Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Istimewa

Presiden Joko Widodo. Foto: Istimewa

Presiden: Hilirisasi Tambang Hapus Defisit Neraca Perdagangan

Rangga Prakoso, Kamis, 21 November 2019 | 00:30 WIB

JAKARTA, investor.id - Presiden Joko Widodo mengungkapkan hilirisasi pertambangan mineral dan batu bara merupakan solusi mengatasi defisit neraca perdagangan. Peningkatan nilai tambah mineral dan batu bara juga memberi efek berganda bagi perekonomian. Hal ini disampaikan Presiden dalam sambutannya di acara Penghargaan Indonesian Mining Association (IMA) di Jakarta, hari ini

"Kalau semuanya menuju pada hilirisasi dan industrialisasi, barang jadi dari setengah jadi, saya yakin tak sampai 3 tahun, semua problem defisit bisa diselesaikan hanya dalam waktu 3 tahun. Ini dari satu komoditas, nikel," kata Presiden yang disambut tepuk tangan. 

Presiden mengungkapkan produk turunan nikel merupakan bahan campuran untuk baterai lithium. Oleh sebab itu pemerintah menerapkan larangan ekspor bijih nikel di 2020. Pasalnya Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar di dunia. Pada bijih nikel kadar rendah terdapat kandungan cobalt yang dapat digunakan untuk beterai kendaraan listrik. 

"Dan hitungan yang saya miliki, 70% bahan-bahan untuk lithium baterai ada di Indonesia. Sangat keliru sekali kalau barang ini kita ekspor. akhirnya transformasi besar ekonomi Indonesia bisa berubah dimulai dengan dunia pertambangan. Kalau tidak kita mulai, kapan lagi," ungkapnya.

Presiden membeberkan desain strategi besar bisnis negara dalam jangka depan yakni kendaraan listrik. Dia menegaskan Indonesia memiliki kunci utama membangun industri tersebut yakni komponen baterai. Sementara untuk urusan teknologi, menurutnya bisa dengan menggandeng pihak yang ahli di bidangnya. Dengan begitu industri mobil listrik bisa segera terealisasikan.

"Kalau kita bahannya ada, ngapain kita ekspor. Buat saja di sini. Teknologi yang belum ada, gandeng jadikan partner. Jangan kita tidak mau berpartner dengan mereka. Sehingga kita bisa produksi yang namanya lithium baterai. Ini strategi bisnis harus dirancang sehingga bisa terealisasi," bebernya.

Bukan hanya mineral, lanjut Jokowi, hilirisasi batu bara pun bisa menekan impor bahan baku LPG. Hal itu dilakukan melalui proses gasifikasi batu bara yang menghasilkan dimethylether (DME). Selain itu gasifikasi pun mampu menghasilkan petrokimia.

Presiden mengungkapkan defisit neraca perdagangan bisa sirna kurang dari tiga tahun bila semua hilirisasi terlaksana.  "CAD dan dagang selesai, ya kita enggak akan ketakutan mengenai Rupiah vs Dollar atau Rupiah dengan mata uang lain. Kan aman kita," ujarnya.

Presiden menjelaskan sektor pertambangan selama ini memiliki andil besar dalam neraca perdagangan. Namun Presiden tidak ingin hanya tergantung pada ekspor produk mentah. Melainkan harus melalui peningkatan nilai tambah sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

"Bapak ibu setuju? kayaknya masih ragu-ragu. Nanti kita bicara di Istana. Bagaimana agar jangan sampai ada yang dirugikan. kita ingin desain strategi bisnis negara kita bisa kita laksanakan," jelasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA