Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten. ( Foto: M Defrizal/GLOBE ASIA )

RESMIKAN PABRIK POLIETILENA

Presiden: Setop Impor, Genjot Ekspor Bahan Petrokimia

Jumat, 6 Desember 2019 | 16:23 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

CILEGON, investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta impor bahan-bahan petrokimia harus dihentikan dan sebaliknya meningkatkan ekspor.

Presiden mengatakan hal tersebut saat meresmikan pabrik baru PT Chandra Asri Petrochemical di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Jumat (6/12).

Pabrik tersebut memproduksi polietilena yang menjadi bahan baku produk pendukung infrastruktur serta sejumlah industri lain dan ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri.

Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres
Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres

"Kita tahu semuanya PT Chandra Asri ini adalah pionir industri petrokimia yang ada di Tanah Air. Oleh karena impor kita di bidang petrokimia masih besar, kita harapkan bahwa investasi penanaman modal yang terus menerus di bidang ini harus terus kita berikan ruang agar nantinya yang namanya impor bahan-bahan petrokimia itu betul-betul setop dan kita justru bisa mengekspornya," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengapresiasi investasi yang dilakukan untuk pembangunan pabrik baru tersebut yang hasil produksinya dapat dijadikan produk substitusi impor. Sebagaimana diketahui, impor minyak dan gas serta petrokimia untuk kebutuhan industri nasional masih terlampau besar sehingga memberatkan neraca perdagangan.

Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres
Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres

"Salah satu masalah besar yang dihadapi oleh negara kita ini adalah defisit transaksi berjalan, juga yang namanya defisit perdagangan. Karena barang-barang yang kita produksi di dalam negeri bahan bakunya kebanyakan masih impor. Termasuk di dalamnya adalah yang paling besar adalah petrokimia dan juga yang namanya impor minyak dan gas," ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang diterima, kebutuhan domestik polietilena sebagai bahan baku industri mencapai 2,3 juta ton per tahun. Sementara kapasitas produksi nasional untuk bahan baku tersebut baru mencapai 780 ribu ton.

Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres
Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres

"Artinya kita masih impor 1,52 juta ton. Jangan berikan dong peluang-peluang seperti ini ke negara lain. Kalau kita bisa membuat sendiri kenapa harus impor?" kata Presiden Jokowi.

Pembangunan pabrik baru polietilena tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi di dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada impor komoditas tersebut.

Kepala Negara berharap bahwa di masa mendatang industri nasional mampu memproduksi sendiri seluruh bahan-bahan petrokimia sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dan bahkan melakukan ekspor ke negara lainnya.

"Pembangunan pabrik baru polietilena PT Chandra Asri Petrochemical merupakan langkah konkret. Seperti ini yang diperlukan oleh negara kita, bukan wacana-wacana," katanya.

Chandra Asri. Foto: IST
Chandra Asri. Foto: IST

Lebih jauh, investasi yang dilakukan oleh industri juga dipandang akan berdampak pada pembukaan lapangan kerja yang besar sehingga dapat menyerap tenaga-tenaga kerja yang berada di sekitar wilayah industri atau pabrik-pabrik yang didirikan.

"Inilah pentingnya kenapa saya selalu menyampaikan penanaman modal dan investasi. Larinya ke mana sih? Pembukaan lapangan kerja yang sebesar-besarnya yang akan membantu dan berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi, tidak hanya di Cilegon dan Banten saja, tetapi juga perekonomian nasional kita," kata Presiden.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra dalam laporannya mengatakan, pabrik baru berkapasitas 400 ribu ton per tahun tersebut dibangun dengan nilai investasi sebesar US$ 380 juta. Pabrik baru tersebut menjadikan kapasitas produksi perusahaan meningkat menjadi 736 ribu ton per tahun.

Hasil produksi pabrik tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional sebagai produk substitusi impor mengingat hingga saat ini sejumlah produk petrokimia masih harus diimpor untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Kami berterima kasih atas dukungan pemerintah selama ini melalui insentif pajak dan tax holiday yang sangat berguna dalam mendatangkan investasi," kata Erwin.

Ke depannya, Erwin melanjutkan, pihaknya akan kembali berinvestasi untuk mengembangkan kompleks pabrik petrokimia kedua mereka dengan nilai investasi berkisar antara Rp60 triliun hingga Rp80 triliun yang diperkirakan akan selesai dalam waktu empat tahun.

Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres
Joko Widodo kunjungan kerja ke Cilegon, Banten. Foto: Setpres

"Kami berharap agar kompleks petrokimia Chandra Asri dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Presiden Joko Widodo berharap agar investasi yang akan kembali dilakukan tersebut dapat segera meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan impor petrokimia sehingga beban defisit negara menjadi berkurang. Bahkan, Kepala Negara berharap agar penyelesaian pengembangan kompleks baru tersebut dapat diselesaikan lebih cepat dari target semula.

"Segera selesaikan pabriknya. Kalau bisa jangan sampai empat tahun, dua tahun selesai. Dikebut," kata Presiden Jokowi.

Mendampingi Presiden Jokowi pada peresmian tersebut di antaranya ialah Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dua Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar dan Adamas Belva Syah Devara, serta Gubernur Banten Wahidin Halim.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN