Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Protokol kesehatan syarat utama dalam masa PSBB transisi di cafe dan resto. Foto ilustrasi: SP/Joanito

Protokol kesehatan syarat utama dalam masa PSBB transisi di cafe dan resto. Foto ilustrasi: SP/Joanito

PSBB Total akan Perparah Kinerja Bisnis Hotel dan Restoran

Sabtu, 12 September 2020 | 20:53 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -  Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengatakan bahwa penerapan kembali PSBB total akan memperparah kinerja bisnis hotel dan restoran. Pasalnya, di tengah PSBB transisi saja, bisnis hotel dan restoran belum kunjung membaik.

Sektor ini, menurut dia, baru bisa menyerap sekitar 30% dari total tenaga kerja sebelum pandemi._

“Masih banyak hotel dan restoran yang tutup. Contoh di mal, boleh buka dengan kapasitas pengunjung 60%, tapi konsumen yang datang tidak lebih dari 20- 30% sehingga banyak restoran tutup kembali, hotel juga begitu,” kata Maulana kepada Investor Daily, Kamis (10/9).

Saat ini, meski okupansi kamar hotel sudah mulai meningkat, harga rata-rata kamar hotel per hari masih belum menunjukkan perbaikan. Pasalnya, permintaan terhadap kamar hotel juga belum bergerak.

Maulana pun meminta pemerintah daerah Jakarta melonggarkan pungutan pajak kepada pengusaha, apabila PSBB total kembali diterapkan.

“Jadi mereka menerapkan PSBB, tapi pajak ditarik semua, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), pajak reklame, pajak STNK (Surat Tanda Nomor Kendaran). Dari mana kita mau bayar pajak kalau bisnis sedang tidak menghasilkan. Ini tidak fair,” kata dia.

Meskipun saat ini pemerintah telah memberikan keringanan kredit modal kerja bagi pengusaha, menurut Maulana, masih banyak pengusaha di sektor hotel dan restoran yang enggan mengambil kredit tersebut.

Pasalnya, pelaku usaha khawatir tidak bisa mengembalikan kredit modal kerja, di tengah permintaan berwisata yang belum kunjung membaik. Apalagi, saat ini, sebanyak 51 negara melarang warganya untuk berwisata di Indonesia.

Dia juga memandang pemberlakuan kembali PSBB total di DKI Jakarta akan berdampak terhadap makin melemahnya permintaan berwisata di daerah.

Saat pandemic Covid-19 belum memasuki Indonesia, hanya terjadi pengurangan kunjungan wisatawan mancangera dari Wuhan, Tiongkok. Namun, begitu pandemic memasuki Indonesia dan Jakarta menerapkan PSBB pada Maret lalu, banyak masyarakat yang membatalkan tiket perjalanan mereka ke berbagai daerah. (hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN