Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Bendungan Tapin di Desa Pipitak Jaya, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.  Foto ilustrasi: Humas Barata Indonesia

Proyek Bendungan Tapin di Desa Pipitak Jaya, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Foto ilustrasi: Humas Barata Indonesia

PUPR Targetkan 75 Bendungan pada 2024, Ini Dia Fungsinya

Jumat, 9 April 2021 | 05:32 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direkrorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) dalam kurun waktu enam tahun terakhir telah membangun 61 bendungan. Kemudian pada tahun 2024, pemerintah menargetkan membangun 75 bendungan.

Banyaknya bendungan yang sudah dan akan dibangun pemerintah menunjukkan infrastruktur air menempati posisi dan peran penting dalam kehidupan dan pelayanan kepada masyarakat. Lalu apa saja sebetulnya fungsi dari bendungan? Berikut penjelasan Direktur Bendungan dan Danau Ditjen SDA Kementerian PUPR, Airlangga Mardjono.

Menurut Airlangga, bendungan memiliki fungsi dan manfaat yang sangat banyak. Bahkan infrastruktur air ini sudah memainkan peran kunci sejak tiga abad sebelum masehi. Namun fungsi utamamnya adalah untuk menampung air pada saat surplus.

Bendungan juga dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan baik industri, irigasi, dan pengendalian banjir pada saat ketersediaan air mulai langka.

Selain itu, bendungan juga dapat berfungsi untuk menampung kelebihan air terutama pada saat musim hujan. Pria yang biasa disapa Ari ini mencontohkan sebagaimana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) belum lama ini.

"Ada cerita kecil. Ternyata salah satu kabupaten di Kalsel yaitu Tapin, dampak kerusakan banjirnya sangat minim dibanding kabupaten-kabupaten lain dikarenakan di sana ada Bendungan Tapin. Jadi dia sudah bisa mengisi air banjir ke dalam bendungan. Artinya, sudah bisa bermanfaat," papar Ari dalam kegiatan Bedah Buku 75 Bendungan, Kamis (8/5).

Untuk fungsi besarnya, Ari menyebutkan bahwa fungsi bendungan terbagi menjadi dua yaitu fungsi bendungan yang bersifat multifungsi dan bendungan yang berfungsi untuk irigasi. Sebagai fungsi irigasi, Kementerian PUPR mencatat sebanyak 48% bendungan di dunia memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan irigasi.

Sementara luas daerah irigasi di Indonesia yang mendapat suplai air dari bendungan luasnya mencapai 762 ribu hektare. Tahun 2024 mendatang tepatnya setelah bendungan yang diprogramkan pemerintah selesai, maka luas daerah irigasi Indonesia akan bertambah menjadi 1,3 juta hektare.

"Ini nanti nama daerahnya akan berubah menjadi daerah irigasi premium. Tadinya, daerah irigasi mengandalkan air yang mengalir di sungai, kemudian kalau sudah ada bendungan akan lebih menjamin ketersediaan air di setiap musim," jelas Ari.

Di samping itu, bendungan juga dapat digunakan untuk menyuplai air baku. Di beberapa daerah di belahan dunia, bendungan banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku perkotaan termasuk di Indonesia.

Hal demikian, juga sedang dibangun di Indonesia di mana dua bendungan secara khusus akan difungsikan untuk menyuplai air baku ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan akan melayani masyarakat. Kedua bendungan tersebut Bendungan Karian di Banten dan Bendungan Sidan di Bali.

Lebih jauh, bendungan juga bisa digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Menurut Ari, 20% dari bendungan di dunia berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air. Yang terbesar adalah Three Gorges Dam di China yang bisa membangkitkan listrik sebesar 22.500 megawatt.

Sedangkan di Indonesia, dengan rampungnya program pembangunan bendungan hingga 2024 nanti, maka potensi energi listrik yang akan dikembangkan menjadi 6.323 megawat. Terakhir, bendungan berfungsi sebagai pengendali banjir.

"Ini yang sedang kita programkan untuk Bendungan  Ciawi dan Sukamahi yang mengggunakan tipe bendungan kering. Kita berharap, bendungan-bendungan itu dapat mereduksi atau mengurangi dampak bencana banjir di DKI Jakarta sebagai wilayah hilirnya," ujar Ari.

200 bendungan di Indonesia

Pada kesempatan tersebut, Ari juga melaporkan bahwa saat ini lebih dari 45.000 bendungan besar tersebar di lebih dari 150 negara termasuk Indonesia yang kurang lebih memiliki 200 bendungan. Hingga kurun waktu ini, Kementerian PUPR sudah membangun 61 bendungan baru dan pada tahun 2024 akan bertambah menjadi 75 bendungan.

"Kalau kita lihat posisi Indonesia dengan negara lain dalam bidang bendungan ini, yang tercatat di organisasi bendungan besar di Indonesia baru 138 bendungan. Ini yang sedang kita rekonsiliasi terus datanya," ucapnya.

Ia memperkirakan, hal demikian terjadi lantaran terdapat perbedaan kriteria atau persepsi antara standar internasional di International Comission on Large Dams (Icold) dan bendungan-bendungan yang ada di Indonesia.

Di Indonesia, sambung Ari, tercatat hanya 138 bendungan padahal Indonesia mempunyai lebih dari 200 bendungan. Kendati begitu, jumlah tersebut juga masih kecil bila dibanding dengan China dan Jepang atau setengah persen dari China dan 4,4 persen dari Jepang. Hal ini dilihat dari sisi jumlah.

Dari sisi ketinggian bendungan atau tinggi tubuh konstruksi bendungan, Indonesia patut berbangga karena Bendungan Batu Tegi di Lampung masuk dalam The World Highest Dam. Kemudian dari sisi kapasitas tampung diwakili Bendungan Jati Luhur karena memiliki kapasitas tampung yang sangat besar.

Bukan hanya itu, Bendungan Batu Tegi juga tercatat sebagai bendungan yang memberikan pelayanan daerah irigasi paling luas. Sedangkan bendungan dengan kapasitas pelimpah paling besar berada di India.

"Bendungan kita masuk juga di deretan ini diwakili oleh Bendungan Jatigede dengan kapasitas pelimpahan sebesar 4.400 meter kubik per detik," tutup Ari.

Bendung penting hadapi Perubahan iklim

Sementara itu, Pengamat Tata Kota Nirwono Joga berpendapat, dengan jumlah bendungan di Indonesia yang baru mencapai 200-an, jika dibanding dengan China, Jepang, dan Amerika yang memiliki curah hujan rendah namun berlomba-lomba membangun banyak bendungan, salah satu pemicunya didorong oleh tantangan krisis air bersih.

Joga menambahkan, banjir dan krisis air bersih merupakan dua persoalan perubahan iklim yang sebernanya sudah terjadi di depan mata. Artinya, pada saat musim hujan dapat dilihat bencana banjir terjadi di kota dan kabupaten. Sebaliknya, pada saat musim kemarau, terjadi kekeringan di lahan-lahan pertanian di daerah kabupaten/kota.

Terlebih, 80% kabupaten/kota di Indonesia dari total 514 kabupaten/kota semuanya berlokasi di dekat sumber air baik sungai, pantai, situ maupun waduk. Kota-kota seperti Jabodetabek, Surabaya, Semarang, Makassar dan Medan merupakan kota yang jika tidak segera diatasi dalam konteks perubahan iklim, maka kota-kota tersebut terancam bencana.

"Lalu bagaimana mungkin kita swasembada pangan dan kota-kota kita bisa bertahan terhadap bencana perubahan iklim, kalau ketahahan airnya tidak dibangun," kata dia.

Oleh karena itu, keberadaan bendungan menjadi hal penting untuk mendukung ketahanan air kabupaten/kota dan wilayah sekitarnya. Terkait bendungan, Joga juga menyoroti bahwa kendala utama dalam pembangunan bendungan adalah tersediaan lahan, tata ruang, tata kota dan wilayah serta kendala pembiayaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN