta barel.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN