Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: MADE NAGI/POOL/AFP)

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: MADE NAGI/POOL/AFP)

Potensi Resesi Negara Maju Pengaruhi Harga Minyak Dunia pada 2023

Rabu, 7 September 2022 | 14:17 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan potensi resesi global akan mempengaruhi perkembangan harga minyak pada 2023. Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan akan mengalami resesi di tahun 2023, hal ini terjadi karena negara-negara tersebut mengalami inflasi dalam jumlah tinggi. Untuk Amerika Serikat inflasi sudah berada di titik tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, tingginya inflasi tersebut direspon dengan kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan pengetatan likuiditas. Dengan gejolak perekonomian global yang terjadi saat ini minyak menjadi instrumen perang antara negara.

“Kami melihat bank-bank sentral di Amerika Serikat dan Eropa masih menunggu, mereka menganggap inflasi temporer karena disrupsi pandemi dan ada perang. (Minyak) dijadikan alat untuk instrumen perang,” ucap Sri Mulyani dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia pada Rabu (7/9/2022).

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Tapi BBM Naik, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Bila berbagai negara maju masuk ke dalam jurang resesi, maka permintaan terhadap minyak menjadi turun dan tekanan kenaikan harga minyak diharapkan ikut menurun, sehingga tak lagi mencapai di atas US$ 100 per barel. Saat ini, harga minyak mulai menurun menjadi dalam kisaran US$ 94 per barel, setelah sempat melambung di level US$ 126 per barel.  

Sri Mulyani mengatakan, selain potensi resesi, ada faktor lain yang akan mempengaruhi harga minyak dan komoditas dunia yaitu seberapa lama perang Rusia dan Ukraina berlangsung.

Baca juga: Agustus Deflasi 0,21%, Sri Mulyani Sebut Sesuai Perkiraan

"Selama terjadi perang, berarti akan terus ada disrupsi suplai karena Rusia itu diembargo. Kemarin kita juga mendengar bahwa Amerika Serikat akan mencoba membuat price gap untuk minyak Rusia yang sekarang sudah diadopsi negara-negara G7," kata dia.

Kemenkeu sedang menggodok anggaran subsidi BBM untuk APBN 2023. Dalam perencanaan tersebut diperkirakan pada tahun 2023 anggaran subsidi akan mencapai Rp 340 triliun dengan asumsi harga minyak sebesar US$ 90 per barel. Namun pemerintah melihat sejumlah faktor yang akan mempengaruhi fluktuasi harga minyak baik dari dalam maupun luar negeri.

“Tentu melihat ketidakpastian outlook harga minyak,” imbuh Sri Mulyani. 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com