Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lalu lintas di kawasan Bundaran Indonesia, Jakarta, Minggu (13/9/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao.

Lalu lintas di kawasan Bundaran Indonesia, Jakarta, Minggu (13/9/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao.

PSBB Berpotensi Perbaiki Kualitas Udara Jakarta

Senin, 21 September 2020 | 06:53 WIB
Tri Listyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta demi mencegah penyebaran Covid-19 berpotensi memperbaiki kualitas udara di provinsi tersebut.

Sebab, dengan PSBB aktivitas atau mobilitas kendaraan umum di Jakarta mengalami pengurangan signifikan. PSBB juga bisa menjadi momentum bagi Pemprov DKI Jakarta untuk merevitalisasi taman atau hutan kota sehingga ketika PSBB usai fungsi taman dan hutan kota dalam menciptakan udara bersih makin optimal.

Pemerhati lingkungan yang juga Sekjen Koalisi Perkotaan Jakarta (Jakarta Urban Coalition/JUC) Ubaidillah menuturkan, kontributor udara kotor di perkotaan termasuk Jakarta sekitar 70% adalah aktivitas dan mobilitas kendaraan umum, lalu 20% oleh aktivitas pabrik/industri, dan 10% aktivitas perumahan.

“Karena itu dengan PSBB yang mana aktivitas manusia dan kendaraan umum dibatasi maka dampaknya positif buat lingkungan, bisa memperbaiki kualitas udara Jakarta,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (20/9).

Ubaidillah yang sebelumnya aktif di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) tersebut berpendapat, PSBB harusnya menjadi momentum bagi Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan cleanup atas taman dan hutan kota karena saat ini dalam status ditutup untuk umum.

“Pemprov DKI bisa memaksimalkan peran PPSU (pasukan oranye) untuk merevitalisasi taman dan hutan kota yang rusak dan selama ini tidak berfungsi optimal sebagai penyumbang oksigen Jakarta. Tentunya dengan menjalankan protokol kesehatan,” jelas dia.

Namun demikian, PSBB juga memberi dampak negatif, salah satunya adalah melimpahnya sampah masker dan aktivitas buang sampah masker yang sembarangan. Masker bisa jadi mengandung racun sehingga perlu penanganan khusus.

“Kadang kita lihat adanya sampah masker yang berceceran di jalanan, ini tentu harus ditindak, dan sampah ini butuh penanganan khusus, jangan sampai menyebarkan virus,” jelas dia.

Angkutan umum aksi demo di jalan Sudirman. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Angkutan umum. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Ubaidillah juga mengatakan, upaya jangka panjang yang harus dilakukan Pemprov DKI untuk memperbaiki kualitas udara adalah memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik. DKI Jakarta sebenarnya telah memiliki transportasi publik cukup baik, di antaranya Trans Jakarta, tapi saat ini keamanan dan kenyamannya dianggap belum maksimal sehingga banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke transportasi publik.

“Ini pekerjaan rumah untuk perbaikan kualitas udara ke depan,” ujar dia.

Sebelumnya, dalam laporan yang dipublikasikan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) pada Agustus 2020 disebutkan, pencemaran lintas batas dari Banten dan Jawa Barat merupakan contributor utama pencemaran udara di Kota Jakarta.

Emisi pencemar udara, baik di Jakarta dan di provinsi-provinsi sekitarnya, telah meningkat, memperburuk kualitas udara Jakarta dan menghambat upaya perbaikan kualitas udara.

Pemantauan PM2.5 di Jakarta mencatat 101 hari dengan kualitas udara “tidak sehat” pada 2018 dan 172 pada 2019. Bahkan dengan Covid-19, kualitas udara di Jakarta tidak meningkat secara signifikan.

Citra satelit menunjukkan bahwa pembangkit listrik Suralaya di Banten beroperasi dan menghasilkan emisi seperti biasa selama pembatasan Covid-19. Angin membawa pencemaran pembangkit listrik Suralaya ke Jakarta, yang mungkin telah berkontribusi pada tetap tingginya PM2.5 di Jakarta kendati ada pengurangan besar dalam lalu lintas lokal dan aktivitas perkotaan.

Pencemaran lintas batas menimbulkan biaya kesehatan dan ekonomi yang besar pada warga Jakarta. Pencemaran lintas batas juga bertanggung jawab atas dampak buruk kesehatan lainnya yang terkait dengan sistem kekebalan, pernapasan, dan kardiovaskular.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN