Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi kedelai. (Foto: Antara)

Ilustrasi kedelai. (Foto: Antara)

Presiden Jokowi Dorong Peningkatan Produksi Kedelai Nasional

Senin, 19 September 2022 | 16:06 WIB
Lenny Tristia Tambun (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli kedelai dari petani dengan harga yang telah ditentukan. Langkah ini bertujuan untuk menghindari kerugian petani, Indonesia bisa mengurangi import kedelai.

Demikian hasil rapat Presiden Jokowi bersama jajarannya untuk membahas tata kelola dan peningkatan produktivitas kedelai di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/9/2022).

Baca juga: Presiden Jokowi Optimistis Indonesia Mampu Kurangi Impor Kedelai

Dalam rapat tersebut, Jokowi mendorong segenap jajarannya untuk meningkatkan produksi kedelai nasional, sehingga kebutuhan kedelai dalam negeri tidak 100% bergantung kepada impor.

"Bapak Presiden ingin agar kedelai itu tidak 100% tergantung impor karena dari hampir seluruh kebutuhan yang 2,4 (juta ton) itu produksi nasionalnya kan turun terus," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya kepada awak media seusai rapat.

Baca juga: Perajin Tahu dan Tempe Berskala Kecil Ingin Dipermudah Mendapatkan Kedelai Subsidi

Untuk itu, lanjutnya, Presiden Jokowi memberikan sejumlah arahan antara lain agar jajarannya bisa menentukan harga kedelai agar petani tidak dirugikan. Terkait hal tersebut, Presiden meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli dari petani dengan harga yang telah ditentukan.

"Jadi untuk itu, untuk mencapai harga itu nanti ada penugasan dari BUMN agar petani bisa memproduksi. Itu di harga Rp10.000 (per kilogram)," ujar Airlangga Hartarto.

Persoalan harga yang kurang menarik bagi petani ini juga yang menjadi penyebab petani enggan menanam kedelai dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Airlangga, petani tidak bisa menanam kedelai jika harganya di bawah Rp 10.000 per kg, karena akan kalah dengan harga impor dari Amerika Serikat yang hanya Rp 7.700 atau bahkan lebih murah.

Baca juga: Kembangkan Kawasan Kedelai, Mentan Ajak Bangkitkan Kedelai Nasional

"Jadi kita di 2018 misalnya kita produksinya di 700 ribu hektare, nah sekarang di 150 ribu hektare. Jadi kalau petani disuruh milih tanam jagung atau kedelai, ya mereka larinya ke jagung semua. Nah sekarang kita kan ingin semua ada mix, tidak hanya jagung saja tetapi kedelainya juga bisa naik," jelas Airlangga Hartarto.

Arahan kedua, Presiden mendorong petani menggunakan bibit unggul yang telah direkayasa secara genetik atau genetically modified organism (GMO). Dengan menggunakan bibit tersebut, diharapkan produksi kedelai per hektare bisa melonjak beberapa kali lipat.

"Dengan menggunakan GMO itu produksi per hektarenya itu bisa naik dari yang sekarang sekitar 1,6-2 ton per hektare, itu bisa menjadi 3,5-4 ton per hektare," jelas Airlangga Hartarto.

Langkah berikutnya, pemerintah menyiapkan anggaran untuk perluasan lahan tanam kedelai dari yang sekarang sekitar 150.000 hektare menjadi 300.000 hektare, kemudian meningkat menjadi 600.000 hektare pada tahun depan. Pemerintah berupaya mengejar target 1 juta hektare produksi dalam beberapa tahun ke depan.

"Itu anggarannya sudah disiapkan sekitar Rp 400 miliar dan tahun depan juga akan ditingkatkan dari 300 (ribu) menjadi 600 ribu hektare, existing sekitar 150 ribu hektare. Dengan demikian maka produksi itu, angka target produksi 1 juta hektare dikejar untuk 2-3 tahun ke depan," tegas Airlangga Hartarto.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com