Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Kementerian BUMN. (Foto ilustrasi: Kementerian BUMN)

Kantor Kementerian BUMN. (Foto ilustrasi: Kementerian BUMN)

Rasio Utang BUMN Turun Dinilai Baik Bagi Perekonomian

Selasa, 5 Juli 2022 | 17:06 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Turunnya rasio utang BUMN dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian. Secara umum utang BUMN menurun dari 39% menjadi 35%.

Pengamat ekonomi Piter Abdullah menilai bahwa penurunan utang secara umum adalah hal positif.

Advertisement

Baca juga: Erick: Buah Transformasi, BUMN Cetak Laba Rp 126 T, Rasio Utang Turun Jadi 35%

"Rasio utang yang menurun sudah tentu adalah hal baik, meski harus dilihat yang turun BUMN yang mana? Kenapa turun? Bagaimana kinerja BUMN-nya? Secara umum memang turunnya rasio utang itu bagus," ujar Piter saat dihubungi wartawan Selasa (5/7/2022).

Menurut Piter, karakteristik dan kinerja tiap BUMN berbeda. Begitupun performa masing-masing BUMN dalam melunasi utang-utangnya. Ada BUMN yang terlilit utang akibat kesalahan pengelolaan di masa lalu. Ada pula utang yang sifatnya untuk mendukung kinerja BUMN terkait penugasan dari negara. Ini seperti yang terjadi di BUMN karya.

Piter menilai, langkah yang diambil masing-masing BUMN dalam melunasi utang berbeda-beda. Ini seperti yang dilakukan BUMN karya yang mana asetnya terlalu banyak. Sehingga penjualan aset dapat menjadi langkah efektif untuk menurunkan rasio utang BUMN karya tersebut.

"Untuk BUMN karya PR utama adalah cash flow. Mereka punya aset terlalu banyak. Beban utang terlalu sulit ditutup dengan pendapatan dari aset. Aset harus dikurangi untuk mendapatkan uang mengurangi utang. Ini agar cash flow lebih sehat," ujar Piter.

Hal yang berbeda terjadi di Garuda. Akibat kesalahan pengelolaan di era lalu, Garuda terlilit persoalan utang namun minus aset. Ini terjadi akibat kebijakan sewa pesawat yang tidak tepat dan transparan. Oleh karenanya, langkah efektif adalah tambahan dana yang digunakan untuk restrukturisasi organisasi yang lebih efektif. "Untuk Garuda, harus ada suntikan modal baru," ujar Piter.

Senada dengan Piter, pengamat korporasi dari Universitas Indonesia Fatimah Ibtisam menilai rasio utang yang menurun menandakan kinerja positif dalam organisasi BUMN.

Dia menilai langkah strategis BUMN yang memperbaiki tata kelola perusahaan yang lebih efektif dan efisien akan menjadi kunci peningkatan kinerja BUMN di masa depan.

Baca juga: Erick Thohir Ungkap Investor UEA Berminat Investasi di Indonesia  

"Rasio utang yang menurun jadi sinyal yang baik dari BUMN. Ada optimisme positif bahwa kinerja BUMN pascapandemi ini terus meningkat. Ini seiring dengan sejumlah kebijakan BUMN dalam berinovasi dari sisi bisnis model. Di samping pula perubahan yang terkait dengan tata kelola perusahaan yang lebih baik," ujar Tisam.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN