Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik di Chandra Asri, Cilegon, Jumat (6/12/2019).

Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik di Chandra Asri, Cilegon, Jumat (6/12/2019).

CHANDRA ASRI AKAN TAMBAH INVESTASI PETROKIMIA RP 80 TRILIUN

Presiden Resmikan Pabrik Polietilena Rp 5,7 Triliun

Sabtu, 7 Desember 2019 | 18:05 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id) ,Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

CILEGON, investor.id  - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik baru polietilena milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk senilai Rp 5,7 triliun di Cilegon, Provinsi Banten, Jumat (6/12). Perusahaan yang didirikan oleh Prajogo Pangestu itu akan kembali menambah investasi untuk mengembangkan kompleks pabrik petrokimia kedua senilai Rp 60 triliun-80 triliun, yang diperkirakan selesai dalam waktu empat tahun.

Presiden terus mendorong investasi petrokimia dengan memberikan sejumlah insentif dan diharapkan 4-5 tahun ke depan Indonesia tidak lagi mengimpor petrokimia yang menyebabkan defisit perdagangan sangat besar. Petrokimia masuk kelompok industri kimia, yang produknya digunakan secara luas oleh berbagai sektor manufaktur lainnya.

Industri ini ditetapkan sebagai lima sektor prioritas dalam program Making Indonesia 4.0, bersama makanan dan minuman, otomotif, elektronik, serta tekstil dan pakaian. Kemenperin mencatat, impor total kimia cenderung meningkat tajam dari US$ 16,67 miliar tahun 2010 ke US$ 21,89 miliar pada 2018, sedangkan ekspor hanya naik tipis dari US$ 7,46 miliar ke US$ 8,56 miliar. Akibatnya, defisit neraca perdagangannya melonjak dari US$ 9,21 miliar tahun 2010 ke US$ 13,33 miliar tahun lalu.

Ekspor, impor, neraca perdagangan Indonesia
Ekspor, impor, neraca perdagangan Indonesia

“Kita tahu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk ini adalah pionir industri petrokimia yang ada di Tanah Air. Oleh karena impor kita di bidang petrokimia masih besar, kita harapkan investasi penanaman modal terus-menerus masuk di bidang ini. Harus terus kita berikan ruang agar nantinya yang namanya impor bahan-bahan petrokimia itu betul-betul setop dan kita justru bisa mengekspornya,” ujar Presiden Jokowi saat meresmikan pabrik baru petrokimia Chandra Asri, yang memproduksi bahan baku berupa polietilena.

Presiden Jokowi mengapresiasi investasi pembangunan pabrik yang menghasilkan produk substitusi impor tersebut. Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang diterima, kebutuhan domestik polietilena sebagai bahan baku industri mencapai 2,3 juta ton per tahun. Sedangkan kapasitas produksi nasional untuk bahan baku tersebut baru mencapai 780 ribu ton.

“Sebagaimana diketahui, impor minyak dan gas serta petrokimia untuk kebutuhan industri nasional masih terlampau besar, sehingga memberatkan neraca perdagangan. Salah satu masalah besar yang dihadapi oleh Negara kita adalah defisit transaksi berjalan, yang juga dikarenakan defisit perdagangan. Ini karena barang-barang yang kita produksi di dalam negeri bahan bakunya kebanyakan masih impor,termasuk di dalamnya yang paling besar adalah petrokimia serta impor minyak dan gas,” ujarnya.

Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )
Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Pembangunan pabrik baru polietilena, lanjut Kepala Negara, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor komoditas tersebut. Pembangunan pabrik baru polietilena oleh Chandra Asri Petrochemical tersebut merupakan langkah konkret yang diperlukan oleh negara kita, bukan sekadar wacana. Investasi yang dilakukan oleh industry juga berdampak pada pembukaan lapangan kerja yang besar, sehingga dapat menyerap tenaga kerja di sekitar wilayah industri.

“Inilah pentingnya kenapa saya selalu menyampaikan perlunya penanaman modal, investasi. Larinya ke mana sih? Ya, ke pembukaan lapangan kerja yang sebesar-besarnya, yang akan membantu dan berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi, tidak hanya di Cilegon dan Banten, tetapi juga perekonomian nasional,” kata Presiden.

Sementara itu, Airlangga Hartarto yang saat ini menjadi menko perekonomian sebelumnya menjelaskan, salah satu insentif yang disediakan pemerintah untuk investasi petrokimia adalah tax holiday. Hal ini merupakan upaya pemerintah untuk mendorong tumbuhnya sektor industri yang memperkuat struktur manufaktur dan meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. Upaya strategis ini bertujuan untuk menyubstitusi produk impor sekaligus mengisi pasar ekspor.

“Salah satu sektor yang diprioritaskan adalah industri petrokimia. Ini termasuk yang dipilih terkait kesiapan menjadi pionir mengimplementasikan revolusi industry 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” katanya.

Hemat Devisa Rp 8 T

Chandra Asri. Foto: IST
Chandra Asri. Foto: IST

Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical (CAP) Erwin Ciputra mengatakan, pihaknya baru saja meresmikan pabrik baru senilai US$ 380 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun untuk memproduksi polyethylene (PE) di Cilegon. Pabrik itu berkapasitas 400 ribu ton per tahun, sehingga total kapasitas produksi perusahaan kini menjadi sebesar 736 ribu ton per tahun. Perusahaan mengklaim dapat menghemat devisa sebesar Rp 8 triliun dengan pendirian pabrik baru.

“Semua produknya ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri dan hasil produksi pabrik ini akan menjadi produk substitusi impor, sehingga Indonesia dapat menghemat devisa sebesar Rp 8 triliun per tahun. Inilah alasan kami untuk fokus pada peningkatan kapasitas demi memenuhi permintaan domestik,” katanya.

Pabrik baru itu juga telah mendapatkan insentif tax holiday dari pemerintah, kebijakan yang telah menciptakan iklim investasi yang baik. Insentif ini juga turut mendorong perusahaan meningkatkan ekspansi.

Erwin Ciputra menjelaskan lebih lanjut, sejak didirikan pada 1992, Chandra Asri berupaya maju dan berkembang untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi industri, pemerintah, dan masyarakat Indonesia. Adapun produk petrokimia yang diproduksi Chandra Asri dapat digunakan sebagai bahan baku untuk barang kebutuhan sehari-hari yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

“Produk polyethylene kami merupakan bahan baku untuk produk pendukung infrastruktur, pipa air, kabel listrik, kemasan makanan, peralatan rumah tangga, dan lain-lain. Nantinya, pabrik baru bisa menyerap hingga 25.000 pekerja lokal, termasuk tenaga kerja ahli seperti engineer,” ungkap Erwin.

Pabrik baru tersebut akan memproduksi High Density Polyethylene (HDPE), Linear Low Density Polyethylene (LLDPE), dan Metallocene LLDPE (mLLDPE). Pabrik dijadwalkan memulai produksi komersial pada kuartal IV-2019.

Erwin mengatakan, peningkatan kapasitas petrokimia di dalam negeri saat ini masih belum bisa mengejar pesatnya pertumbuhan konsumsi di Indonesia. “Kebutuhan akan bahan baku polyethylene di Indonesia meningkat pesat, seiring laju pertumbuhan ekonomi nasional,” ucap dia.

Selain meningkatkan kapasitas pabrik baru PE, lanjut dia, CAP juga fokus mengembangkan kompleks petrokimia kedua dengan investasi sekitar Rp 60 triliun-80 triliun. Pembangunan ini diharapkan selesai pada 2024 dan akan meningkatkan total kapasitas menjadi 8 juta ton per tahun.

“Kami ingin berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Pemerintah Indonesia atas dukungan yang diberikan. Kami berkomitmen untuk terus menjadi mitra pertumbuhan Indonesia,” ucap Erwin.

Selain investasi pada kompleks industri petrokimia kedua, lanjut dia, semenjak tahun 2005 sampai 2019, Chandra Asri telah merealisasikan investasi sebesar Rp 28 triliun. Ini lewat berbagai kegiatan ekspansi kapasitas, debottlenecking, dan pembangunan pabrik baru.

Mother of Industry

Agus Gumiwang Kartasasmita
Agus Gumiwang Kartasasmita

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah semakin gencar mendorong tumbuhnya industri kimia di dalam negeri, karena produk yang dihasilkan dibutuhkan untuk bahan baku banyak sektor lain di dalam negeri.

“Ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, dengan memasukkan industri kimia menjadi salah satu sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan agar lebih berdaya saing global di tengah era industri 4.0. Industri kimia dikategorikan sebagai mother of industry, karena mampu menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh banyak sektor manufaktur lainnya, seperti industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, hingga komponen otomotif dan elektronika,” kata dia.

Menperin menuturkan, kebutuhan domestik polyethylene saat ini telah mencapai sekitar 1,6 juta ton per tahun. Sedangkan Indonesia baru memiliki pabrik polyethylene dengan kapasitas total sekitar 780 ribu ton per tahun.

Dia mengatakan, beroperasinya pabrik baru itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk terus menggenjot investasi dan hilirisasi sektor industri. “Upaya strategis ini juga diyakini meningkatkan perekonomian nasional secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor. Ini akan dapat memperbaiki neraca perdagangan kita saat ini dan bisa untuk ekspor,” tutur Agus.

Selama ini, industri kimia dinilai mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang mencapai US$ 8,79 miliar pada 2018, dengan total investasi di sektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar Rp 26,2 triliun.

Chandra Asri. Foto: beritasatu.com
Chandra Asri. Foto: beritasatu.com

Dalam rangka meningkatkan daya saing industri nasional, Menperin mengemukakan, pemerintah telah melakukan upaya-upaya strategis, antara lain dengan melakukan pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri, serta optimalisasi pemanfaatan pasar dalam negeri dan pasar ekspor.

Selain itu, penerapan program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), serta pemberian insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday. “Terkait insentif fiskal, pemerintah juga telah menerbitkan PMK No 128 Tahun 2019 yang memberikan peluang bagi industri untuk mendapat pengurangan pajak hingga 200%,” ujar Agus.

Insentif tersebut akan diberikan kepada industri yang berupaya memberikan fasilitas penyelenggaraan kegiatan praktik kerja dalam rangka pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi tertentu. Salah satu wujud nyata upaya ini adalah kegiatan vokasi industri.

Agus menambahkan, guna menarik investasi di Tanah Air, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang baik, menguntungkan, dan berkesinambungan melalui berbagai kebijakan. Tahun ini, Jepang dan Korea telah menyampaikan komitmen yang kuat untuk menanamkan modalnya di sektor industri dengan nilai total mencapai US$ 5 miliar.

“Mudah-mudahan, dengan iklim usaha yang semakin nyaman, investasi dapat terus tumbuh dan kekuatan ekonomi kita menjadi semakin kokoh,” papar dia.

Chandra Asri. Foto: IST
Chandra Asri. Foto: IST

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam mengatakan, ukuran keberhasilan negara ada 2 faktor, yaitu perkembangan di sektor kimia dan baja, yang dilihat dari berapa besar kapasitas keduanya. Saat ini, Indonesia sedang berusaha untuk mengejar ketertinggalan di sektor petrokimia, yang masih dibawah Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Jadi, kita mau menuju ke nomor 2 atau no 1, apalagi nanti ditunjang dengan proyek Pertamina-CPC yang dengan Taiwan itu, yang sekitar US$ 8 miliar. Ini lagi dipersiapkan,” ucap dia.

Khayam menerangkan, industry upstream ini bisa bergerak ketika ditunjang oleh tax holiday yang baru dimulai 2011. Ia mengatakan, pemerintah telah mempersiapkan proyek sampai 2023 dengan nilai sekitar US$ 31,5 miliar.

Ia pun mengaku Kemenperin tidak gentar pada proyek petrokimia terpadu Malaysia dan Arab Saudi yang bernama Refinery and Petrochemical Integrated Development (RAPID Project) senilai US$ 20 miliar. “Jadi, kita kejar-kejaran. Ketika sudah kita penuhin, kita prioritaskan penggunaan produk dalam negeri. Memang, persaingan di Asean sudah ketat dan di Asia lebih ketat lagi. Kita kan juga mau masuk RCEP, ini harus dipersiapkan,” ujar dia.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Komite Industri Hulu dan Petrokimia Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Achmad Widjaja mengatakan, pembangunan pabrik tersebut bisa mewakili tujuan pemerintah untuk menurunkan impor sebesar 70%. Ia mengatakan, seharusnya pemerintah sekarang menggerakkan seluruh petrokimia yang ada di Bituni, TPPI Tuban, Cilacap, dan Bontang Kalimantan Timur yang memiliki banyak kandungan metanol. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN