Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
e-commerce. Foto: ilustrasi: eBay

e-commerce. Foto: ilustrasi: eBay

PSBB Munculkan Peluang Usaha Baru

Rabu, 8 Juli 2020 | 18:35 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pengusaha memandang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19 memunculkan peluang usaha baru.

Wakil Ketua Kompartemen Pelatihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Ardantya Syahreza mengatakan bahwa Covid-19 memunculkan peluang-peluang baru bagi pengusaha. Dia mencontohkan keterbatasan produk impor bisa dimanfaatkan oleh pengusaha untuk mulai mengembangkan industri dalam negeri untuk memproduksi produk substitusi impor.

“Kita ini negara yang cukup tergantung dengan impor, tidak hanya barang jadi tapi juga bahan baku. Utk bahan baku kita belum bisa buat, tapi at least untuk bahan jadi sebaiknya kita bangun di industri masing-masing produk dalam negeri. Ini adalah momentum krn mumpung impor terganggu,” kata Ardan dalam “First Academy Webinar: After PSBB How Can We Adapt?”, Rabu (8/7).

Ardan yang juga Direktur PT Persada Medika Rata mengatakan pengusaha mesti jeli melihat perubahan gaya hidup masyarakat yang disebabkan oleh Covid-19. Pendapatan sebagian besar masyarakat saat ini sedang tertekan sehingga masyarakat akan mengurangi belanja barang-barang yang lebih mewah. Masyarakat hanya akan melakukan pembelian untuk barang-barang mendasar, seperti makanan, minuman, dan energi gas dan listrik. 

Selain itu, Covid-19 juga membuat masyarakat menahan diri pergi ke luar rumah agar tidak tertular Covid-19.

Karena itu, lanjut Ardan, masyarakat pun banyak melakukan kegiatan secara virtual sehingga kebutuhan terhadap internet meningkat. Teknologi digital yang sebelum Covid-19 hanya menjadi pelengkap, kini menjadi kebutuhan yang esensial bagi masyarakat.

Dia juga memandang tingkat empati masyarakat sedang meningkat saat ini melihat banyak orang yang kehilangan pekerjaan akibat PSBB. Karena itu, Ardan menyarankan supaya perusahaan-perusahaan mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjukkan bahwa mereka berempati kepada masyarakat terdampak Covid-19.

“Sehabis PSBB, orang-orang juga akan memerhatikan kesehatan mereka. Kalau kita melihat foto kita tiga bulan lalu berkumpul dalam satu ruang sempit, kita akan berpikir bagaimana bisa melakukan hal tersebut. Kita sekarang menjaga jara, menggunakan masker, melakukan tes PCR, dan menjaga imunitas. Silakan pengusaha menerjemahkan ini akan seperti apa di bidang industri masing-masing, di transportasi dan internet, ini dampaknya banyak,” imbuh dia.

Karena orang mulai banyak bergantung pada teknologi digital dan mulai memerhatikan kesehatan,  dia mengatakan pelaku usaha sebaiknya mulai mengarah kepada dua hal tersebut.

Dia mencontohkan transformasi kecil dapat dilakukan dengan menggunakan pembayaran secara digital. Pasalnya, pembayaran digital memperkecil potensi sentuhan antara konsumen dan penjual.

Selain itu, toko grocery juga bisa menyediakan penjualan online untuk memenuhi kebutuhan berbelanja tanpa perlu keluar rumah.

“Yang akan memenangi pertarungan adalah orang yang paling cepat melakukan adaptasi. Kita harus cepat melakukan perubahan, tidak ada lagi  waktu untuk menyesali masa lalu. Kita harus cepat berubah, membaca pasar, dan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ucap Ardan.

Menurut Ardan, dalam situasi saat ini, pengusaha sebaiknya tetap tenang dan memastikan bahwa bisnis mereka bisa berjalan. Dia juga menyarankan supaya pengusaha mulai menghitung seberapa besar dampak Covid-19 dan bagian mana yang dapat direstrukturisasi. Selain itu, sebagaimana gaya hidup masyarakat berubah, pengusaha juga mesti mengubah model bisnis mereka.

“Misalnya seminar kan nggak bisa dibuat dengan langsung, contoh bikin webinar dengan target jumlah yang lebih banyak. Keep eyes on new habits, misalnya kalau ada pabrik, kita bisa meningkatkan ikatan dengan pekerja, dengan memberikan makanan bergizi dan sehat kepada mereka,” ucap dia.

Dalam situasi ini, Ardan memandang beberapa sektor masih dibutuhkan, seperti makanan dan minuman, kesehatan, dan e-commerce.

Sementara itu, dia meyakini beberapa sektor yang bergerak lambat akibat pandemi Covid-19 perlahan-lahan akan beradaptasi, seperti transportasi dan jasa keuangan.

Sementara itu, Ardan yang mengelola perusahaan di sektor jasa kesehatan mengakui bahwa dampak Covid-19 kepada sektor ini tidak begitu besar, hanya saja dokter dan masyarakat sempat enggan datang ke rumah sakit. Namun, dengan meyakinkan kesehatan di rumah sakit terjaga, melalui penggunaan hand sanitizer, masker, dan memastikan semua pekerja bebas Covid-19 dengan tes PCR, dia mengatakan bahwa masyarakat mulai tidak ragu datang lagi ke rumah sakit.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN