Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga menjaring Ikan di tengah banjir. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Warga menjaring Ikan di tengah banjir. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

PUPR Upayakan Pendekatan Struktural Atasi Banjir Jakarta dan Sekitarnya

Jumat, 26 Februari 2021 | 16:05 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengedepankan upaya-upaya struktural dalam mengatasi banjir di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sekaligus mendorong pemanfaatan ruang secara disiplin.

"Dari PUPR, kita lebih fokus pada pendekatan struktural. Jadi, misalkan kita membangun bendungan, tanggul, kolam kemudian pompa-pompa banjir," kata Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi Industri dan Lingkungan sekaligus Juru Bicara Kementerian PUPR Endra S. Atmawidjaja secara virtual, Jumat (26/2).

Di luar itu, lanjut Endra, upaya struktural juga harus diimbangi dengan pendekatan non-struktural terutama mengenai pemanfaatan ruang dan perilaku masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembersihan saluran-saluran drainase dari sampah.

Khusus pendekatan struktural di kawasan Jabodetabek, PUPR saat ini tengah membangun Waduk Ciawi dan Sukamahi di sisi hulu. Kemudian, di Kali Bekasi sedang direncanakan pembangunan Bendungan Narogong di hulu dari Kali Bekasi. Sebab, salah satu penyebab luapan Kali Bekasi yaitu masuknya air Sungai Cikeas dan Cileungsi yang diharapkan agar dapat dikurangi dengan keberadaan waduk.

Di provinsi-provinsi lain seperti di Kalimantan Selatan (Kalsel) juga dapat dilihat salah satunya di Kabupaten Tapin yang bendungannya baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo, kini dampak banjirnya lebih terkendali dibanding 10 kabupaten/kota yang terkena banjir di Kalsel.

"Jadi, karena ada bendungan kita bisa lihat masyarakat di Kabupaten Tapin lebih terinci. Kemudian di Bandung, saya kira kita lakukan beberapa langkah misal normalisasi sungai di bagian hulu, tengah, dan berlaku di Sungai Bekasi di Pondok Gede," ucapnya.

Bagian dari sistem Kali Bekasi itu bakal dinormalisasi tahun ini lantaran tahun lalu terjadi banjir di tempat berbeda. Selain sebagai bagian dari upaya struktural, PUPR juga membangun sodetan dan pompa-pompa banjir.

Adapun penanganan banjir terutama di Jakarta dan Jawa Barat, Endra mengungkapkan bahwa kendala utamanya berada pada aspek penegakan hukum di dalam pemanfaatan ruang.

Hal itu bisa dilihat di sungai-sungai yang semakin menyempit. Di Ciliwung, misalnya. Dari semula lebarnya 45-50 meter, kini tinggal 15-20 meter akibat sempadan dan bantaran sungai yang diisi oleh permukiman warga.

"Jadi, ini yang barangkali kita perlu lebih disiplin sehingga masyarakat bisa beralih dari bantaran sungai untuk tinggal di tempat-tempat layak dan sungai-sungainya bisa kita normalisasi dengan mengembalikan kapasitasnya ke semula," terang Endra.

Lebih jauh, debit sungai juga perlu dilebarkan dan diperkuat tanggulnya. Termasuk PUPR akan menyiapkan rumah susun sehingga masyarakat bisa pindah ke tempat yang lebih layak, aman dan lebih sehat sebagai upaya melindungi dari bahaya banjir.

Untuk itu, PUPR mendukung penuh seluruh upaya Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN) untuk penegakan hukum di area-area yang sensitif terhadap bencana termasuk di bantaran sungai. Begitu pula dengan pemerintah daerah yang diharapkan lebih berhati-hati dalam menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) dengan memerhatikan risiko banjir.

Jangan sampai daerah-daerah yang rentan ataupun berisiko banjir tinggi diterbitkan IMB-nya. Bukan hanya itu, masyarakat juga harus tertib di samping melengkapi IMB, dari sisi partisipasi publiknya mereka juga harus aktif. Sebab, banjir bukan terjadi akibat curah hujan tinggi, tetapi dari sisi hulunya sudah mulai terdegradasi.

Kemudian, sungai-sungai yang menyempit dan saluran drainase yang tersumbat, warga juga perlu lebih aktif untuk memastikan saluran-saluran berfungsi dengan baik agar jangan membuang sampah sembarangan.

"Saya kira, ini merupakan upaya bersama. Banjir ini masalah kita bersama. Jadi sekali lagi, apa yang kami lakukan terhadap pendekatan struktural itu akan mengurangi risiko banjir. Tapi, kalau ditambah upaya-upaya masayarakat dengan pemanfaatan ruang secara disiplin, saya kira hasilnya akan lebih baik," ujarnya.

Menurutnya, beberapa peristiwa banjir yang terjadi tidak hanya di Jabodetabek tetapi juga di beberapa kota besar lain seperti Banjarmasin dan Manado perlu dilihat sebagai fenomena urbanisasi yang tinggi dan cepat. Sehingga fenomena sekarang adalah kondisi datar bangunan yang sudah melampaui.

"Artinya, tidak bisa lagi kita melihat air meresap ke dalam tanah sehingga perlu upaya lebih serius di dalam pemanfaatan ruang agar ke depan kota-kota kita menjadi lebih baik dan tagguh menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir," pungkas Endra. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN