Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu bendungan yang dibangun PUPR. Foto ilustrasi: IST

Salah satu bendungan yang dibangun PUPR. Foto ilustrasi: IST

PUPR Pastikan Pembangunan Bendungan Sesuai Kaidah dan Bermanfaat bagi Masyarakat

Jumat, 9 April 2021 | 04:29 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktur Bendungan dan Danau Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Airlangga Mardjono memastikan pembangunan bendungan di Indonesia telah memenuhi kaidah-kaidah perencanaan dan akan memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Dalam membangun dan mengolah bendungan tentu kita harus berhati-hati karena bendungan merupakan infrastruktur yang sangat besar dan mahal. Sehingga pembangunan bendungan dipastikan sudah memenuhi kaidah-kaidah umum yang berlaku di dunia," ucap Airlangga secara virtual, Kamis (8/4) 

Airlangga melanjutkan, semua kondisi sudah diperhitungkan mulai dari kondisi banjir yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan kemarau yang juga perlu disikapi. Kementerian PUPR telah mendesain agar bendungan yang sudah dibangun tetap aman dalam situasi banjir.

Begitu juga dengan kondisi kemarau yang harus dicermati. Oleh karena itu, bendungan-bendungan yang dibangun Kementerian PUPR harus bisa mengatasi persoalan kekeringan yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia.

Selain itu, kata Airlangga, pihaknya juga sudah memproyeksikan hujan yang akan terjadi di masa-masa mendatang baik yang dipicu oleh perubahan iklim maupun sebab lain. Semuanya sudah diperhitungkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. 

Bahkan dampak dari perubahan iklim ini sudah terasa salah satu contohnya di Bendungan Songputri di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Dari hasil pengamatannya telah terjadi peningkatan debit masuk (inflow) dari semula 43,6 meter kubik per detik menjadi 47,7 meter kubik per detik.

"Hal-hal seperti ini yang juga kita pertimbangkan dalam merencanakan dan melaksanakan serta mengelola Bendungan Songputri ini. Termasuk bendungan-bendungan lain yang juga kita cermati," tutur Airlangga.

Dengan demikian, untuk membangun dan mengolah bendungan terutama dalam situasi mengakomodasi terjadinya perurbahan iklim, beberapa hal perlu dipertimbangkan di antaranya kapasitas, sedimentasi yang tinggi, kemudian bentuk-bentuk pengamanan bendungan semisal pola operasi dari keamanan itu sendiri. Artinya, keamanan ini mengarah pada safety dari struktur bendungan bukan pada kemanan secara fisik.

Untuk itu, dari jumlah bendungan eksisting yang ada sekarang, Kementerian PUPR akan terus menambah jumlah bendungan. Pada tahun 2024 mendatang, PUPR telah merencanakan untuk bisa membangun 75 bendungan di mana 18 bendungan di antaranya sudah selesai.

"Tahun ini, mudah-mudahan kita rencanakan akan mulai kita pengisian awal di 13 bendungan yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. 

Airlangga menekankan bahwa bendungan merupakan investasi yang sangat mahal. Sehingga perlu diperhitungkan secara seksama seluruh dampak atau konsekuensi pembangunannya mulai dari sisi teknis, ekonomi, sosial dan finansial.

Perhitungan secara matang tersebut dapat dilihat dari alokasi belanja Kementerian PUPR di bidang infrastruktur terutama bendungan. Sejak tahun 2015 alokasinya cenderung meningkat kecuali di 2020 yang agak menurun akibat situasi pandemi Covid-19.

Namun, pada tahun 2021 alokasinya kembali naik. Gambaran ini kata dia, memperlihatkan bahwa pemerintah betul-betul serius untuk membangun infrastruktur sumber daya air (SDA) khususnya bendungan.

Ditambah, dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian PUPR melalui Ditjen SDA juga sudah memiliki asosiasi ahli bendungan yang sekarang ini jumlahnya mencapai sekitar 2.215 orang namun baru 46% yang bersertfikat.

"Jadi seusai dengan Peraturan Menteri PUPR Nomor 27 Tahun 2015, semua SDM yang berkecimpung di bidang bendungan harus mmeiliki sertifikat.

Di sisi lain, hal ini sekaligus menjadi tantangan kita ke depan. Karena tentu, tidak hanya dalam pelaksanaan bendungan, para ahli bendungan ini juga kita harapkan bisa berpartisipasi dalam pengelolaan bendungan," ungkap Airlangga.

Lebih jauh, penanganan pengelolaan infrastruktur SDA juga harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan baik pada saat menghadapi kelebihan air maupun kekurangan air.

"Jadi, bendungan ini bukan sebagai antiobiotik yang langsung menyembuhkan penyakit, tetapi semuanya harus dilakukan dengan melibatkan para stakeholder baik dari pemerintah pusat, daerah, dan elemen masyarakat harus bersatu mengelola wilayah sungai. Sehingga air bisa dimanfaatkan dengan baik dan tidak menimbulkan dampak negatif pada saat terjadi bencana," tutupnya.

Tata sumber-sumber air

Sementara itu, terkait daerah-daerah yang masih terjadi kekeringan, Pengamat Tata Kota Niworno Joga menilai penataan dan pembenahan sungai-sungai di Indonesia harus didorong karena sungai merupakan salah satu tempat sumber air baku yang bisa dioptimalkan.

Begitu pula dengan perlindungan atau konservasi terhadap sumber-sumber matai air di pegunungan atau bukit. Kasus di Nusa Tenggara Timur telah menunjukkan bahwa adanya kerusakan hutan sehingga perlu dibangun program pembenahan kawasan hutan. 

Selain itu, perlu juga dilakukan penataan terhadap situ, embung, dan waduk yang kini sudah beralih fungsi. Di kawasan Jabodetabek misalnya, situ berubah menjadi permukiman. Karena itu, bagi kota-kota lain, Joga mendorong kepada pemerintah daerah untuk ikut melindungi dan mengoptimalkan situ, embung, dan waduk. Termasuk pantai agar tidak menjadi tempat sampah.

Dengan begitu, maka sumber air di ruang terbuka hijau di kabupaten/kota kemungkinan akan dapat dioptimalkan dan tidak terbuang sia-sia. Dengan ketersediaan air yang melimpah, tentu ia berharap air tersebut dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan warga.

"Kalau ini bisa dilakukan, bukan tidak mungkin kita punya mimpi besar bahwa tidak ada lagi daerah yang kekeringan saat kemarau, tidak ada lagi banjir karena semua air tertampung, dan mungkin ke depan air itu bisa kita minum langsung dari keran," pungkasnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN