Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pertamina. Foto: IST

Pertamina. Foto: IST

Proses Pengadaan Pertamina Dinilai Transparan

Imam Suhartadi, Rabu, 22 Januari 2020 | 22:50 WIB

JAKARTA, investor.id -  Senior Analyst Bowergroup Asia Ahmad Syarif menilai, proses pengadaan yang dilakukan Pertamina sudah sangat terbuka. Dengan penerapan transparansi tersebut, Pertamina juga lebih mungkin diawasi publik.

“Selain itu, isu-isu di dalam BUMN tersebut seperti pengadaan barang dan jasa juga menjadi lebih mudah dimonitor,” kata praktisi yang membawahi sektor migas, LNG, petrokimia dan tambang tersebut, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta hari ini. 

Dari sana Syarif menepis berbagai isu mafia migas yang santer dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, isu tersebut hanya dipolitisasi dan menjadi komoditas politik. Padahal, isu tersebut sangat merugikan karena bisa menghambat kinerja Pertamina, termasuk dalam pengerjaan proyek kilang. 

Karena itu, Syarif berharap, isu mafia migas sebaiknya dihentikan. Apalagi proyek kilang, yang potensial terimbas isu mafia migas tersebut, sebenarnya merupakan salah satu prioritas pemerintah. Kalau isu mafia migas diteruskan, lanjutnya, yang rugi Pertamina dan juga pemerintah. “Pertamina menjadi takut dan akan mengeksekusi proyek apapun tanpa memperhatikan risiko bisnis dengan baik,” papar Syarif. 

Jika isu mafia migas dihentikan, Syarif berharap, Pertamina bisa lebih fokus dalam pengerjaan proyek kilang. 

Di sisi lain Syarif menjelaskan, beberapa faktor yang dapat mempercepat pembangunan kilang Pertamina. Pertama, Pertamina harus terus membuat rencana pembangunan kilang yang diintegrasikan dengan pembangunan industri petrokimia. Kondisi demikian, yang menurut Syarif dilakukan Petronas dan Aramco di proyek kilang Johor. 

Kedua, Pertamina harus melanjutkan mencari partner guna membantu menambah kapasitas kilang  dengan teknologi terbaru dan memungkinkan terjadinya efisiensi. Dan ketiga, Pertamina harus independen. “Jangan mudah diinterverensi kepentingan politik. Karena jika kurang indepeden, akan membuat sejumlah investor khawatir,” kata Syarif.

Selain mengintegrasikan kilang dengan petrokimia, Pertamina sendiri sebenarnya juga sangat terbuka untuk partnership. Hal ini dibuktikan, dengan ketertarikan investor besar untuk bekerja sama, seperti Saudi Aramco, Adnoc, dan Rosneft

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA