Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Makanan dan minuman (mamin). Foto ilustrasi: IST

Makanan dan minuman (mamin). Foto ilustrasi: IST

PSBB Membuat Penjualan Mamin Menurun

Jumat, 25 September 2020 | 22:36 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman, mengakui terdapat penurunan penjualan makanan dan minuman (mamin) di tengah pengetatan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, penurunan penjualan tersebut, menurut dia, tidak separah penjualan pada April dan Mei lalu, ketika PSBB diberlakukan untuk pertama kali.

Dia berharap bantuan sosial dari pemerintah ke depan dapat membantu supaya penjualan makanan dan minuman tidak menurun terlalu dalam.

“Padahal saya tadinya optimistis, Juni naik, Juli naik, Agustus naik. Dengan kondisi ini ada sedikit menurun, melandai sedikit. Ini yang harus kita perhatikan agar jangan sampai seperti April dan Mei lalu anjlok lagi,” ucap Adhi dalam seminar daring MarkPlus, Jumat (25/9).

Adhi S Lukman, Foto: IST
Adhi S Lukman, Foto: IST

Namun demikian, pada tahun 2021 yang akan datang, Adhi optimistis pertumbuhan ekonomi akan membaik. Meski tidak akan mencapai pertumbuhan sampai 8% seperti tahun 2019, dia optimis industri makanan dan minuman akan tumbuh mencapai 5-7% pada 2021. Menurut Adhi, nilai ini dapat dicapai apabila pemerintah konsisten melakukan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan mendorong daya beli masyarakat.

“Dengan bantuan pemerintah untuk masyarakat middle low income, diharapkan konsumsi mereka membaik. Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke atas diharapkan mulai berani berbelanja kalau situasi sudah mulai normal,” ucap dia.

Menurut dia, saat ini, industri makanan dan minuman mulai menunjukkan perbaikan. Dia memperkirakan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) industri makanan dan minuman akan mencapai 48,2% pada kuartal III 2020. Nilai ini pun lebih tingggi dibandingkan kuartal II 2020 yang mencapai titik terendah sebesar 35,30%.

Sementara itu, HIS Markit’s Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia juga telah meningkat menjadi 46,9 pada Juli 2020. Indeks ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 39,1. Pada Agustus, nilainya tercatat 50,8.

“Di tengah pandemi ini, beberapa sektor makanan dan minuman cukup baik, misalnya industri susu yang sudah full capacity, bakery juga mulai meningkat permintaannya, begitu pula bumbu-bumbuan, frozen food, instant food, dan functional food,” imbuh Adhi.

Di tengah pandemi, menurut Adhi, masyarakat lebih memperhatikan kesehatan dalam mengkonsumsi makanan. Pelaku industri makanan dan minuman pun harus menjadikan aspek kesehatan dari produk mereka.

“Kami sendiri juga melakukan banyak perubahan. Kami terpaksa menerapkan berbagai teknologi untuk beradaptasi dalam new normal. Di industri makanan dan minuman, kita harus banyak memperbanyak human machine interface untuk mengantisipasi physical distancing dan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19,” kata Adhi.

Di samping itu, menurut dia, pelaku usaha juga banyak yang berinovasi meluncurkan produk-produk baru. Hal ini untuk menyasar pasar generasi milenial yang cenderung suka mencoba produk-produk baru.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN