Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas penambangan nikel

Aktivitas penambangan nikel

Potensi Hilirisasi Nikel hingga 2024 Capai US$ 34 Miliar

Triyan Pangastuti, Kamis, 12 September 2019 | 22:56 WIB

JAKARTA, investor.id - Pemerintah memperkirakan potensi nilai hilirisasi nikel hingga 2024 bisa mencapai US$ 34 miliar, dengan mengolah nikel dalam negeri serta menjadikannya kobalt dari dalam untuk lithium baterai.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, saat ini hilirisasi biji nikel dapat menjadi primadona Indonesia dengan total 3,1 miliar ton cadangan nikel dunia.

“Indonesia hanya punya 3,1 miliar ton cadangan nikel dunia, tapi low grade nikel dunia kita sangat banyak dan itu modal utama ekstrak kobalt dari dalam untuk lithium baterai,” jelas dia di Jakarta, Kamis (12/9).

Menurut dia, peningkatan kawasan industri nilai tambah sumber daya mineral merupakan salah satu integrated industri terbesar di dunia, yang dilakukan dengan ramah lingkungan.

Untuk saat ini 98% produksi nikel domestik diekspor keTiongkok, padahal jika diolah sendiri di dalam negeri bisa membantu mendorong penerimaan negara lebih besar, karena akan ada nilai tambah yang dihasilkan."Kalau diproduksi dalam negeri dengan listrik bisa lebih murah," ungkap Luhut.

Saat ini, Luhut memperkirakan potensi hilirisasi bijih nikel untuk lithium baterai sebesar US$ 10 miliar, sehingga masih tersisa US$ 24 miliar yang perlu dioptimalkan untuk memberikan nilai tambah. Disamping itu, langkah hilirisasi juga mampu mendorong minat investor terhadap investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) sehingga akan memperbaiki neraca dagang.

Luhut menegaskan bahwa langkah hilirisasi tidak hanya untuk nikel, melainkan juga akan dilakukan pada timah, bauksit, aspal, alumina. Apabila ini dilakukan, maka kerangka mobil listrik itu juga nantinya bisa memakai semua komponen dalam negeri dari nikel dan turunannya.

“Misalnya, ban untuk mobil listrik bisa mengandalkan dari produksi karet dalam negeri. Begitu pula produksi plat dan baterai mobil listrik bisa diproduksi domestik. Kita saja yang terkadang mau gampang saja, ekspor raw material. Musti ada pengorbanan sedikit, setelah beberapa tahun akan ada nilai tambah," paparnya.

Kendati demikian, ia belum bisa memastikan untuk nilai investasi bauksit yang akan masuk, tetapi perkirannya menyentuh miliaran dolar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA