Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rachmat Gobel. Foto: IST

Rachmat Gobel. Foto: IST

Rachmat Gobel: Industri Strategis Perlu Perhatian Lebih Besar

Selasa, 20 Oktober 2020 | 21:25 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Kehadiran UU Cipta Kerja (Ciptaker) perlu memperkuat industri strategis nasional. Kemudahan investasi yang diberikan kepada para investor, lokal dan asing, jangan sampai melupakan penguatan industri strategis yang sudah dan akan beroperasi di Indonesia.

"Peta jalan industri nasional perlu segera dijelaskan kepada masyarakat," ujar Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel kepada Beritasatu, Selasa (20/10/2020).

Chairman Panasonic Gobel Indonesia yang kini memilih profesi sebagai wakil rakyat ini mengingatkan pemerintah untuk memberikan perhatian lebih besar pada industri strategis.

Industri strategis yang dimaksudkan bukan saja sejumlah BUMN yang selama ini dikenal sebagai industri strategis, di antaranya PT Krakatau Steel Tbk, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Pindad, PT INKA, PT Dahana, dan PT INTI. Rachmat Gobel menjelaskan, industri penting yang sangat besar pengaruhnya bagi kesejahteraan bangsa bangsa perlu diperlakukan sebagai industri strategis.

BUMN yang bergerak di bidang energi seperti Pertamina, PLN, dan PT PGN Tbk adalah juga industri strategis. Demikian pula dengan BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi seperti Telkom Tbk.

Selain itu, kata Rachmat, ada industri strategis di berbagai bidang, khusus yang bergerak di pupuk dan petrokimia seperti PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Sriwijaya, dan PT Pupuk Iskandar Muda. Semua perusahaan ini sangat penting untuk diperkuat. Produksi pupuk perlu dinaikkan agar setiap petani mendapatkan pupuk pada waktunya dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

"Pada masa akan datang, permintaan terhadap energi dan pangan akan meningkat tajam," ungkap Rachmat.

Di situlah strategisnya industri yang bergerak di bidang energi dan pupuk. Dalam roadmap industri perlu digambarkan jelas kaitan antara industri migas, petrokimia, pupuk, dan industri hilir lainnya.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup besar di bidang pangan dan energi. Jika industri strategis dibangun dengan roadmap yang jelas, kata Rachmat, Indonesia akan meraih kesejahteraan.

Setiap industri nasional, demikian Rachmat, perlu memiliki kemampuan lebih. Industri otomotif dan elektronik harus memiliki kemampuan untuk memproduksi produk pertahanan jika negara membutuhkan. Hal ini sudah diterapkan di negara maju.

Pemerintah sudah meluncurkan program Making Indonesia 4.0. Ada lima industri yang dibangun, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri elektronik, industri otomotif, dan industri petrokimia. Kemudian, pandemi Covid-19 membuka mata pemerintah akan minimnya kapasitas medis. Pemerintah menambahkan dua jenis industri, yakni farmasi dan alat kesehatan. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN