Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Infrastruktur Kementerian PUPR. Ilustrasi: PUPR

Proyek Infrastruktur Kementerian PUPR. Ilustrasi: PUPR

HARUS GENCAR DIBANGUN PADA ERA PANDEMI

Proyek Infrastruktur Mampu Akselerasi Pemulihan Ekonomi

Senin, 2 November 2020 | 11:22 WIB
Muawwan Dailami ,Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id) ,dan Nabil Alfaruq

JAKARTA, investor.id – Untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi, proyek-proyek infrastruktur harus gencar dibangun pada era pandemi. Selain menyerap banyak tenaga kerja dan mampu menggerakkan sektor-sektor lain, pembangunan infrastruktur akan turut menyehatkan perbankan yang sedang kesulitan menyalurkan kredit.

Dengan membangun infrastruktur saat ini, perekonomian Indonesia juga bisa langsung bangkit saat pandemi Covid berakhir.

Di sisi lain, pembangunan proyekproyek infrastruktur tidak akan mengurangi daya tahan APBN karena anggarannya tersedia dan sudah dialokasikan. Lagi pula, untuk mengeluarkan perekonomian domestik dari jurang resesi, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan dana stimulus penanganan Covid dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Agar memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang besar, infrastruktur yang dibangun harus proyek-proyek jangka panjang, seperti jalan tol, kelistrikan, dan telekomunikasi. Pemerintah pun perlu memperbanyak infrastruktur padat karya yang bersifat jangka pendek namun berisiko rendah (low risk) bagi perbankan, seperti perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah, puskemas, klinik atau rumah sakit penanganan Covid-19, dan laboratorium.

Kecuali itu, pemerintah perlu menggenjot pembangunan infrastruktur di perdesaan yang berpotensi menjadi stimulan untuk menggerakkan ekonomi rakyat, seperti jalan, jembatan, waduk, irigasi, dan sistem pengelolaan air minum (SPAM). Dengan demikian, pemulihan ekonomi bakal lebih akseleratif dan berkesinambungan (sustainable).

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Peter Frans, Sekjen Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman Karumpa, Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty, pengamat tata kota dan infrastruktur Universitas Trisakti Nirwono Joga, ekonom UI Fithra Faisal Hastiadi, serta Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam

Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, baru-baru ini, sehubungan dengan munculnya desakan dari sejumlah kalangan agar pemerintah menghentikan pembangunan infrastruktur pada era pandemi dan mengalihkan seluruh anggarannya untuk penanganan Covid-19 dan stimulus.

Sementara itu, analis NH Korindo Sekuritas Ajeng Kartika dan Equity Analyst_ PT Philip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr memperkirakan saham-saham emiten infrastruktur mulai pulih menjelang tutup tahun. Soalnya, para emiten yang mengikuti tender pada semester II-2020 mulai menggarap proyeknya pada kuartal IV tahun ini hingga awal tahun depan.Tetap gencarnya pembangunan proyek infrastruktur selama pandemi bakal menjadi katalis positif bagi saham emiten infrastruktur.

Dalam APBN 2020, anggaran pembangunan infrastruktur mencapai Rp 423,3 triliun. Namun, menyusul terjadinya pandemi Covid-19, anggaran infrastruktur dipangkas menjadi Rp 281 triliun.

Adapun dalam APBN 2021, anggaran pembangunan infrastruktur mencapai Rp 413,8 triliun. Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran infrastruktur dalam APBN meningkat. (der/tm/es/az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN