Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo. Sumber: BSTV

OKTOBER INFLASI 0,07%

Presiden: Ekonomi RI Membaik

Selasa, 3 November 2020 | 14:36 WIB
Novy Lumanauw dan Arnoldus Kristianus

JAKARTA, investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan ekonomi Indonesia membaik dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III– 2020 diperkirakan minus 3%. Angka itu lebih baik dibandingkan kuartal II-2020 yang minus 5,32%.

Sementara itu, setelah mencatatkan deflasi selama tiga bulan berturut-turut (Juli sebesar 0,1%, Agustus 0,05%, dan September0,05%), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Oktober 2020 ekonomi Indonesia mengalami inflasi 0,07%. Dengan inflasi sebesar itu, maka tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Oktober) 2020 sebesar 0,95% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2020 terhadap Oktober 2019) sebesar 1,44%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulanan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulanan

Presiden Jokowi mengungkapkan, pencapaian pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 jauh lebih baik jika dibandingkan pertumbuhan negara- negara lain.

“Jadi kuartal III mungkin minus 3% lebih sedikit dan itu adalah tren yang membaik, tren yang positif. Ini yang harus ditekankan kalau ada pengumuman BPS. Dari minus 5,32% (di kuartal II) menjadi minus 3 koma sekian persen,” kata Presiden yang didampingi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin saat memimpin rapat paripurna Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/11/2020).

Namun, Presiden mengingatkan untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi agar pertumbuhan pada kuartal IV dapat memasuki zona positif.

“Saya sampaikan, kuartal IV ini sangat penting sekali agar bisa kita memperbaiki lagi. Syukur, jika bisa masuk ke positif pada kuartal IV sehingga belanja, spending menjadi kejar-kejaran kita semua,” kata Presiden.

Selain itu, lanjut Presiden, diperlukan langkah-langkah untuk mendorong konsumsi rumah tangga, yang saat ini berada pada posisi minus 4%.

“Saya mendapatkan angka bahwa konsumsi rumah tangga masih berada di angka minus, kurang lebih minus 4%. Sehinggamenjadi kewajiban kita semuanya untuk memperkuat demand agar konsumsi ini akan menjadi lebih baik,” katanya.

Laju konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB) Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II-2020, minus hingga 5,51%.

Perkembangan inflasi seri month to month
Perkembangan inflasi seri month to month

Diyakini apabila belanja modal dan konsumsi rumah tangga membaik maka terbuka peluang untukmeningkatkan pertumbuhan pada kuartal IV.

“Kalau kuartal IV sudah terselesaikan, semuanya maksimal membelanjakan anggarannya. Hati-hati tolong disampaikan kepada Dirjen, Direktur, dan seluruh jajaran yang Bapak/Ibu pimpin, kuartal IV bisa maksimal, tapi hati-hati di kuartal I-2021 juga harus mulai di-start dari sekarang,” ujarnya.

Dikatakan, setelah pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L) menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), dapat langsung dilakukan lelang sehingga diharapkan pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2021 tidak terjadi stuck setelah kuartal IV-2020 karena anggaran yang diperoleh langsung di-drop.

“Kita harapkan kuartal I-2021 ada ungkitan juga untuk naik, selain tentu saja yang perlu saya ingatkan yang berkaitan dengan investasi,” jelas dia.

Dia mengatakan, kuartal I-2021 pun juga harus mulai didesain dari sekarang agar kegiatan itu dimulai di bulan Januari, terutama yang paling cepat adalah bantuan sosial.

“Belanja-belanja modal, terutama infrastruktur, baik di Kementerian PUPR, Kemenhub, dan kementerian lain yang bisa digiring untuk segera mulai, mulai,” katanya

Selain konsumsi rumah tangga, Presiden mengungkapkan pertumbuhan investasi di kuartal III-2020 juga masih berada di level negatif, yakni mencapai minus 5%, bahkan bisa mencapai minus 6%.

“Saya sudah mewanti-wanti kepada Kepala BKPM dan Menko Maritim dan Investasi agar paling tidak di kuartal III- 2020 ini bisa minus di bawah lima persen, tapi ternyata belum bisa,” ujar Presiden.

Inflasi tahun per Oktober
Inflasi tahun per Oktober

Maka dari itu, aliran investasi harus ditingkatkan di kuartal IV- 2020. Presiden berharap dengan keputusan Amerika Serikat yang memperpanjang keringanan bea masuk bagi Indonesia atau fasilitas tarif preferensial umum (Generalized System of Preferences/GSP) sehinggamenjadi kesempatan untuk menarikminat investasi ke dalam Indonesia.

“Karena kita ada fasilitas itu (GSP), karena orang ingin mendirikan industri, pabrik, perusahaan di Indonesia akan menjadi lebih menarik karena untuk masuk ke AS, kita diberikan fasilitas dari AS,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, perpanjangan GSP untuk masuk ke Amerika Serikat menjadi kesempatan bagi Indonesia karena satu-satunya Negara di Asia yang mendapatkan fasilitas ini.

“Kita harapkan ekspor kita akan bisa naik, melompat karena fasilitas GSP,” ujarnya. (leo/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN